Selamat Datang | Selamat datang "Mahasiswa Baru Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 2017" - Selamat Bergabung | Semoga artikel dan isi web HIMAPES Unsri ini dapat memberikan manfaat |17 AGUSTUS 1945-2016 "Perjuangan Bangsa Masih Berlanjut" MERDEKA!!! | Terima kasih sudah mengunjungi web kami | Viva Historia... #noHistory noFuture

Tuesday, 13 February 2018

Indische Partij : Kesatuan Aksi Melawan Koloni


Indische Partij 
Kesatuan Aksi Melawan Koloni
Oleh: Ella Karolina

E.F.E. Douwes Dekker berpendapat bahwa hanya melalui kesatuan aksi melawan koloni, bangsa Indonesia dapat mengubah sistem yang berlaku, juga keadilan bagi sesama suku bangsa yang merupakan keharusan dalam pemerintahan. Pada waktu itu terdapat Antitesis[1] antara penjajah dan terjajah, penguasa dan yang dikuasai. E.F.E. Douwes Dekker berpendapat, setiap gerakan politik haruslah menjadikan kemerdekaan yang merupakan tujuan akhir. Pendapatnya itu di salurkan melalui majalah Het Tijdschrift dan surat kabar De Expres. E.F.E. Douwes Dekker juga banyak berhubungan dengan para pelajar STOVIA di Jakarta, dan menjadi redaktur Bataviaasch Nieuwsblad maka tidak mengherankan kalau E.F.E. Douwes Dekker banyak berkenalan dan member kesempatan kepada penulis- penulis muda dalam surat kabar. Menurut Suwardi Suryaningrat, meskipun pendiri Indische Partij adalah orang indo, tetapi tidak mengenal supremasi indo atas bumi putera, bahkan menghendaki hilangnya golongan indo dengan meleburkan diri dalam masyarakat bumi putera.


Perjuangan untuk menentang perbedaan sosio-politik inilah yang menjadi dasar tindakan Suwardi Suryaningrat dan selanjutnya mendirikan Taman Siswa (1922) dan menentang Undang- undang Sekolah liar (1933), di sisi lain dr. Tjipto Mangoenkoesoemo meneruskan perjuanagn nya yang radikal, walaupun di buang bersana E.F.E.Douwes Dekker ke Belanda tahun 1913. Pada tahun 1926 di buang lagi ke belanda dan sebelumnya di penjarakan dua tahun di bandung. Sebelum jepang masuk mereka di bebaskan dari penjara dan pada tahun 1943 Suwardi Suryaningrat meninggal dunia.

Jiwa dinamis E.F.E. Douwes Dekker diawali ketika melakukan propaganda ke seluruh Jawa dari tanggal 15 September sampai dengan 3 Oktober 1912. Perjalanan itu di pergunakan untuk melakukan rapat- rapat dengan golongan elit lokal seperti di Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Surabaya, Semarang, Tegal, Pekalongan, dan Cirebon. E,F.E. Douwes Dekker disambut hangat oleh pengurus Budi Utomo di Yogyakarta. Mereka di ajak untuk mrmbangkitkan semangat golongan Indiers sebagai kekuatan politik untuk menentang penjajah. Perjalanannya itu menghasilkan tanggapan baik dan akhiryna di dirikan 30 cabang Indische Partij.
Konsep kebangsaan Hindia di sebarluaskan oleh E.F.E. Douwes Dekker, karena berpendapat bahwa Hindia dalam koloni Nederlandshe Indie harus di sadarkan dan di bebaskan dari belenggu penjajah. Dari anggaran Indische Partij dapat di simpulkan bahwa tujuannya adalah untuk membangun lapangan hidup dan menganjurkan kerja sama atas dasar persamaan ketatanegaraan guna memajukan tanah air hindia belanda dan untuk mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka. Hal ini berarti secara tidak langsung Indische Partij menolak kehadiran orang belanda asli belanda sebagai penguasa dan sekaligus melahirkan perasaan kebangsaan yang pertama karena mengalami Indonesia sebagai tanah airnya. Oleh karena itu, Indische Partij berdiri atas dasar nasionalisme yang menampung semua suku bangsa di Hindia Belanda untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.

Walaupun usia Indische Partij sangat pendek, tetapi semangat jiwa dari dr. Tjipto Mangkusumo dan Suwardi Suryaningrat sangat besar berpengaruh bagi para pemimpin pergerakan waktu itu. Terlebih lagi Indische Partij menunjukan garis politiknya secara jelas dan tegas serta menginginkan agar rakyat Indonesia dapat merupakan satu kesatuan penduduk yang multirasial, dan tujuannya dari partai ini adalah benar- benar Revolusioner karena mau menobrak kenyataan politik rasial yang di lakukan oleh pemerintah Kolonial. Tindakan ini terlihat nyata pada tahun 1913, pemerintah belanda akan mengadakan upacara peringatan 100 tahun bebasnya negeri belanda dari jajahan perancis( Napoleon), dengan cara memungut dana dari rakyat Indonesia. Kecaman- kecaman yang semakin keras menentang pemerintah belanda menyebabkan ketiga tokoh dari Indische Partij di tangkap tatun 1913 mereka di asingkan ke Belanda. Namun tahun 1914 Tjipto Mangoenkoesoemo di kembalikan ke Indonesia karena sakit, sedangkan Suwardi Suryaningrat dan Douwes Dekker baru di kembalikan ke Indonesia tahun 1919.

Douwes Dekker tetap terjun dalam bidang politik, Suwardi Suryaningrat terjun di bidang pendidikan. Meskipun Indische Partij tenggelam tetap memperjuangkan bangsa Indonesia. Telah lama Cipto Mangunkusumo mempunyai cita-cita tentang wawasan kebangsaan yang luas dan tegas. Secara nyata ketika ia masih sebagai anggota Budi Utomo, pada tanggal 9 September 1909 ia pernah mengusulkan agar Budi Utomo memperluas keanggotaannya, membuka pintu untuk semua Hindia Putera; bagi semua yang lahir, hidup, dan mati di tanah Hindia. Apa yang diusulkannya itu tegas. Sayang keinginannya itu harus kandas, karena ditolak oleh Konggres yang nyaris mayoritas terdiri dari golongan tua. Itulah sebabnya dalam Indische Partij apa yang dicita-citakan itu memperoleh tempat penyalurannya(M.C.Ricklefs:2005:260-261).

Dengan masuknya kedua tokoh nasionalis tersebut ke dalam tubuh Indische Partij yang baru berdiri itu, maka aktivitas politiknya menjadi lebih tegas dan keras. Dengan tambahnya tokoh-tokoh itu lahirlah “tiga serangkai” yang memiliki cara pandang dan arah berfikir sehaluan. Pada waktu itu pula Cipto Mangunkusumo memperkenalkan semboyan “Indie los van Holland”, Hindia lepas dari negeri Belanda. Itulah tujuan yang sebearnya, di mana saja Cipto Mangunkusumo berbicara, itulah kata-kata terakhir yang diucapkannya, yaitu Hindia lepas dari Nederland. Pada waktu itu apa yang diucapkan Cipto Mangunkusumo tersebut merupakan kata yang membuat telinga pemerintah kolonial panas.



[1]. Antitesis adalah pengungkapan gagasan yg bertentangan dalam susunan kata yg sejajar, seperti semboyan "Merdeka atau Mati"

Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Recent Posts