Selamat Datang | Selamat datang "Mahasiswa Baru Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 2017" - Selamat Bergabung | Semoga artikel dan isi web HIMAPES Unsri ini dapat memberikan manfaat |17 AGUSTUS 1945-2016 "Perjuangan Bangsa Masih Berlanjut" MERDEKA!!! | Terima kasih sudah mengunjungi web kami | Viva Historia... #noHistory noFuture

Tuesday, 17 September 2019

Kemunduran Komunisme di Masa kolonial Belanda : Bagian 3

Komunis: Melemah dan Mengering
Oleh:
Dwiki Septiandini
Fieka Nadya
Ari Supriyatno

Karena tindakan PKI yang cukup Radikal akhirnya  timbul gerakan anti komunis dan pemerintah kolonial Belanda mulai mengambil tindakan tegas. Ketegasan itu diwujudkan dengan penangkapan dan pengasingan terhadap pimpinan komunis dari Indonesia. Diawali dengan Sneevliet tahun 1919. Tan Malaka tahun 1922 dibuang dan diusir dari Indonesia ,sedangkan Semaun pada tahun 1923.  Dengan demikian semua pemimpin PKI seperti Darsono, Ali Archam, Alimin, Musso merasa terancam. Pada Konggres PKI tanggal 11-15 Desember 1924 di kota Gede Yogyakarta, dibahas mengenai rencana gerakan bersama di seluruh Indonesia. Rencana pemberontakan ini pada awalnya tidak memperoleh persetujuan Komintern. Aksi-aksi seperti pemogokan mendapat perhatian serius oleh pemerintah kolonial Belanda bahkan rapat-rapat PKI juga dibubarkan (Shiraishi,1997:432).

Tan Malaka Sang Patriot Garis Kiri
Sumber: google.com/image

Pada 25 Desember 1925, pemimpin-pemimpin utama PKI, Sardjono, Boedisoetjitro, Winanta, Moesso, dan beberapa lainnya mengadakan pertemuan di Prambanan, mereka memutuskan untuk membuat rencana pemberontakan yang konkret dan menyerukan semua anggota partai untuk menciptakan suatu struktur partai bawah tanah. PKI memimpin sebuah pemberontakan yang nantinya akan menentukan nasib, bukan hanya PKI, tetapi juga pergerakan pada umumnya.[1] 

“Selama tahun 1925, unsur-unsur yang lebih mengekstrim dalam Partai Komunis di bawah pengawasan Dahlan dan Soekra, dua pemimpin yang menolak patuh kepada kepemimpinan yang tetap. Mereka terus menghasut dicetuskannya revolusi dan memakai metode-metode teoritis. Dalam usaha-usahanya, mereka didukung oleh dua pemimpin penting yang sudah mapan, Alimin dan Musso. Kelompok ini berhasil menguasai suatu rapat komisi pelaksanaan partai tersebut dan para pemimpin persatuan-persatuan dagang pokok di bawah pengawasan komunis, yang diselenggarakan di Candi Prambanan (antara Yogyakarta dan Surakarta). Pada pertengahan bulan Oktober 1925. Sebagai hasilnya, revolusi ditetapkan akan diadakan segera (George McTurnan Kahin, 1995. Hal. 103).

Januari 1926 Musso, Boedisoetjitro, dan Soegono rencananya akan ditangkap oleh Gubernur Jendral van Limburg Stirum tetapi mereka telah pergi ke Singapura. Kekacauan hari demi hari semakin memuncak dan hampir semua pimpinan PKI berada di luar Indonesia, seperti di Singapura ada Alimin, Musso, Boedisoetjitro, Soegono, Subakat, Sanusi, dan Winata. Sedangkan Tan Malaka di Manila dan Darsono di Uni Soviet. Akhirnya “PKI melakukan gerakan dengan “gaya lokal” dan aksi lokal (local action) yang di antaranya tidak banyak berkaitan dengan komunisme teoritis. Di Banten partai ini menjadi Islam yang berlebih-lebihan. PKI berkembang pesat di Sumatra dan Jawa tanpa koordinasi yang kuat, ketika partai ini semakin bertambah menarik bagi unsur-unsur masyarakat pedesaan yang menyukai kekacauan”(M. C. Ricklefs, 2005; 271).

Alimin kemudian ke Manila untuk menemui Tan Malaka, selaku wakil Komintern untuk wilayah Asia Tenggara dan Australia. Dengan harapan rencana itu akan mendapat dukungannya, ternyata di luar dugaan Tan Malaka menolak keputusan Parambanan dengan alasan: 1) Situasi revolusioner belum ada; 2) PKI belum cukup berdisiplin; 3) Seluruh rakyat belum berada di bawah PKI; 4) Tuntutan/sumbangan konkret belum dipikirkan; 5) Imperialisme internasional bersekutu melawan komunisme.[2]

Reaksi Tan Malaka membuat perpecahan dalam organisasi PKI, tetapi Alimin dan Musso tidak gentar. Kemudian Alimin dan Musso pergi ke Moskow untuk membahas tentang keputusan Prambanan 16 Maret 1926. Alih-alih mendapat dukungan sebaliknya mereka harus diindoktrinasi lagi. “Alimin dan Musso tiba di Malaya melalui Kanton pada pertengahan bulan Desember 1926, setelah aksi terjadi. Pada tanggal 18 Desember 1926 mereka ditahan orang Inggris di Johor dan tidak kembali ke Indonesia lagi[3].

Bagai ayam kehilangan induknya, PKI tanpa pemimpin yang militan. Kegiatannya kacau, ditambah lagi para anggota bingung ikut Tan Malaka atau Alimin-Musso. Tidak adanya koordinasi para pemimpin ekstrimis, sebut saja Sardjono dan kawankawan merasa berhasil menguasai dan coba mempertahankan pengaruh mereka. Bahkan Suparjo yang kembali ke Indonesia untuk memberitahukan hasil diskusinya dengan Tan Malaka dan Subakat tidak dihiraukan. Walaupun rencana pemberontakan ditunda tetapi akhirnya meletus juga pada malam hari tanggal 12 November 1926 di Jawa Barat (Banten, Priangan) dan menyusul 1 Januari 1927 di Sumatra Barat. Pemberontakan di Batavia dapat ditumpas dalam waktu satu hari. Di Banten dan Priangan penumpasan selesai pada bulan Desember. Sedangkan di Sumatra dapat ditumpas selama tiga hari dan mendapat perlawanan yang relatif kuat. Menurut Ricklefs di Jawa seorang Eropa tewas begitu pula di Sumatra. “Sekitar 13.000 orang ditangkap, beberapa orang ditembak, kira-kira 4.500 orang dijebloskan ke dalam penjara dan 1.038 orang dikirim ke kamp penjara yang terkenal mengerikan di Boven Digul, Irian, yang khusus dibangun pada tahun 1927 untuk mengurung mereka.”PKI hancur dan dilarang oleh pemerintah Kolonial Belanda.[4]

Dari pengantar  diatas terdapat beberapa perbandingan mengenai Partai Komunis Indonesia dengan Organisasi-organisasi pergerakan lain. PKI merupakan salah satu organisasi yang terbentuk atas prakarsa dari orang-orang luar seperti H.J.M Snivleet dan rekan-rekannya, bukan golongan bumi putera, sehingga segala sesuatunya selalu mendapatkan masukan dari orang-orang luar. Jadi bisa kita tarik kesimpulan bahwa organisasi PKI ini segala akar pemikirannya berasal dari luar. Berbeda dengan organisasi seperti Budi Utomo yang bersifat kedaerahan dan menjunjung segala sesuatu yang berbau kedaerahan terutama daerah Jawa.

Tokoh ISDV/PKI terlalu menonjolkan unsur internasional dalam program perjuangan PPKR, Sarekat Islam mengutamakan unsur “Islam” sebagai landasan untuk mempersatukan bangsa, sedangkan Sarekat Hindia (Insulinde) justru menekankan kepada unsur “kenasionalan”sebagai unsur yang harus lebih dipentingkan daripada pertimbangan-pertimbangan “keagamaan”, “perjuangan kelas “ dan “kedaerahan” dalam usaha untuk membangkitkan aspirasi nasional dan kesadaran sosial. Alur gerakan PKI secara langsung dikendalikan oleh moscow atau dari luar negeri, karena pada waktu itu pusat dari paham komunis itu sendiri adalah Moscow (Rusia) yang kemudian menyebar keseluruh dunia termasuk wilayah daratan Asia terutama Cina, Korea Utara dan Indonesia itu sendiri. Dari beberapa buku yang kami baca banyak sekali yang menyebutkan tentang betapa radikalnya tindakan PKI itu seperti melakukan berbagai macam pemberontakan yang pada akhirnya terjadi pada tahun 1926 yang merupakan tanda kehancuran bagi PKI itu sendiri.

Adapun tujuan berdirinya PKI adalah untuk membentuk sebuah negara yang berpaham komunis. Dalam hal ini Indonesia menjadi sasarannya karena sebagian besar penduduk Indonesia adalah kaum buruh/petani (proletar) sehingga sesuai dengan tujuan PKI yakni tergabung dalam Proletar dunia. Selain itu mereka juga dalam mencari perhatian dengan masyarakat dengan cara membangun konflik di dalam masyarakat maupun tubuh keanggotaan PKI itu sendiri.


Daftar Pustaka

George McTurnan Kahin. 1995.Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia: RefleksiPergumulan Lahirnya Republik. UNS Press dan Pustaka Sinar Harapan.
M.C. Ricklefs. 2005. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Poesponegoro , Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia V – Zaman Kebangkitan            Nasional dan Masa Hindia Belanda . –cet-2 Edisi Pemuktahiran. Jakarta : Balai   Pustaka.
             .1991. Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI, Bahaya Laten Komunisme di Indonesia, Jilid I, Jakarta.
Shiraishi, Takashi. 1997. Zaman Bergerak: radikalisme rakyat di Jawa, 1912-1926. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Soe Hok Gie. 2005. Orang-orang Di Persimpangan Kiri Jalan. Yogyakarta. Bentang Pustaka.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28277/4/Chapter%20II.pdf, (diakses pada hari senin,10 maret 2014, pukul 15:00 WIB).








[1] Op. Cit. Hal, 436
[2] Soe Hok Gie. Orang-orang Di Persimpangan Kiri Jalan. Yogyakarta. Bentang Pustaka. 2005. hlm.10-11. Untuk kejelasan alasan Tan Malaka baca, Tan Malaka. Aksi Massa. Jakarta. CEDI dan Aliansi Press. 2000. Buklet ini ditulis Tan Malaka pada pertengahan tahun 1926. berisi pokok-pokok pikirannya setelah berkeliling Jawa dan Sumatra, tepat sebelum aksi 1927 meletus.
[3] George McTurnan Kahin. op.cit. hlm.107
[4] M. C. Ricklefss. Op. Cit. Hal. 272.

Komunisme Masa Kolonial Belanda : Bagian 2


Komunis Merambah Organisasi Pergerakan Nasional
Oleh:
Dwiki Septiandini
Fieka Nadya
Ari Supriyatno

Perkembangan Komunisme di Indonesia Masa Kolonial
Setelah berdiri pada tanggal 23 Mei 1920, PKI semakin berkembang pesat. Diperbolehkannya keanggotaan ganda pada tubuh SI dilihat sebagai kesempaatan besar bagi PKI untuk menyusup ke organisasi tersebut yang kemudian bertujuan umtuk memecahnya. Hal ini dilakukan karena PKI menyadari bahwa pada saat itu SI merupakan sebuah organisasi pergerakan nasional yang besar dan kuat. Sehingga timbul keinginan diantara pimpian PKI untuk menguasainya. Gebrakan-gebrakan yang dilakukan PKI dalam tubuh SI terang saja membuat pimpinan CSI menjadi berang. CSI melihat bahwa tindakan tindakan yan dilakukan oleh PKI telah mengarah kepada sebuah ancaman keutuhan didalam tubuh SI sendiri. CSI kemudian menyadari bahwa yang menjadi penyebab pengaruh PKI begitu kuat dalam tubuh SI adalah karena SI memperbolehkan sistem keanggotaan rangkap, sehingga menjadi sangat mudah untuk disusupi oleh orang-orang yang bersal dari organisasi lain[1].



Transformasi Komunisme dalam Organisasi Pegerakan Nasional
Sumber: google.com/image

Pada bulan Oktober 1921 dilaksanakan kongres SI yang ke VI di Surabaya. Pada saat itu terjadi suasana panas mewarnai jalannya kongres karena adanya perdebatan yang terjadi diantara fraksi komunis yang diwakili oleh Darsono dan Tan Malaka dengan pimpinan SI pada saat itu Haji Agus Salim. Pada kongres tersebut kemudian diputuskan bahwa dilarangnya keanggotaan rangkap. Artinya anggota SI tidak lagi boleh menjadi anggota dari organisasi lain, jadi bagi anggota yang selama ini merangkap sebagai anggota dari organisasi lain harus memilih antara SI atau organisasi lainnya tersebut. Keputusan ini sontak mendapat perlawanan dari faksi komunis karena hal tersebut akan sangat merugikan bagi mereka. [2]

Sadar bahwa keluar dai SI merupakan sesuatu yang akan sangat merugikan bagi kekuatan PKI, maka Semaun selaku ketua PKI dan SI Semarang pada saat itu menolak keputusan kongres dan justru menghimpun kekuatan didalam tubuh SI. Semaun kemudian melakukan propaganda dalam tubuh SI dan mengatakan bahwa apa yang telah diputuskan dalam kongres merupakan sebuah sesuatu yang keliru dan oleh sebab itu harus di tinjau kembali keputusannya. Namun, pimpinan SI pada sat itu tetap bersikeras pada apa yang telah diputuskan dalam kongres. Dengan keputusan tersebut maka anggota-anggota SI yang tidak mau keluar dari PKI dikeluarkan dari tubuh SI. Sekalipun keputusan ini akan mengurangi jumlah anggota, namun pimpinan SI tetap menganggap bahwa keputusan ini merupakan hal terbaik yang harus dilakukan[3].

Semaun dan para anggota SI yang juga merupakan PKI tidak tinggal diam dengan keputusan ini. Mereka tetap tidak mau menerima hasil kongres dan tidak keluar dari SI. Mereka kemudian membentuk SI tandingan yang di sebut sebagai SI Merah, sedangkan SI yang menerima hasil kongres tersebut dinamakan sebagai SI Putih. SI tandingan ini tidak hanya terjadi ditingkat pusat, melainkan juga samapi ke cabang di daerah-daerah. Pada kongres PKI II di Bandung Maret 1923 dirumuskan secara jelas bahwa mereka menentang secara terang-terangan SI sebagai kekuatan politik, dan mengubah SI merah menjadi Sarekat Rakyat (SR) sebagai organisasi yang berada dibawah PKI. Pemerintah Hindia Belanda melihat bahwa kekuatan komunis sudah mulai berkembang dan semakin menyebabkan ancaman karena aksi yang dilakukan anggotanya. Kemudian pemerintah Hindia Belanda mengusir tokoh-tokoh komunis seperti Muso, Alimin, Darsono dan Semaun. Tokoh-tokoh ini menyebar ke Asia hingga Eropa. Namun tidak lama kemudian pada akhir tahun 1923 tokoh-tokoh komunis tersebut kembali ke Hindia Belanda. (http://repository.usu.ac.id/bitstream).

Ternyata kepergian mereka meninggalkan Hindia Belanda telah mengakibatkannya kelemahan dalam kepemimpinan Perserikatan Komunis di Hindia Belanda. Untuk kembali membangkitkan kekuatan komunis tersebut, Semaun dan Darsono mencoba untuk menghimpun kembali kekuatan dengan melakukan kongres pada Juni 1924 di Jakarta. Pada saat itulah nama Partai Komunis Indonesia (PKI) resmi di gunakan. Kongres tersebut juga memutuskan untuk memindahkan markas besar PKI dari Semarang ke Batavia (sekarang Jakarta) dan memilih pimpinan baru yaitu Alimin, Musso, Aliarcham, Sardjono dan Winanta. Dalam kongres tersebut juga diputuskan untuk membentuk cabang cabang di Padang, Semarang, dan Surabaya. [4]

Komunisme ternyata telah berhasil memecah bela SI kedalam dua bagian. Bagian pertama adalah mereka yang mempunyai pandangan komunis dalam tubuh SI dan bagian yang kedua adalah mereka yang menentang ajaran komunisme dalam tubuh SI. Sekalipun akibat ulah dari komunisme SI mengalami penurunan dalam jumlah anggotanya, tapi bagi pimpinan SI hal ini harus dilakukan untuk menyelamatkan SI itu sendiri. Atas peristiwa tersebut SI dan PKI pun menjadi dua kekuaan politik yang berdiri sendiri dan saling melakukan persaingan dalam mendapatkan simpati/dukungan dari rakyat[5].

Bergabung dengan Komintern
Konvensi pertama PKI di gelar di basecamp Sarekat Islam, di Semarang, Jawa Tengah, pada pertengahan Desember 1920. Ribuan anggota dan simpatisan hadir disana, dan rapat berlangsung tertutup dan  underground, karena walaupun partai ini sudah memiliki basis massa yang banyak, tapi keberadaan mereka masih illegal dimata pemerintah saat itu. Agenda utama Konvensi ini adalah memutuskan satu soal penting tentang “bergabung tidaknya PKI dengan Komunis Internasional (Komintern)”[6].

Dari kesepakatan rapat itu, akhirnya mereka memutuskan untuk berafiliasi dengan Komintern yang berpusat di Moscow (Uni Soviet), yang di kepalai oleh Josep Vissarionovich Stalin. Sehingga, kebijakan partai  mau tak mau harus segaris dengan apa yang dirumuskan di Moskow (Komintern), dan wakil pertama Indonesia di rapat - rapat Komite Eksekutif Komunis Internasional di Moscow adalah Sneevliet (yang sebelumnya dibuang Belanda) , setelah itu ada Semaoen dan Darsono yang selanjutnya mereka menjadi agen - agen kunci Komintern. Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka (seorang aktivis PKI yang sebelumnya dikirim belajar ke Netherland dan kembali lagi ke Indonesia tahun 1919) dan diangkat sebagai pimpinan partai cabang Asia Tenggara dan Australia[7].

Selain itu juga berkat di perbolehkannya keanggotaan ganda pada SI menyebabkan banyak anggota SI yang kemudian ikut terjun kedalam ISDV. Hal ini karena sebagian besar anggota SI adalah golongan pedagang dan golongan masyarakat kelas bawah. Selain itu karna syarat keanggotaan dari SI yang sangat mudah yaitu “hanya beragama Islam” membuat SI ini berkembang sedemikian pesatnya. Dari situlah timbul gagasan baru dari Snivleet dan rekan-rekan untuk menyusupi organisasi ini sekaligus menjaring keanggotaan untuk mendirikan PKI. Dari aksi penyusupan itulah banyak orang-orang yang tidak mengerti apa makna dari sebenarnya PKI kemudian menjadi anggota PKI. Bukan hanya itu saja Komunisme mudah menarik bangsa-bangsa terjajah atau mudah diterima oleh masyarakat karena mereka merasa akan dibebaskan dari belenggu penjajahan. Itulah sebabnya komunisme mendapat sambutan tidak sedikit di Indonesia. Karena sebagian besar penduduk indonesia adalah golongan petani maupun pedagang yang kurang mempunyai pengaruh[8].

Daftar Pustaka

George McTurnan Kahin. 1995.Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia: RefleksiPergumulan Lahirnya Republik. UNS Press dan Pustaka Sinar Harapan.
M.C. Ricklefs. 2005. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Poesponegoro , Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia V – Zaman Kebangkitan            Nasional dan Masa Hindia Belanda . –cet-2 Edisi Pemuktahiran. Jakarta : Balai   Pustaka.
             .1991. Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI, Bahaya Laten Komunisme di Indonesia, Jilid I, Jakarta.
Shiraishi, Takashi. 1997. Zaman Bergerak: radikalisme rakyat di Jawa, 1912-1926. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Soe Hok Gie. 2005. Orang-orang Di Persimpangan Kiri Jalan. Yogyakarta. Bentang Pustaka.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28277/4/Chapter%20II.pdf, (diakses pada hari senin,10 maret 2014, pukul 15:00 WIB).



[2] Ibid. Hal, 4
[3] Ibid. Hal, 4-5.
[4] Ibid. Hal, 5-6.
[5] Ibid. Hal, 6.
[6] http://www.usd.ac.id/lembaga/lppm/f1l3/Jurnal%20Historia%20Vitae/vol21
[7] http://www.usd.ac.id/lembaga/lppm/f1l3/Jurnal%20Historia%20Vitae/vol21.Op.Cit.hal,5).
[8] Ibid. Hal, 4.




Bibit Komunis di Indonesia : Ide-ide Seorang Sneevlit

Sebuah Historiografi Sosialisme dan Radikalisme Kebablasan
Oleh:
Dwiki Septiandini
Fieka Nadya
Ari Supriyatno

Cikal Bakal Kelahiran PKI
Sosialisme dipandang sebagai lambang kemodernan yang akan membawa keadilan sosial, kemakmuran, dan kemerdekaan bangsa terjajah. Tanggung jawab memperkenalkan pikiran dilimpahkan pada sekelompok kecil marxis Belanda yang pada waktu itu organisasi itu adalah Sneevliet, Brandsteder, dan Dekker, sedangkan dari pihak Indonesia yang terkenal adalah Semaun. ISDV berusaha mencari kontak dengan IP dan SI untuk mendekati rakyat tetapi tidak berhasil.

Kampanye Partai Komunis Indonesia 1950-an
Sumber: Google.com/image

Awal masuknya ideologi komunisme ke Indonesia tidak pernah terlepas dari peranan seorang warga negara Belanda yang bernama Hendricus Josephus Franciscus Maria Sneevliet.[1] Pada awal masuknya ke Indonesia Sneevliet bekerja disalah satu harian di Surabaya yang bernama Soerabajasche Handelsbad sebagai staff redaksi di harian tersebut. Namun tidak lama berada di Surabaya, Sneevliet memutuskan untuk pindah ke Semarang dan bekerja sebagai sekertaris di salah satu maskapai dagang di kota tersebut. Pada saat itu kota Semarang merupakan pusat organisasi buruh kereta api Vereenigde van Spoor en Tramweg Personnel (VSTP).[2]

Sneevliet sadar betul bahwa keterkaitannya dengan VSTP merupakan sebuah peluang besar untuk menumbuh kembangkan ideologi komunisme di Indonesia. Pada bulan Juli 1914 bersama personil-personil yang tergabung dalam VSTP seperti P. Bersgma, J.A. Brandstedder, W.H. Dekker (pada saat itu menjabat sebagai sekertaris VSTP) mempelopori berdirinya organisasi politik yang bersifat radikal, Indische Sosial Democratische Vereeniging (ISDV) atau Serikat Sosial Demokrat India. ISDV kemudian menerbitkan surat kabar Het Vrije Woord (suara kebebasan) sebagai media propaganda untuk menyebarkan ajaran ajaran komunisme yang menjadi ideologi dari organisasi tersebut. Oleh karena anggota ISDV terbatas dikalangan orang orang Belanda, maka organisasi ini belum dapat menjamah dan mempengaruhi organisasi pergerakan nasional seperti Boedi Oetomo dan Sarekat Islam (SI) (Poesponegoro, 2008:357).

Gebrakan yang dilakukan Sneevliet pun diperkuat dengan di terbitkannya koran Soldaten en Mattrozekrant (koran serdadu dan kelasi) dalam lingkungan militer. Isi koran ini selalu diwarnai dengan ide-ide komunisme yang mengedepankan ide-ide perjuangan kelas. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan Sneevliet ternyata tercium oleh pemerintah Hindia Belanda. Kemudian pada bulan Desember 1918 Pemerintah Hindia Belanda mengambil tindakan untuk mengusir Sneevliet dari Hindia Belanda karena kegiatan yang dilakukannya dianggap mulai mengancam. [3]

Pada bulan Desember 1919 rekan Sneevliet, Brandstedder juga mengalami hal yang sama diusir oleh pemerintah Hindia Belanda. Sekalipun Sneevliet dan Brandstedder telah meninggalkan Hindia Belanda (Indonesia) namun usaha yang mereka lakukan selama ini telah menemukan hasillnya. ISDV akhirnya berhasil menyebarkan ajaran-ajaran komunisme di Semarang dan mempengaruhi pimpinan SI Semarang yang pada saat itu dipimpin oleh Semaun dan Darsono. Ada beberapa hal yang menyebabkan berhasilnya ISDV melakukan infiltrasi kedalam tubuh Serikat Islam :


  1. Central Serikat Islam (CSI) sebagai badan koordinasi pusat masih sangat lemah kekuasaanya. Tiap-tiap cabang SI bertindak sendiri-sendiri secara bebas. Para pemimpin lokal yang kuat mempunyai pengaruh yang menentukan di dalam SI cabang.
  2. Kondisi kepartaian pada masa itu memungkinkan orang untuk sekaligus menjadi anggota lebih dari satu partai. Hhal ini disebabkan pada mulanya organisasi-organisasi itu didirikan bukan sebagai suatu partai politik melainkan sebagai suatiu organisasi guna mendukung berbagai kepentingan sosial budaya dan ekonomi. Dikalanngan kaum terpelajar menjadi kebiasaan bagi setiap orang untuk memasuki berbagai macam organisasi yang di anggapnya dapat membantu kepentingannya. [4]

Setelah mendapatkan dukungan penuh dari SI Semarang, ISDV menjadi semakin kuat dan ajaran komunisme semakin dikenal oleh masyarakat. Pada tanggal 23 Mei 1920, tepatnya di gedung SI Semarang, ISDV sepakat mengganti namanya menjadi Perserikatan Komunis di Indie (PKI). Perubahan nama ini diperuntukan supaya organisasi ini lebih tegas dalam mengedepankan nama komunisme sebagai ideologi dari organisasi mereka selama ini. Semaun dipilih sebagai ketua dan Darsono sebagai wakilnya. Beberapa tokoh ISDV yang orang belanda diangkat sebagai pendamping antara lain Bergsma sebagai sekertaris, Dekker sebagai bendahara dan A. Barrs sebagai salah satu anggotanya.[5] Sekalipun Semaun dan Darsono telah menjadi pimpinan PKI, namun mereka tetap menjadi pimpinan SI Semarang. Hal ini disebabkan karena pada saat itu CSI (Central Sarekat Islam) masih memperbolehkan anggotanya untuk menjadi anggota dari organisasi lain.

Bersambung...


[1] Sneevliet adalah mantan ketua Serikat Buruh Nasional dan mantan pimpinan Partai Revolusioner Sosialis di salah satu provinsi di negeri belanda. 
[2] M.C. Ricklefs. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta. Gajah Mada University Press. 2005. hlm. 260
[4] Poesponegoro Marwati Djoened. Op. Cit. Hlm. 357
[5] Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI, Bahaya Laten Komunisme di Indonesia, Jilid I, Jakarta, 1991, Hal.6


Sunday, 4 August 2019

Kerajaan Sriwijaya Berbasis Kemaritiman


    Oleh : Diki Tri Apriansyah Putra

                 1. Kerajaan Maritim Sriwijaya
    Kawasan pesisir timur Pulau Sumatera dilihat dari sudut pandang geohistoris memiliki posisi yang sangat strategis dan sangat berpengaruh dalam membentuk konfigurasi persebaran situ-situs pemukiman di Sumatera. Kedudukannya yang terletak didalam jalur pelayaran antara India dan Cina telah memungkinkan daerah-daerah pesisir di wilayah ini menjadi tempat persinggahan para pedagang dari barat ke timur serta sebaliknya (D.M. Poesponegoro dan N. Notosusanto, 2011 : 65).
 Dengan bertambah pesatnya aktifitas perdagangan di sekitar jalur pelayaran Selat Malaka, menjadikan kawasan di sekitar Timur Pulau Sumatera strategis untuk didirikan sebuah kerajaan besar ditengah lalu lintas jalur perdagangan antara barat dan timur.


 Dengan bertambah pesatnya aktifitas perdagangan di sekitar jalur pelayaran Selat Malaka, menjadikan kawasan di sekitar Timur Pulau Sumatera strategis untuk didirikan sebuah kerajaan besar ditengah lalu lintas jalur perdagangan antara barat dan timur. 
Berdirinya Kerajaan Sriwijaya ditandai dengan datangnya seorang raja bernama Dapunta Hyang Manalap Siddhayatra yang berangkat dari Minanga pada 11 paro terang bulan waisaka, tahun 604 S (682 M) dengan membawa tentara dua laksa lalu mendirikan sebuah wanua. Peristiwa ini terekam dalam sebuah prasasti tertua yang ditemukan di Palembang dengan nama Prasasti Kedukan Bukit. Banyak para peneliti menganggap bahwa prasasti ini merupakan akta dari kelahiran  Kerajaan Sriwijaya.



    Seiring berjalannya waktu, Kerajaan Sriwijaya tumbuh pesat akibat letak wilayahnya yang strategis dengan kemampuannya dalam menguasai lalu lintas perdagangan dan mendirikan bandar-bandar dagang internasional. Selain didukung wilayah strategis yang terletak di jalur perdagangan, Kerajaan Sriwijaya juga ditopang dengan kekuatan ekonomi penghasil berbagai komoditas penting seperti kapur barus, emas, gambir, gading, kayu-kayuan, wangi-wangian, obatan-obatan dan rempah-rempah yang didapat dari daerah pedalaman ulu melalui jalur sungai Musi. Pusat Kerajaan Sriwijaya yang berjantung di Palembang memiliki peranan cukup penting dalam segi ekonomi, karena di Palembanglah tempat bertemunya para pedagang yang berasal dari pedalaman Sumatera bagian Selatan dengan para pedangang internasional, sehingga terjadilah kontak jual-beli antara komoditas lokal dan komoditas internasional.
Inilah yang menjadikan Sriwijaya sebagai kerajaan bercorak maritim dengan contoh mengembangkan bandar dagang internasional sebagai pelabuhan transito yang ramai disinggahi kapal-kapal asing untuk mengambil perbekalan serta melakukan aktivitas perdagangan. Sriwijaya memperoleh banyak keuntungan dari komoditas ekspor dan pajak kapal singgah. Sehingga mengantarkan kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kegemilangannya sebagai kerajaan salah satu kerajaan Maritim terkuat di Nusantara.
Apabila membayangkan kondisi kegemilangan Sriwijaya dengan bangunan-bangunan besar beserta candi-candi megah seperti yang ada di Jawa dan wilayah Asia Tenggara lainnya, maka itu termasuk kesalahan besar. Karena menurut Anthony Reid menyebutkan bahwa “Sebenarnya Sriwijaya terdiri dari sejumlah pelabuhan yang saling berhubungan di sekitar Selat Malaka termasuk Kalah di Semenanjung Malaya. Bukan satu pusat besar penghasil candi dengan skala seperti Angkor Wat ataupun Pagan (Anthony Reid, 2014: 2).
Sriwijaya merupakan kerajaan yang bercorak kemaritiman, oleh karena itu otomatis pembangunan serta aktivitas perpolitikan Sriwijaya ditujukan pada permasalahan kemaritiman. Walaupun terkadang Sriwijaya juga dianggap sebagai kerajaan Agraris karena kayanya sumber daya agararia di daerah pedalaman, tetap saja corak yang ditunjukkan Sriwijaya yaitu corak kemaritiman. 


2. Peran Sungai Musi dalam Menyokong Sriwijaya menjadi Kerajaan Maritim
    Tidak salah apabila terdapat anggapan bahwa Palembang terletak dalam posisi yang sangat strategis apabila dilihat dari kacamata dunia perdagangan maritim, walaupun letaknya sama sekali tidak berada di bibir pantai ataupun pinggiran lautan. Palembang terletak pada daerah rendah di kedua tepi sungai Musi, sekitar 90 km dari pertemuan sungai Musi dan anak sungai Sungsang di muara dan kurang lebih 1,6 km sebelah ilir dari pertemuan sungai Musi dengan sungai Ogan dan sungai Komering (Wolters, 1979: 33-50). Dari arah sungai sungsang menuju ke sungai Musi merupakan jalur yan dapat dilayari kapal besar yang masuk dari pantai timur Sumatera. Sedangkan dari arah sungai Ogan dan sungai Komering menuju sungai Musi merupakan jalan masuk dari dan ke pedalaman. Dengan demikian Palembang terletak di tengah-tengah arus lalu lintas pelayaran pantai timur Sumatera dengan pedalaman melalui sungai Musi (Sevenhoven, 1971:113).


          
   Melihat dari agihan Sungai Musi dari hulu sampai ke muara yang melintasi dua provinsi, yaitu Bengkulu dan Sumatera Selatan dimungkinkan terbukanya daerah pedalaman dalam aktivitas transportasi dan komunikasi dengan daerah luar. Dengan demikian Palembang merupakan lokasi strategis dan efesian dalam sistem transportasi dan komunikasi sehingga tidak saja mampu menghubungkan antara komunitas yang berekosistem yang berada di hulu sungai Ogan dan sungai Komering, tetapi juga dapat menghubungkan Palembang dengan komunitas lain di luar Nusantara (Miksic, 1984; Kusomoharton, 1992). Kedudukan Palembang yang sangat strategis inilah menjadikan salah satu bukti nyata atas kegemilangan Kerajaan Sriwijaya yang tergolong dalam corak maritim.
Potensi yang ada di laut sangatlah banyak, di mulai dari ekosistem pesisir dan lautnya. Untuk pesisir potensinya dapat dimanfaatkan sebagai wisata dan tempat pencarian masyarakat pesisir karna selain di laut banyak biota yang terdapat di pesisir contohnya, Kepiting Bakau dan Siput/Kerang. Sedangkan untuk di laut banyak selain dari biota di dasar laut contohnya, Udang, Kepiting, Kerang. Tetapi potensi tersebut didukung oleh adanya ekosistem yang baik dan terawat. 

3. Eksistensi Kerajaan Maritim Sriwijaya dari Wilayah Kekuasaan hingga Hubungan Diplomatis di Kancah Internasional
     Setelah berhasil mengusai jalur perdagangan Selat Malaka dan mendirikan bandar-bandar dagang di sekitar pulau Sumatera dan Semenanjung Malaya, makin membuktikan bahwa Kerajaan Sriwijaya telah bertransformasi menjadi salah satu kerajaan maritim terkuat di Nusantara bahkan termasuk di wilayah Asia Tenggara. Sriwijaya terus melakukan pelebaran wilayah kekuasaan dengan cara mengekspansi dan menguasai wilayah-wilayah di daerah sekitarnya. Tercatat ada beberapa prasasti yang berisikan tentang penaklukan militer kerajaan Sriwijaya yang mengarah ke wilayah Bangka dan Lampung. Di Bangka, prasasti Sriwijaya ditemukan dekat sungai Menduk, Bangka bagian barat. Prasasti ini disebut prasasti Kota Kapur, berisi tentang kutukan kepada mereka yang berbuat jahat, tidak tunduk dan tidak setia pada raja.. Selanjutnya keterangan penting lainnya ialah mengenai usaha penaklukan Sriwijaya di bumi Jawa yang tidak tunduk pada Sriwijaya (D.M. Poesponegoro dan N. Notosusanto, 2011 : 76). Lalu di Lampung, ditemukan dua prasasti di tempat yang berbeda. Prasasti pertama di daerah Palas Pasemah di tepi sungai (Way) Pisang, Anak Sungai Sekampung, Lampung Selatan. Isinya hampir sama dengan isi prasasti Kota Kapur. Prasasti Kedua, ditemukan di Desa Bungkuk, Kabupaten Lampung Tengah. Apabila dilihat dari prasasti-prasasti tersebut dapat disimpulkan bahwa Sriwijaya telah meluaskan daerah kuasaannya dari daerah Melayu, Bangka hingga ke daerah Lampung Selatan, serta usaha menaklukkan Pulau Jawa yang menjadi saingannya dalam bidang pelayaran dan perdagangan dengan luar negeri (D.M. Poesponegoro dan N. Notosusanto, 2011 : 82).
  Citra Sriwijaya dalam gelagat panggung persaingan ekonomi dan politik dengan kerajaan lain semakin tinggi. Sriwijaya tidak hanya sukses melebarkan pengaruhnya di wilayah Nusantara, tetapi mulai merayap menanamkan pengaruhnya di sekitar Asia Tenggara. Berdasarkan tinjauan tersebut, Sriwijaya berhasil menaruh pengaruhnya di wilayah Semenanjung Tanah Melayu; lebih tepatnya di daerah Ligor (Thailand Selatan) ditandai dengan peletakan sebuah prasasti yang mempunyai dua sisi (sisi A dan sisi B) yang kemudian disebut prasasti Ligor. Dari manuskrip Ligor A, berisikan tentang Raja Sriwijaya, raja dari segala raja yang ada di dunia. Sedangkan dari manuskrip Ligor B, berisikan berita tentang nama Visnu yang bergelar Sri Maharaja, dari keluarga Sailendravamsa yang dijuluki dengan pembunuh musuh-musuh yang sombong tidak bersisa.
   Selain memperluas wilayah kekuasaan dan menyebarkan pengaruh, Kerajaan Sriwijaya juga membangun hubungan diplomatis dengan kerajaan dan bangsa lainnya, baik itu dalam aspek politik, ekonomi, budaya, militer dan agama. Di India bagian timur leibh tepatnya di daerah Nalanda, raja Sriwijaya Balaputradewa mengeluarkan sebuah prasasti yang berisi tentang pendirian bangunan biara di Nalanda oleh raja Balaputradewa. Selain membangun hubungan dengan India, Sriwijaya juga membangun hubungan diplomatis dengan Cina agar bekerja sama dalam mengamankan jalur pelayaran perdagangan laut antara timur dan barat demi menciptakan rasa aman bagi para pedagang yang melintas di kawasan laut Asia Tenggara.







DAFTAR PUSTAKA

      Reid, Anthony. 2010. Sumatera Tempo Doeloe: dari Marco Polo sampai Tan Malaka. Jakarta:     Komunitas Bambu
       Poesponegoro, Djoenet Marwati dan Nugroho Notosusanto. 2010. Sejarah Nasional Indonesia     II. Jakarta: Balai Pustaka
        Coedes, Goerge dkk. 2014. Kedatuan Sriwijaya. Depok: Komunitas Bambu
        Hall, D.G.E, 1981. Sejarah Asia Tenggara. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka
        Retno Purwanti. 2018. Peran Sungai Musi Dalam Struktur Perdagangan Masa Sriwijaya.
        Makalah. Dalam: Seminar Kesejarahan Sriwijaya dan Poros Maritim Dunia  Palembang,         6-9 Agustus
        Dr. Mhd. Nur, M.S. 2018. Hubungan Diplomasi Sriwijaya Pada Masa Kuno di Kawasan Asia.            Makalah. Dalam: Seminar Kesejarahan Sriwijaya dan Poros Maritim Dunia  Palembang,         6-9 Agustus
         MGV. Tri Yuli Praptiningsih. 2018. Peran Kerajaan Maritim Sriwijaya di Kancah Internasional.    Makalah. Dalam: Seminar Kesejarahan Sriwijaya dan Poros Maritim Dunia  Palembang,         6-9 Agustus 

Recent Posts