Selamat Datang | Selamat datang "Mahasiswa Baru Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 2017" - Selamat Bergabung | Semoga artikel dan isi web HIMAPES Unsri ini dapat memberikan manfaat |17 AGUSTUS 1945-2016 "Perjuangan Bangsa Masih Berlanjut" MERDEKA!!! | Terima kasih sudah mengunjungi web kami | Viva Historia... #noHistory noFuture

Sunday, 21 January 2018

Kuto Cerancangan : Mystery Palace Of Palembang

KUTO CERANCANGAN
(Keraton Palembang yang Menjadi Misteri)
Penulis : Andi Syarifuddin
Editor : Genov

Kuto Cerancangan merupakan kelanjutan keraton Palembang pasca Kuto Gawang di Palembang Lamo yang runtuh akibat pertempuran melawan VOC Belanda dalam tahun 1659. Sultan Abdurrahman Candi Walang (1659-1706), kemudian memindahkan keraton kesultanan ke kawasan Beringin Janggut serta membangun masjidnya. Selanjutnya tdk lama kemudian, oleh Sultan Agung Komarudddin (1714-1724) anak Sunan Abdurrahman Candi Walang dibangunlah keraton Kuto Cerancangan.
Gambar: Lukisan Penyerangan Belanda Terhadap Keraton Kuto Gawang
Sumber: Leiden

Nama "Cerancangan" berasal dari kata 'Rancang', karena memang arsitektur kuto ini telah dirancang khusus oleh Sultan Agung dengan ciri khas kuto atau temboknya yang terbuat dari batu-batu berlobang-lobang kecil (terawangan).
Dalam manuskrip Palembang melukiskan letak Kuto Cerancangan ini lokasinya berada lebih jauh ke darat, dibangun di atas lahan tanah Talang Jawa (antara 17 ilir - 20 ilir)  di belakang Kuto Beringin Janggut yang dibatasi oleh beberapa sungai, yaitu:  Sungai Musi, Sei Rendang, Karang Waru, Sei Tengkuruk dan Penedan. Keraton ini dilengkapi pula Balai Istana, Penghadapan Luar, peralatan senjata serta seorang kepala penjagaan istananya. Sebagai kepala penjaga istana Kuto Cerancangan ini ialah Ki. Ngabehi Raksa Upaya bin Ki. Temenggung Yuda Pati.
Sultan Agung akhirnya menyerahkan Kuto Cerancangan kepada puterinya Ratu Rangda dan anak-anaknya. Setelah kemudian Ratu Rangda menikah dengan Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (SMB I), Ratu Rangda bergelar Ratu Gading dan tidak lagi tinggal di Kuto Cerancangan. Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo mendirikan pula istana baru Kuto Tengkuruk atau Kuto Kecik dan Masjid Agung. Ratu Rangda diboyongnya ke istana yang baru tsb.
Setelah Kuto Cerancangan ditinggalkan oleh penghuninya, istana ini menjadi kosong dan mati. Sultan Agung pun tdk pula menjadikannya sebagai istana, beliau lebih memilih tinggal di keraton Beringin Janggut yang sekarang telah menjadi pasar 16 ilir. Kuto Cerancangan selanjutnya dijadikan ungkonan lahan pemakaman khusus bagi keturunan Raja-raja Palembang. Setelah Kesultanan Palembang Darussalam jatuh ke tangan kolonial Belanda (1823), barulah beberapa golongan rakyat biasa mulai ikut menguburkan jenazah di tanah Kuto Cerancangan.
Dalam tahun 1916, areal Kuto Cerancangan tsb telah dilarang oleh pemerintah Belanda sebagai tempat pemakaman, karena kolonial Belanda telah membuka beberapa lahan baru utk Taman Pemakaman Umum (TPU) di Kota Palembang.
Setelah zaman kemerdekaan, Kota Palembang mulai berkembang menjadi kota modern. Maka lokasi tanah pekuburan Kuto Cerancangan ini perlu akan dibangun gedung-gedung bertingkat sebagai pusat kota, area sentra bisnis. Kuburan-kuburan tua banyak dibongkar dan dipindahkan. Sungai Tengkuruk di timbun sejak tahun 1928 dan dijadikan ruas jalan utama yang sekarang dikenal dengan jalan Jenderal Sudirman.
Dengan demikian, Kuto Cerancangan hanya tinggal kenangan.

Sumber: Kms. H.Andi Syarifuddin (KHAS) 
Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Recent Posts