Selamat Datang | Selamat datang "Mahasiswa Baru Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 2017" - Selamat Bergabung | Semoga artikel dan isi web HIMAPES Unsri ini dapat memberikan manfaat |17 AGUSTUS 1945-2016 "Perjuangan Bangsa Masih Berlanjut" MERDEKA!!! | Terima kasih sudah mengunjungi web kami | Viva Historia... #noHistory noFuture

Thursday, 8 February 2018

Sarekat Islam : Sebuah Embrio Persatuan

Perkembangan Sarekat Islam
Rigo, Ruli, dan Nuzon

                  Adapun faktor-faktor yang menyebabkan Serikat Islam cepat berkembang adalah: Kesadaran sebagai bangsa yang mulai tumbuh; Sifatnya kerakyatan; Didasari agama Islam; Persaingan dalam perdagangan; Digerakkan para ulama.

            Tahun 1912 organisasi itu merubah namanya yang semula SDI menjadi SI.Asal usul organisasi yang bersifat islam dan dagang segera menjadi kabur, dan istilah islam pada namanya kini sedikit banyak lebih mencerminkan adanya kesadaran umum bahwa anggota-anggotanya yang berkebangsaan Indonesia adalah kaum muslimin, sedangkan orang-orang Cina dan Belanda bukanlah muslim. Penggantian nama itu jugalah yang menyebabkan massanya semakin meluas (Ricklefs, 2005: 252).
                  Selama kemunculan SI 1911-1916, organisasi ini telah banyak mendapat sambutan positif dari rakyat, jika dilihat dari gerakannya, SI merupakan organisasi yang paling berbeda pada tahun-tahun tersebut. SI merupakan gerakan total artinya tidak terbatas pada satu orientasi tujuan, akan tetapi mencakup berbagai aspek aktivitas yakni ekonomi, sosial, kultural.Tahun 1916 saja diperkirakan anggotanya telah mencapai 800.000 orang dan terus mengalami peningkatan pada tahun-tahun berikutnya (Al Anshori, 2007: 97).
                  Pemerintah Hindia Belanda merasa khawatir terhadap perkembangan SI yang begitu pesat karena mengandung unsur-unsur revolusioner. SI dianggap membahayakan kedudukan pemerintah Hindia Belanda, karena mampu memobilisasikan massa. Sehingga pihak Hindia Belanda mengirimkan salah seorang penasihatnya kepada organisasi tersebut. Gubernur Jenderal Idenburg meminta nasihat dari para residen untuk menetapkan kebijakan politiknya. Hasil sementaranya SI tidak boleh berupa organisasi besar dan hanya diperbolehkan berdiri secara lokal (Poesponegoro, 2011: 344).
                  Jenderal Idenburg secara hati-hati mendukung SI,dan pada tahun 1913 dia memberi pengakuan resmi kepada SI. Meski dia hanya mengakui organisasi-organisasi tersebut sebagai suatu kumpulan cabang-cabang yang otonom saja dari pada sebagai suatu organisasi nasional yang dikendalikan oleh markas besarnya (CSI). Dengan tindakan itu Idenburg menganggap bahwa ia membanti para pemimpin organisasi baru dengan tidak membebani CSI dengan tanggung jawab atas semua cabang SI. Namun, atas keputusannya itu CSI menjadi sulit melakukan pengawasan dan orang Belanda menganggap bahwa keputusan Idenburg tersebut adalah keliru (Ricklefs, 2005: 253).
                  Disebutkan dalam berbagai sumber, sebagai faktor penting dalam mempropagandakan SI ialah pers-pers Indonesia dan kongres-kongres SI.Jumlah koran pada masa sebelum dan selama munculnya SI cepat bertambah. Adapun kongres dan pertemuan lain yang diadakan mempunyai pengaruh yang sangat penting dalam propaganda pergerakan.
                        Pada perkembangan selanjutnya tumbuhlah cabang-cabang SI di berbagai daerah, seperti SI Semarang, SI Yogyakarta, SI Surakarta serta SI Surabaya dan tidak lupa dibentuk pula semacam SI pusat atau CSI dengan struktur modern. Salah satu faktor berkembangnya SI secara pesat dengan memiliki basis massa yang besar adalah karena diperbolehkannya kartu keanggotaan rangkap. Akibatnya, mayoritas anggota SI merupakan anggota dari organisasi lain, seperti ISDV, PKI, ataupun serikat-serikat kerja/buruh. (Al Anshori, 2007: 97).
                        Partai ini benar-benar mencapai puncak kejayaan pada tahun 1915, tapi setelah tahun itu memasuki masa kemunduran, hilangnya pengaruh dan tumbuhnya pertentangan internal. Pertentangan pertama terjadi apada tahun 1916 ketika pemimipin S.I di Jawa Barat melakukan upaya pemisahan diri cabang Jawa barat dan Sumatera Selatan dari bagian lain. Namun pada masa ini belum jelas visinya karena masih bersifat mendua.dan masih mengunakan istilah “kongres” (D.Noer, 1980: 118).
             Dengan jumlah massa yang banyak, mendorong organisasi-organisasi lainnya untuk melirik dan mendapat pengaruh dalam tubuh SI. Sebut saja seperti ISDV[1].Tahun 1914 seorang pemuda Jawa buruh kereta api bernama Semaun menjadi anggota SI cabang Surabaya (Ricklefs, 2005: 262).
                        Di bawah pengaruh Semaun cabang Semarang mengambil garis anti kapitalis yang kuat.Cabang ini menentang peran serta SI dalam kampanye Indie weerbar, menentang gagasan untuk dalam Volksraad dan dengan sengit menyerang kepemimpinan CSI (Ricklefs, 2005: 262).
                                    Periode 1916-1921, telah ada kemajuan sudah ada rumusan yang jelas ditunjukkan pada program kerjanya. Selanjutnya adanya usulan pembentukan dewan rakyat (Volksraad) dengan ketua Cokroaminoto(1918), forum ini sebagai aksi pendapat bagi parlemen Belanda dan menjadi rem terhadap aliran konservatif  juga dapat digunakan sebagai media menyalurkan ide-ide politik S.I dan juga untuk menghindari sikap anarkhis, tapi lama-lama lembaga ini digunakan sebagai alat pemerintah. Periode 1921-1927 melakukan struktur baru melalui kongres nasional ketujuh di Madinah tanggal 17-20 Februari 1923. Karena struktur lama dianggap berbahaya dalam kepemimpinan organisasi dan tranformasi baru tahun 1927. Dengan pemerintah mengambil jarak .dalam susunan struktur menghilangkan wakil dalam dewan rakyat. Pada tahun 1926 terjadi pertikain dengan Muhammadiyah yang berdampak banyak orang-orang Muhammadiyah dikeluarkan dari S.I. Periode 1927-1942Pada masa ini banyak berdiri partai baru misalnya PNI di bawah pimpinan Soekarno. Pada periode ini ada dua kubu yang berseteru nasionalisme Islam dan nasionalisme agama dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan, pada masa ini S.I pecah menjadi PSII, Komite Kebenaran, dan Partai Penyadar. Tahun 1930-an S.I dirubah menjadi partai syari’at Islam Indonesia, yang senantiasa bermusuhan dengan pemerintah. Pada tahun 1934 Cokroaminoto meninggal dunia, tiga tahun berikutnya H. Agus Salaim dipecat lalu muncul partai-partai baru, seperti: PII, GAPI, MIAI, MRI (D.Noer, 1980: 129-131).



[1]              Organisasi berpaham sosialis yang didirikan oleh Sneevlit tersebut, yaitu ISDV (Indische Social Democratische Vereeniging) yang didirikan orang Belanda di Indonesia ini tidak mendapat simpati rakyat, oleh karena itu diadakan “Gerakan Penyusupan” ke dalam tubuh Serikat Islam yang akhirnya berhasil mempengaruhi tokoh-tokoh Serikat Islam muda seperti Semaun, Darsono, Tan Malaka, dan Alimin.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Recent Posts