Selamat Datang | Selamat datang "Mahasiswa Baru Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 2017" - Selamat Bergabung | Semoga artikel dan isi web HIMAPES Unsri ini dapat memberikan manfaat |17 AGUSTUS 1945-2016 "Perjuangan Bangsa Masih Berlanjut" MERDEKA!!! | Terima kasih sudah mengunjungi web kami | Viva Historia... #noHistory noFuture

Friday, 9 February 2018

Kongres Sarekat Islam

Kongres-kongres Sarekat Islam
"Sebuah Perlawanan Terhadap Kedzoliman"

Kongres Pertama Sarekat Islam diadakan pada 26 Januari 1913 di Surabaya. Kongres tersebut dipimpin oleh Tjokroaminoto yang menjelaskan dengan tegas bahwa SI bukanlah partai politik dan tidak memiliki maksud serta tujuan untuk melakukan perlawanan pada pemerintah Hindia-Belanda (A. K. Pringgodigdo, 1994: 6). Pada kongres kedua Sarekat Islam di Yogayakarta pada tahun 1914, HOS Tjokroaminoto terpilih sebagai Ketua Sarekat Islam. Ia berusaha tetap mempertahankan keutuhan dengan mengatakan bahwa kecenderungan untuk memisahkan diri dari Central Sarekat Islam harus dikutuk dan persatuan harus dijaga karena Islam sebagai unsur penyatu. Kongres Ketiga (17-24 Juni 1916) diadakan di Bandung. Kongres ini merupakan Kongres Nasional SI yang Pertama dengan peserta sebanyak 360.000 orang sebagai perwakilan dari 80 SI daerah yang total anggotanya mecapai 800.000 orang. Kongres ini dipimpin oleh Tjokroaminoto dengan harapan agar SI dapat menuju ke arah persatuan yang teguh antar-golongan bangsa Indonesia(Kartodirdjo, 1999: 138).



Namun sebelum Kongres Sarekat Islam Kedua tahun 1917 yang diadakan di Jakarta. Muncul aliran revolusioner sosialistis (bercorak demokratis) yang selalu siap berjuang dipimpin oleh Semaun dan Darsono yang merupakan pelopor penggunaan senjata dalam berjuang melawan imperialisme yaitu teori perjuangan Marx. Pada saat itu Semaun menduduki jabatan ketua pada SI lokal Semarang. Timbulah pertentangan antara pendukung paham Islam dan paham Marx sehingga terjadilah perdebatan antara H. Agus Salim - Abdul Muis dengan pihak Semaun. Dalam Kongres itu diputuskan pula tentang keikutsertaan partai dalam Volksraad[1]. HOS Tjokroaminoto (anggota yang diangkat) dan Abdul Muis (anggota yang dipilih) mewakili Sarekat Islam dalam Volksraad tersebut (A. K. Pringgodigdo, 1999: 8).

Pada Kongres Sarekat Islam tahun 1921 di Madiun SI mengubah namanya menjadi PSI (Partai Sarekat Islam). Tahun 1921, Sarekat Islam pecah menjadi dua ketika cabang SI yang mendapat pengaruh komunis yaitu golongan kiri (paham Marx) dapat disingkirkan, lalu menamakan dirinya bernaung dalam Sarekat Rakyat (SR) atau Sarekat Islam Merah  yang merupakan organisasi dibawah naungan Partai Komunis Indonesia (PKI) dipimpin oleh Semaun  sedangkan Sarekat Islam Putih dipimpin oleh Cokroaminoto dengan anggotanya yaitu SI awal .Sejak itu, SI dan SR berusaha untuk mencari dukungan dari massa dan keduanya cukup berhasil (Poesponegoro, 2011: 345).

Kongres SI, 8-11 Agustus 1924 di Surabaya, mengambil keputusan non-kooperasi terhadap pemerintah dan Volksraad serta keputusan menentang kaum komunis secara giat. Kemudian Kongres CSI 21-27 Agustus 1925 di Yogya bertujuan untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penindasan dan penjajahan melalui pembukaan sekolah-sekolah guna mencetak pribadi yang tangguh dalam kehidupan sosial, budaya dan ekonomi berdasarkan syariat-syariat Islam.  Kongres Partai Sarekat Islam tahun 1927 menegaskan struktur partai yang kuat sehingga SI bergabung kedalam PPPKI[2].

PSI yang merupakan anggota federasi PPPKI, lambat laun tidak senang terhadap badan federatif itu. Dalam kongres PPPKI akhir bulan Desember 1929 di Solo, Mohammad Husni Thamrin menyatakan bahwa ia sangat keberatan terhadap sikap PSI cabang Batavia yang tidak ikut serta dalam rapat-rapat protes PPPKI terhadap poenale sanctie (sanksi hukuman yang diberikan bila para kuli melanggar kontrak/melarikan diri) yang diadakan bulan september sebelumnya (tahun 1929). Menanggapi kritik itu, maka PSI mengancam akan keluar dari PPPKI. Kemudian salah satu keputusan kongres PSI tahun 1930 adalah mengubah nama PSI menjadi PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia). Perubahan itu dilakukan untuk menunjukkan bahwasanya PSII sangat berbakti terhadap pembentukan Negara Kesatuan Indonesia (Poesponegoro, 2011: 345).




[1] Volksraad atau Dewan Rakyat", adalah semacam dewan perwakilan rakyat Hindia Belanda. Dewan ini   dibentuk pada tanggal 16 Desember 1916 oleh pemerintahan Hindia Belanda yang diprakarsai oleh Gubernur-Jendral J.P. van Limburg Stirum bersama dengan Menteri Urusan Koloni Belanda; Thomas Bastiaan Pleyte.
[2]. SI memantapkan perjuangannya adalah mencapai kemerdekaan nasional berdasarkan agama Islam. Karena tujuannya adalah untuk mencapai kemerdekaan nasional maka Partai Sarekat Islam menggabungkan diri dengan Pemufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI).

Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Recent Posts