Selamat Datang | Selamat datang "Mahasiswa Baru Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 2017" - Selamat Bergabung | Semoga artikel dan isi web HIMAPES Unsri ini dapat memberikan manfaat |17 AGUSTUS 1945-2016 "Perjuangan Bangsa Masih Berlanjut" MERDEKA!!! | Terima kasih sudah mengunjungi web kami | Viva Historia... #noHistory noFuture

Tuesday, 17 September 2019

Kemunduran Komunisme di Masa kolonial Belanda : Bagian 3

Komunis: Melemah dan Mengering
Oleh:
Dwiki Septiandini
Fieka Nadya
Ari Supriyatno

Karena tindakan PKI yang cukup Radikal akhirnya  timbul gerakan anti komunis dan pemerintah kolonial Belanda mulai mengambil tindakan tegas. Ketegasan itu diwujudkan dengan penangkapan dan pengasingan terhadap pimpinan komunis dari Indonesia. Diawali dengan Sneevliet tahun 1919. Tan Malaka tahun 1922 dibuang dan diusir dari Indonesia ,sedangkan Semaun pada tahun 1923.  Dengan demikian semua pemimpin PKI seperti Darsono, Ali Archam, Alimin, Musso merasa terancam. Pada Konggres PKI tanggal 11-15 Desember 1924 di kota Gede Yogyakarta, dibahas mengenai rencana gerakan bersama di seluruh Indonesia. Rencana pemberontakan ini pada awalnya tidak memperoleh persetujuan Komintern. Aksi-aksi seperti pemogokan mendapat perhatian serius oleh pemerintah kolonial Belanda bahkan rapat-rapat PKI juga dibubarkan (Shiraishi,1997:432).

Tan Malaka Sang Patriot Garis Kiri
Sumber: google.com/image

Pada 25 Desember 1925, pemimpin-pemimpin utama PKI, Sardjono, Boedisoetjitro, Winanta, Moesso, dan beberapa lainnya mengadakan pertemuan di Prambanan, mereka memutuskan untuk membuat rencana pemberontakan yang konkret dan menyerukan semua anggota partai untuk menciptakan suatu struktur partai bawah tanah. PKI memimpin sebuah pemberontakan yang nantinya akan menentukan nasib, bukan hanya PKI, tetapi juga pergerakan pada umumnya.[1] 

“Selama tahun 1925, unsur-unsur yang lebih mengekstrim dalam Partai Komunis di bawah pengawasan Dahlan dan Soekra, dua pemimpin yang menolak patuh kepada kepemimpinan yang tetap. Mereka terus menghasut dicetuskannya revolusi dan memakai metode-metode teoritis. Dalam usaha-usahanya, mereka didukung oleh dua pemimpin penting yang sudah mapan, Alimin dan Musso. Kelompok ini berhasil menguasai suatu rapat komisi pelaksanaan partai tersebut dan para pemimpin persatuan-persatuan dagang pokok di bawah pengawasan komunis, yang diselenggarakan di Candi Prambanan (antara Yogyakarta dan Surakarta). Pada pertengahan bulan Oktober 1925. Sebagai hasilnya, revolusi ditetapkan akan diadakan segera (George McTurnan Kahin, 1995. Hal. 103).

Januari 1926 Musso, Boedisoetjitro, dan Soegono rencananya akan ditangkap oleh Gubernur Jendral van Limburg Stirum tetapi mereka telah pergi ke Singapura. Kekacauan hari demi hari semakin memuncak dan hampir semua pimpinan PKI berada di luar Indonesia, seperti di Singapura ada Alimin, Musso, Boedisoetjitro, Soegono, Subakat, Sanusi, dan Winata. Sedangkan Tan Malaka di Manila dan Darsono di Uni Soviet. Akhirnya “PKI melakukan gerakan dengan “gaya lokal” dan aksi lokal (local action) yang di antaranya tidak banyak berkaitan dengan komunisme teoritis. Di Banten partai ini menjadi Islam yang berlebih-lebihan. PKI berkembang pesat di Sumatra dan Jawa tanpa koordinasi yang kuat, ketika partai ini semakin bertambah menarik bagi unsur-unsur masyarakat pedesaan yang menyukai kekacauan”(M. C. Ricklefs, 2005; 271).

Alimin kemudian ke Manila untuk menemui Tan Malaka, selaku wakil Komintern untuk wilayah Asia Tenggara dan Australia. Dengan harapan rencana itu akan mendapat dukungannya, ternyata di luar dugaan Tan Malaka menolak keputusan Parambanan dengan alasan: 1) Situasi revolusioner belum ada; 2) PKI belum cukup berdisiplin; 3) Seluruh rakyat belum berada di bawah PKI; 4) Tuntutan/sumbangan konkret belum dipikirkan; 5) Imperialisme internasional bersekutu melawan komunisme.[2]

Reaksi Tan Malaka membuat perpecahan dalam organisasi PKI, tetapi Alimin dan Musso tidak gentar. Kemudian Alimin dan Musso pergi ke Moskow untuk membahas tentang keputusan Prambanan 16 Maret 1926. Alih-alih mendapat dukungan sebaliknya mereka harus diindoktrinasi lagi. “Alimin dan Musso tiba di Malaya melalui Kanton pada pertengahan bulan Desember 1926, setelah aksi terjadi. Pada tanggal 18 Desember 1926 mereka ditahan orang Inggris di Johor dan tidak kembali ke Indonesia lagi[3].

Bagai ayam kehilangan induknya, PKI tanpa pemimpin yang militan. Kegiatannya kacau, ditambah lagi para anggota bingung ikut Tan Malaka atau Alimin-Musso. Tidak adanya koordinasi para pemimpin ekstrimis, sebut saja Sardjono dan kawankawan merasa berhasil menguasai dan coba mempertahankan pengaruh mereka. Bahkan Suparjo yang kembali ke Indonesia untuk memberitahukan hasil diskusinya dengan Tan Malaka dan Subakat tidak dihiraukan. Walaupun rencana pemberontakan ditunda tetapi akhirnya meletus juga pada malam hari tanggal 12 November 1926 di Jawa Barat (Banten, Priangan) dan menyusul 1 Januari 1927 di Sumatra Barat. Pemberontakan di Batavia dapat ditumpas dalam waktu satu hari. Di Banten dan Priangan penumpasan selesai pada bulan Desember. Sedangkan di Sumatra dapat ditumpas selama tiga hari dan mendapat perlawanan yang relatif kuat. Menurut Ricklefs di Jawa seorang Eropa tewas begitu pula di Sumatra. “Sekitar 13.000 orang ditangkap, beberapa orang ditembak, kira-kira 4.500 orang dijebloskan ke dalam penjara dan 1.038 orang dikirim ke kamp penjara yang terkenal mengerikan di Boven Digul, Irian, yang khusus dibangun pada tahun 1927 untuk mengurung mereka.”PKI hancur dan dilarang oleh pemerintah Kolonial Belanda.[4]

Dari pengantar  diatas terdapat beberapa perbandingan mengenai Partai Komunis Indonesia dengan Organisasi-organisasi pergerakan lain. PKI merupakan salah satu organisasi yang terbentuk atas prakarsa dari orang-orang luar seperti H.J.M Snivleet dan rekan-rekannya, bukan golongan bumi putera, sehingga segala sesuatunya selalu mendapatkan masukan dari orang-orang luar. Jadi bisa kita tarik kesimpulan bahwa organisasi PKI ini segala akar pemikirannya berasal dari luar. Berbeda dengan organisasi seperti Budi Utomo yang bersifat kedaerahan dan menjunjung segala sesuatu yang berbau kedaerahan terutama daerah Jawa.

Tokoh ISDV/PKI terlalu menonjolkan unsur internasional dalam program perjuangan PPKR, Sarekat Islam mengutamakan unsur “Islam” sebagai landasan untuk mempersatukan bangsa, sedangkan Sarekat Hindia (Insulinde) justru menekankan kepada unsur “kenasionalan”sebagai unsur yang harus lebih dipentingkan daripada pertimbangan-pertimbangan “keagamaan”, “perjuangan kelas “ dan “kedaerahan” dalam usaha untuk membangkitkan aspirasi nasional dan kesadaran sosial. Alur gerakan PKI secara langsung dikendalikan oleh moscow atau dari luar negeri, karena pada waktu itu pusat dari paham komunis itu sendiri adalah Moscow (Rusia) yang kemudian menyebar keseluruh dunia termasuk wilayah daratan Asia terutama Cina, Korea Utara dan Indonesia itu sendiri. Dari beberapa buku yang kami baca banyak sekali yang menyebutkan tentang betapa radikalnya tindakan PKI itu seperti melakukan berbagai macam pemberontakan yang pada akhirnya terjadi pada tahun 1926 yang merupakan tanda kehancuran bagi PKI itu sendiri.

Adapun tujuan berdirinya PKI adalah untuk membentuk sebuah negara yang berpaham komunis. Dalam hal ini Indonesia menjadi sasarannya karena sebagian besar penduduk Indonesia adalah kaum buruh/petani (proletar) sehingga sesuai dengan tujuan PKI yakni tergabung dalam Proletar dunia. Selain itu mereka juga dalam mencari perhatian dengan masyarakat dengan cara membangun konflik di dalam masyarakat maupun tubuh keanggotaan PKI itu sendiri.


Daftar Pustaka

George McTurnan Kahin. 1995.Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia: RefleksiPergumulan Lahirnya Republik. UNS Press dan Pustaka Sinar Harapan.
M.C. Ricklefs. 2005. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Poesponegoro , Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia V – Zaman Kebangkitan            Nasional dan Masa Hindia Belanda . –cet-2 Edisi Pemuktahiran. Jakarta : Balai   Pustaka.
             .1991. Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI, Bahaya Laten Komunisme di Indonesia, Jilid I, Jakarta.
Shiraishi, Takashi. 1997. Zaman Bergerak: radikalisme rakyat di Jawa, 1912-1926. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Soe Hok Gie. 2005. Orang-orang Di Persimpangan Kiri Jalan. Yogyakarta. Bentang Pustaka.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28277/4/Chapter%20II.pdf, (diakses pada hari senin,10 maret 2014, pukul 15:00 WIB).








[1] Op. Cit. Hal, 436
[2] Soe Hok Gie. Orang-orang Di Persimpangan Kiri Jalan. Yogyakarta. Bentang Pustaka. 2005. hlm.10-11. Untuk kejelasan alasan Tan Malaka baca, Tan Malaka. Aksi Massa. Jakarta. CEDI dan Aliansi Press. 2000. Buklet ini ditulis Tan Malaka pada pertengahan tahun 1926. berisi pokok-pokok pikirannya setelah berkeliling Jawa dan Sumatra, tepat sebelum aksi 1927 meletus.
[3] George McTurnan Kahin. op.cit. hlm.107
[4] M. C. Ricklefss. Op. Cit. Hal. 272.

Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Recent Posts