Selamat Datang | Selamat datang "Mahasiswa Baru Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 2017" - Selamat Bergabung | Semoga artikel dan isi web HIMAPES Unsri ini dapat memberikan manfaat |17 AGUSTUS 1945-2016 "Perjuangan Bangsa Masih Berlanjut" MERDEKA!!! | Terima kasih sudah mengunjungi web kami | Viva Historia... #noHistory noFuture

Thursday, 8 February 2018

Sarekat Islam : Sebuah Ukhuwah Islamiyah Indonesia

Sarekat Islam : Islam dan Sebuah Persatuan 
Rigo, Ruli, dan Nuzon

                  Tahun 1909 Tirtoadisurjo mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia [1].Perkumpulan ini semakin berkembang pesat ketika Tjokroaminoto memegang tampuk pimpinan dan mengubah nama perkumpulan itu menjadi Sarekat Islam.Kata “Dagang” dalam Serikat Dagang Islam dihilangkan dengan maksud agar ruang geraknya lebih luas tidak dalam bidang dagang saja (Ricklefs,2005:252).

                  Dalam perkembangan awalnya SI merupakan suatu “banjir besar” dalam artian bahwa massa dapat dimobilisasi serentak secara besar-besaran, baik dari kota-kota besar maupun pedesaan.Sejak empat tahun didirikan keanggotaannya sudah mencapai 360.000 orang dan menjelang tahun 1919, keanggotaannya telah mencapai hampir dua setengah juta, dan program kebangsaannya yang militan benar-benar dibuktikan untuk memperoleh kemerdekaan penuh (Kartidirdjo,1999:107).
              Sarekat Islam meratakan kesadaran nasional terhadap seluruh lapisan masyarakat, atas, tengah dan rakyat biasa diseluruh tanah air,terutama melalui kongres Nasional Sentral Islam di Bandung pada 1916.Perkembangan Sarekat Islam dapat dibagi menjadi empat bagian:periode pertama, 1911-1916 memberi corak dan bentuk bagi partai, kedua, 1916-1921 dapat dikatakan merupakan periode puncak; ketiga, 1921-1927, periode konsolidasi, keempat, 1927-1942, yang memperlihatkan usaha partai untuk tetap mempertahankan eksistensinya di forum politik Indonesia (D.Noer,1980:114-115).
                  Pada periode antara tahun 1911-1923 Sarekat Islam menempuh garis perjuangan parlementer dan evolusioner. Artinya, Sarekat Islam mengadakan politik kerja sama dengan pemerintah kolonial. Namun setelah tahun 1923, Sarekat Islam menempuh garis perjuangan nonkooperatif. Artinya, organisasi tidak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial, atas nama dirinya sendiri (L.M.Sitorus,1987:21).
Terdapat alasan berdirinya organisasi ini yaitu kompetisi tinggi pada bidang perdagangan batik, terutama dengan golongan Cina dan sikap superioritas orang Cina terhadap orang pribumi sehubungan dengan berhasilnya revolusi Cina dalam tahun 1911. Hal ini sebagai akibat dari digantinya tekstil pribumi dengan bahan-bahan yang diimpor dan dibeli oleh para pembatik dari pedagang perantara Cina, maka seluruh industri batik beralih ke tangan orang Cina. Untuk mempertahankan diri terhadap praktek-praktek orang Cina, para pedagang batik Jawa akhirnya bersatu pada tahun 1911 dan mendirikan SI, hal ini dikemukakan oleh Van Niel(D.Noer,1980:114).

            Latar belakang dibentuknya perkumpulan ini adalah reaksi terhadap monopoli penjualan bahan baku oleh pedagang China yang dirasakan sangat merugikan pedagang Islam. Namun, para pendiri Sarekat Islam mendirikan organisasi itu bukan hanya untuk mengadakan perlawanan terhadap orang-orang Cina namun untuk membuat front melawan penghinaan terhadap rakyat bumi putera.Juga merupakan reaksi terhadap rencana krestenings politik (politik pengkristenan) dari kaum Zending,perlawanan terhadap kecurangan-kecurangan dan penindasan-penindasan dari pihak ambtenar[2] bumi putera dan Eropa.Pokok utama perlawanan Sarekat Islam ditujukan terhadap setiap bentuk penindasan (Poesponegoro,2011:343).
          Jika ditinjau menurut anggaran dasarnya,maka tujuan organisasi ini dapat dirumuskan seperti berikut:mengembangkan jiwa dagang:membantu para anggota yang mengalami kesulitan dalam bidang usaha;memajukan pengajaran dan semua usaha yang menaikkan derajat rakyat bumiputera;menentang pendapat-pendapat yang keliru mengenai agama Islam,SI terang tidak berisikan politik,namun dari seluruh aksi perkumpulan itu dapat dilihat bahwa Sarekat Islam tidak lain melaksanakan suatu tujuan ketatanegaraan;serta tujuan lainnya yaitu hidup menurut perintah agama (Poesponegoro,2011:344).
          SI terpecah menjadi beberapa kelompok,walaupun arti penting sepenuhnya kelompok-kelompok tersebut belum jelas.Kelompok yang beraliran kiri yang dipimpin oleh cabang Semarang berusaha keras mendapatkan kekuasaan.Di Jawa Barat suatu cabang revolusioner rahasia yang diberi nama ‘Afdeeling B’[3] mulai didirikan oleh Sosrokardono dari CSI dan beberapa aktivis lainnya tahun 1917.Sementara itu,CSI mengharapkan dapat menjalankan kegiatan politik yang sah di dalam Volksraad (Ricklefs, 2005: 262-263).
      D.M.G. Koch mengemukakan terdapat tiga aliran dalam tubuh Sarekat Islam yaitu yang bersifat islam fanatik,yang bersifat menentang keras dan golongan yang hendak berusaha mencari kemajuan dengan berangsur-angsur dengan bantuan pemerintah.Akan tetapi,apabila cita-cita tidak adil terhadap rakyat Indonesia,kerohanian Sarekat Islam tetap demokratis dan militan(sangat siap untuk berjuang).Beberapa aspek perjuangan berkumpul dalam tubuh SI sehingga ada yang menyebut SI merupakan “gerakan nasionalistis-demokratis-ekonomis’. (Poesponegoro, 2011: 344).





[1].    Tirtoadisurjo adalah seorang lulusan OSVIA Tahun 1911 dia mendirikan suatu organisasi semacam itu lagi di Buitenzorg (Bogor).Di tahun yang sama dia mendorong seorang pedagang batik bernama Haji Samanhudi untuk mendirikan Sarekat Dagang Islam(SDI) sebagai suatu koperasi pedagang batik anti Cina dikota Solo
[2].  Ambtenaar adalah orang-orang yang bekerja sebagai pegawai negeri.
[3].     Afdeling B merupakan suatu organisasi yang tertutup atau organisasi bawah tanah yang secara resmi tidak mempunyai hubungan apapun dengan SI.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Recent Posts