Selamat Datang | Selamat datang "Mahasiswa Baru Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 2017" - Selamat Bergabung | Semoga artikel dan isi web HIMAPES Unsri ini dapat memberikan manfaat |17 AGUSTUS 1945-2016 "Perjuangan Bangsa Masih Berlanjut" MERDEKA!!! | Terima kasih sudah mengunjungi web kami | Viva Historia... #noHistory noFuture

Sunday, 4 August 2019

Kerajaan Sriwijaya Berbasis Kemaritiman


    Oleh : Diki Tri Apriansyah Putra

                 1. Kerajaan Maritim Sriwijaya
    Kawasan pesisir timur Pulau Sumatera dilihat dari sudut pandang geohistoris memiliki posisi yang sangat strategis dan sangat berpengaruh dalam membentuk konfigurasi persebaran situ-situs pemukiman di Sumatera. Kedudukannya yang terletak didalam jalur pelayaran antara India dan Cina telah memungkinkan daerah-daerah pesisir di wilayah ini menjadi tempat persinggahan para pedagang dari barat ke timur serta sebaliknya (D.M. Poesponegoro dan N. Notosusanto, 2011 : 65).
 Dengan bertambah pesatnya aktifitas perdagangan di sekitar jalur pelayaran Selat Malaka, menjadikan kawasan di sekitar Timur Pulau Sumatera strategis untuk didirikan sebuah kerajaan besar ditengah lalu lintas jalur perdagangan antara barat dan timur.


 Dengan bertambah pesatnya aktifitas perdagangan di sekitar jalur pelayaran Selat Malaka, menjadikan kawasan di sekitar Timur Pulau Sumatera strategis untuk didirikan sebuah kerajaan besar ditengah lalu lintas jalur perdagangan antara barat dan timur. 
Berdirinya Kerajaan Sriwijaya ditandai dengan datangnya seorang raja bernama Dapunta Hyang Manalap Siddhayatra yang berangkat dari Minanga pada 11 paro terang bulan waisaka, tahun 604 S (682 M) dengan membawa tentara dua laksa lalu mendirikan sebuah wanua. Peristiwa ini terekam dalam sebuah prasasti tertua yang ditemukan di Palembang dengan nama Prasasti Kedukan Bukit. Banyak para peneliti menganggap bahwa prasasti ini merupakan akta dari kelahiran  Kerajaan Sriwijaya.



    Seiring berjalannya waktu, Kerajaan Sriwijaya tumbuh pesat akibat letak wilayahnya yang strategis dengan kemampuannya dalam menguasai lalu lintas perdagangan dan mendirikan bandar-bandar dagang internasional. Selain didukung wilayah strategis yang terletak di jalur perdagangan, Kerajaan Sriwijaya juga ditopang dengan kekuatan ekonomi penghasil berbagai komoditas penting seperti kapur barus, emas, gambir, gading, kayu-kayuan, wangi-wangian, obatan-obatan dan rempah-rempah yang didapat dari daerah pedalaman ulu melalui jalur sungai Musi. Pusat Kerajaan Sriwijaya yang berjantung di Palembang memiliki peranan cukup penting dalam segi ekonomi, karena di Palembanglah tempat bertemunya para pedagang yang berasal dari pedalaman Sumatera bagian Selatan dengan para pedangang internasional, sehingga terjadilah kontak jual-beli antara komoditas lokal dan komoditas internasional.
Inilah yang menjadikan Sriwijaya sebagai kerajaan bercorak maritim dengan contoh mengembangkan bandar dagang internasional sebagai pelabuhan transito yang ramai disinggahi kapal-kapal asing untuk mengambil perbekalan serta melakukan aktivitas perdagangan. Sriwijaya memperoleh banyak keuntungan dari komoditas ekspor dan pajak kapal singgah. Sehingga mengantarkan kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kegemilangannya sebagai kerajaan salah satu kerajaan Maritim terkuat di Nusantara.
Apabila membayangkan kondisi kegemilangan Sriwijaya dengan bangunan-bangunan besar beserta candi-candi megah seperti yang ada di Jawa dan wilayah Asia Tenggara lainnya, maka itu termasuk kesalahan besar. Karena menurut Anthony Reid menyebutkan bahwa “Sebenarnya Sriwijaya terdiri dari sejumlah pelabuhan yang saling berhubungan di sekitar Selat Malaka termasuk Kalah di Semenanjung Malaya. Bukan satu pusat besar penghasil candi dengan skala seperti Angkor Wat ataupun Pagan (Anthony Reid, 2014: 2).
Sriwijaya merupakan kerajaan yang bercorak kemaritiman, oleh karena itu otomatis pembangunan serta aktivitas perpolitikan Sriwijaya ditujukan pada permasalahan kemaritiman. Walaupun terkadang Sriwijaya juga dianggap sebagai kerajaan Agraris karena kayanya sumber daya agararia di daerah pedalaman, tetap saja corak yang ditunjukkan Sriwijaya yaitu corak kemaritiman. 


2. Peran Sungai Musi dalam Menyokong Sriwijaya menjadi Kerajaan Maritim
    Tidak salah apabila terdapat anggapan bahwa Palembang terletak dalam posisi yang sangat strategis apabila dilihat dari kacamata dunia perdagangan maritim, walaupun letaknya sama sekali tidak berada di bibir pantai ataupun pinggiran lautan. Palembang terletak pada daerah rendah di kedua tepi sungai Musi, sekitar 90 km dari pertemuan sungai Musi dan anak sungai Sungsang di muara dan kurang lebih 1,6 km sebelah ilir dari pertemuan sungai Musi dengan sungai Ogan dan sungai Komering (Wolters, 1979: 33-50). Dari arah sungai sungsang menuju ke sungai Musi merupakan jalur yan dapat dilayari kapal besar yang masuk dari pantai timur Sumatera. Sedangkan dari arah sungai Ogan dan sungai Komering menuju sungai Musi merupakan jalan masuk dari dan ke pedalaman. Dengan demikian Palembang terletak di tengah-tengah arus lalu lintas pelayaran pantai timur Sumatera dengan pedalaman melalui sungai Musi (Sevenhoven, 1971:113).


          
   Melihat dari agihan Sungai Musi dari hulu sampai ke muara yang melintasi dua provinsi, yaitu Bengkulu dan Sumatera Selatan dimungkinkan terbukanya daerah pedalaman dalam aktivitas transportasi dan komunikasi dengan daerah luar. Dengan demikian Palembang merupakan lokasi strategis dan efesian dalam sistem transportasi dan komunikasi sehingga tidak saja mampu menghubungkan antara komunitas yang berekosistem yang berada di hulu sungai Ogan dan sungai Komering, tetapi juga dapat menghubungkan Palembang dengan komunitas lain di luar Nusantara (Miksic, 1984; Kusomoharton, 1992). Kedudukan Palembang yang sangat strategis inilah menjadikan salah satu bukti nyata atas kegemilangan Kerajaan Sriwijaya yang tergolong dalam corak maritim.
Potensi yang ada di laut sangatlah banyak, di mulai dari ekosistem pesisir dan lautnya. Untuk pesisir potensinya dapat dimanfaatkan sebagai wisata dan tempat pencarian masyarakat pesisir karna selain di laut banyak biota yang terdapat di pesisir contohnya, Kepiting Bakau dan Siput/Kerang. Sedangkan untuk di laut banyak selain dari biota di dasar laut contohnya, Udang, Kepiting, Kerang. Tetapi potensi tersebut didukung oleh adanya ekosistem yang baik dan terawat. 

3. Eksistensi Kerajaan Maritim Sriwijaya dari Wilayah Kekuasaan hingga Hubungan Diplomatis di Kancah Internasional
     Setelah berhasil mengusai jalur perdagangan Selat Malaka dan mendirikan bandar-bandar dagang di sekitar pulau Sumatera dan Semenanjung Malaya, makin membuktikan bahwa Kerajaan Sriwijaya telah bertransformasi menjadi salah satu kerajaan maritim terkuat di Nusantara bahkan termasuk di wilayah Asia Tenggara. Sriwijaya terus melakukan pelebaran wilayah kekuasaan dengan cara mengekspansi dan menguasai wilayah-wilayah di daerah sekitarnya. Tercatat ada beberapa prasasti yang berisikan tentang penaklukan militer kerajaan Sriwijaya yang mengarah ke wilayah Bangka dan Lampung. Di Bangka, prasasti Sriwijaya ditemukan dekat sungai Menduk, Bangka bagian barat. Prasasti ini disebut prasasti Kota Kapur, berisi tentang kutukan kepada mereka yang berbuat jahat, tidak tunduk dan tidak setia pada raja.. Selanjutnya keterangan penting lainnya ialah mengenai usaha penaklukan Sriwijaya di bumi Jawa yang tidak tunduk pada Sriwijaya (D.M. Poesponegoro dan N. Notosusanto, 2011 : 76). Lalu di Lampung, ditemukan dua prasasti di tempat yang berbeda. Prasasti pertama di daerah Palas Pasemah di tepi sungai (Way) Pisang, Anak Sungai Sekampung, Lampung Selatan. Isinya hampir sama dengan isi prasasti Kota Kapur. Prasasti Kedua, ditemukan di Desa Bungkuk, Kabupaten Lampung Tengah. Apabila dilihat dari prasasti-prasasti tersebut dapat disimpulkan bahwa Sriwijaya telah meluaskan daerah kuasaannya dari daerah Melayu, Bangka hingga ke daerah Lampung Selatan, serta usaha menaklukkan Pulau Jawa yang menjadi saingannya dalam bidang pelayaran dan perdagangan dengan luar negeri (D.M. Poesponegoro dan N. Notosusanto, 2011 : 82).
  Citra Sriwijaya dalam gelagat panggung persaingan ekonomi dan politik dengan kerajaan lain semakin tinggi. Sriwijaya tidak hanya sukses melebarkan pengaruhnya di wilayah Nusantara, tetapi mulai merayap menanamkan pengaruhnya di sekitar Asia Tenggara. Berdasarkan tinjauan tersebut, Sriwijaya berhasil menaruh pengaruhnya di wilayah Semenanjung Tanah Melayu; lebih tepatnya di daerah Ligor (Thailand Selatan) ditandai dengan peletakan sebuah prasasti yang mempunyai dua sisi (sisi A dan sisi B) yang kemudian disebut prasasti Ligor. Dari manuskrip Ligor A, berisikan tentang Raja Sriwijaya, raja dari segala raja yang ada di dunia. Sedangkan dari manuskrip Ligor B, berisikan berita tentang nama Visnu yang bergelar Sri Maharaja, dari keluarga Sailendravamsa yang dijuluki dengan pembunuh musuh-musuh yang sombong tidak bersisa.
   Selain memperluas wilayah kekuasaan dan menyebarkan pengaruh, Kerajaan Sriwijaya juga membangun hubungan diplomatis dengan kerajaan dan bangsa lainnya, baik itu dalam aspek politik, ekonomi, budaya, militer dan agama. Di India bagian timur leibh tepatnya di daerah Nalanda, raja Sriwijaya Balaputradewa mengeluarkan sebuah prasasti yang berisi tentang pendirian bangunan biara di Nalanda oleh raja Balaputradewa. Selain membangun hubungan dengan India, Sriwijaya juga membangun hubungan diplomatis dengan Cina agar bekerja sama dalam mengamankan jalur pelayaran perdagangan laut antara timur dan barat demi menciptakan rasa aman bagi para pedagang yang melintas di kawasan laut Asia Tenggara.







DAFTAR PUSTAKA

      Reid, Anthony. 2010. Sumatera Tempo Doeloe: dari Marco Polo sampai Tan Malaka. Jakarta:     Komunitas Bambu
       Poesponegoro, Djoenet Marwati dan Nugroho Notosusanto. 2010. Sejarah Nasional Indonesia     II. Jakarta: Balai Pustaka
        Coedes, Goerge dkk. 2014. Kedatuan Sriwijaya. Depok: Komunitas Bambu
        Hall, D.G.E, 1981. Sejarah Asia Tenggara. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka
        Retno Purwanti. 2018. Peran Sungai Musi Dalam Struktur Perdagangan Masa Sriwijaya.
        Makalah. Dalam: Seminar Kesejarahan Sriwijaya dan Poros Maritim Dunia  Palembang,         6-9 Agustus
        Dr. Mhd. Nur, M.S. 2018. Hubungan Diplomasi Sriwijaya Pada Masa Kuno di Kawasan Asia.            Makalah. Dalam: Seminar Kesejarahan Sriwijaya dan Poros Maritim Dunia  Palembang,         6-9 Agustus
         MGV. Tri Yuli Praptiningsih. 2018. Peran Kerajaan Maritim Sriwijaya di Kancah Internasional.    Makalah. Dalam: Seminar Kesejarahan Sriwijaya dan Poros Maritim Dunia  Palembang,         6-9 Agustus 
Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Recent Posts