Selamat Datang | Selamat datang "Mahasiswa Baru Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 2017" - Selamat Bergabung | Semoga artikel dan isi web HIMAPES Unsri ini dapat memberikan manfaat |17 AGUSTUS 1945-2016 "Perjuangan Bangsa Masih Berlanjut" MERDEKA!!! | Terima kasih sudah mengunjungi web kami | Viva Historia... #noHistory noFuture

Wednesday, 24 January 2018

Boedi Oetomo : Percikan Membara Di Yogyakarta

Boedi Oetomo 
Bangkit dan Bergerak Bagian II
Oleh : Kms. Gerby Novario

1.     Cabang Yogya Berdiri
Sebagai api yang semula membara, maka semangat kebangunan dan kebangitan menyala dimana-mana. Percikan api yang dicetuskan dalam lingkungan kecil di gedung Stovia menjulang tinggi. Semua itu perlu dikoordinir, dan dipilihlah Yogya sebagai lokasi cabang pertama Budi Utomo dengan ketuanya dari pihak tua yakni dr. Wahidin Sudirohusodo. Dan juga perencanaan dalam pengadaan kongres pertama Budi Utomo.


Organisasi yang baru terbentuk ini, walaupun perhatian utamanya dipusatkan pada kaum bumiputera  sebagai anggota, tetapi sebenarnya tidak ada maksud mengasingkan golongan lain dan tidak membedakan bangsa, jenis kelamin, dan agama. Semua pihak yang bersimpati terhadap kemajuan Nusa dan Bangsa Indonesia diundang untuk menghadiri kongres pertamanya yang diadakan di Yogyakarta pada tanggal 3, 4, dan 5 Oktober 1908.
Motor kongres Budi Utomo yang pertama ini adalah pemuda Sutomo, dengan cabang Jakarta sebagai basisnya. Biaya kongres yang pertama ini dikumpulkan dari sumbangan sukarela para pelajar itu sendiri, ada yang memberikan arloji, kain panjang, ikat kepala, pakaian lama, dan barang-barang lain untuk dirupakan uang untuk biaya kongres(Roeslan, 1976; 22)
Yang menyatakan kesedian datang ke kongres di Yogya antara lain murid-murid dari sekolah pertanian dan peternakan Bogor, Burger Avond-school (BAS) Surabaya, Sekolah Pendidikan Pangreh Praja (Opleidings School), dari Magelang dan Probolinggo, Sekolah Pendidikan Guru (Kweek-School) dari Bandung, Yogya, Probolinggo, dan sejumlah besar pribadi-pribadi lainnya, dari golongan intelek dan priyayi.
Terutama kaum Priyayi tinggi dari daerah Yogya menyatakan kesanggupannya membantu Kongres di Yogya itu. Kebanyakan mereka adalah pegawai Pakualaman dan pegawai govermen, yakni pegawai pemerintahan Belanda(Roeslan, 1976; 22)
Sambutan datang dari mana-mana dan sangat hebat. Peristiwa ini dipandang sebagai hari yang bersejarah dan disambut dengan penuh kesungguhan serta kegembiraan.”Inilah kebangunan orang Jawa dan merupakan kehidupan baru”, demikian komentar-komentar didalam surat kabar-surat kabar Belanda.
Adapun yang menjadi inti persoalan dalam kongres pertamanya itu yakni masih sekitar pengaruh kedudukan peradaban Barat dalam perkembangan kebudayaan Indonesia, seperti yang tercermin dalam sikap dan pendirian para pemuda terhadap soal itu. Penyampaian dari tokoh-tokoh Budi Utomo dalam kongres pertamanya antara lain:
1.      Dalam pidato pembukaannya, M. Wahidin Sudirohusodo membentangkan tujuan perkumpulan, yaitu terutama dengan perkemabangan jiwa yang hendak mempertinggi derajat bangsa, sehingga lebih besar kesadarannya tentang hak dan kewajibannya sedangkan pengetahuannya dapat mengelakkan beberapa pengaruh sifat yang hingga saat itu menhalang-halangi jalan kearah kesadaran atas harga diri, tanpa kehilangan watak nasional sebagai bangsa, tanpa terbawa oleh oleh imitasi adat-istiadat barat meskipun menuntut ilmu pengetahuan Barat sebagai alat untuk mencapai kemajuan.
2.      Pembicara II, R. Soetomo ketua cabang Jakarta, dikemukakan sebagai dalil, bahwa pengetahuan memberikan alat-alat untuk menambahkan kesejahteraan material. Kekurangan pengetahuan menjadikan rakyat sebagai umpan eksploitasi bangsa asing saja. Pendeknya Jawa sangat membutuhkan pengajaran di pelbagai lapangan, kata Soetomo.
3.      Pembicara III, M. Gunawan Mangunkusumo, wakil ketua cabang Jakarta. Dikatakan bahwa Boedi Oetomo harus memperbaiki nasib rakyat kecil yag jelek, karena konservatisme dan takhayul. Budi utomo bertugas di desa dimana rakyat kecil memerlukan pendidikan .
4.      Pembicara IV, Mas Rajiman Mangunhusodo dari Solo, menekankan nasionalitas Jawa dengan semboyan “Bangsa Jawa tetap Jawa”. Isi uraiannya mengandung banyak unsur reaksioner, aristokratis, konservatif sehingga membangkitkan reaksi dan bantahan(Soegeng, 1992; 49-50)
Reaksi serta bantahan yang keras tak lain ialah tak lain dari Cipto yang sangat demokratis itu. Suasana dalam bantahan ini benar-benar merupakan titik puncak kongres itu.
Ditolak pendapat, M. Rajiman yang mengatakan bahwa ada perbedaan antara bakat Bangsa Barat dan Timur serta pengetahuan Barat tidak sesuai dengan bangsa Jawa dan tidak memberikan hasil. Dikemukakan oleh Cipto Mangunkusumo bahwa pendidikan benar-benar mempunyai peranan yang besar dan bangsa Jawa perlu sekali mengambil keuntungan dari kemajuan Barat untuk memperbaiki tingkat penghidupannya.
Kecuali itu, dengan bersemangat pula Cipto Mangunkusumo mempertahankan pendiriannya, bahwa sebuah organisasi politik harus bergerak secara demokratis dan terbuka bagi setiap anak Indonesia. Organisasi ini harus menjadi pimpinan bagi rakyat banyak dan jangan mencari hubungan dengan cabang atasan, bupati-bupati dan pegawai-pegawai lain, karena feodalisme sama sekali tidak cocok dengan demokrasi. Karena tidak adanya persesuaian dengan Budi Utomo itu, maka keluarlah Cipto Mangunkusumo dari organisasi Budi Utomo(Soegeng, 1992; 50-51)
Dibawah kepengurusan “generasi tua”, kegiatan Budi Utomo yang awalnya terpusat dibidang pendidikan, sosial, dan Kebudayaan sedikit demi sedikit mula bergerser ke politik . Strategi perjuangan Budi utomo juga mulai bergeser dari awalnya Protonasionalisme menjadi lebih kearah kooperatif dengan Pemerintahan Kolonial Belanda.
Dalam perjuangannya dibidang politik, ketika pemerintahan Kolonial Belanda sedang menghadapi Perang Dunia I, Kolonial Belanda menetapkan wajib militer bagi rakyat pribumi, dan disinilah Budi Utomo bertindak bila pihak Kolonial Belanda ingin menetapkan Wajib Militer maka ada salah satu syarat yang diberikan Budi Utomo yaitu harus dibentuk terlebih dahulu sebuah lembaga perwakilan rakyat (Volksraad) dan usulan tersebut diterima dan disetujui oleh Gubernur Jendral Van Limburg Stirum sehingga terbetuk Volksraad pada tanggal 18 Mei !918, dan didalam lembaga ini terdapat perwakilan organisasi Budi Utomo, yaitu Suratmo Suryokusumo(Wikipedia.com)
Budi Utomo juga menyadari arti penting manfaat organisasi pergerakan bagi rakyat, maka pada tanggal 1920 organisasi Budi Utomo membuka diri untuk menerima anggota dari rakyat biasa. Dan pergerakkan nasional bangsa mulai meluas. Dan oleh sebab itu pada tanggal 20 Mei dijadikan sebagai hari kebangkitan nasional(iwak-pithik.blogspot.com)

Daftar Pustaka

George McTurnan Kahin. 1995.Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia: _____RefleksiPergumulan Lahirnya Republik. UNS Press dan Pustaka Sinar Harapan.
M.C. Ricklefs. 2005. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gajah Mada _____University Press.
Poesponegoro , Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia V – Zaman _____Kebangkitan            Nasional dan Masa Hindia Belanda . –cet-2 Edisi Pemuktahiran. Jakarta : Balai    Pustaka. 
Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Recent Posts