Selamat Datang | Selamat datang "Mahasiswa Baru Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 2017" - Selamat Bergabung | Semoga artikel dan isi web HIMAPES Unsri ini dapat memberikan manfaat |17 AGUSTUS 1945-2016 "Perjuangan Bangsa Masih Berlanjut" MERDEKA!!! | Terima kasih sudah mengunjungi web kami | Viva Historia... #noHistory noFuture

Monday, 22 January 2018

Boedi Oetomo : Bangkit dan Bergerak

Boedi Oetomo
"Energi Pergerakan Bangsa"
Oleh: Kms. Gerby Novario, Ayu Rizky Utami, dan Azuar Anas


Dengan semboyan hendak meningkatkan martabat rakyat. Dilatarbelakangi situasi ekonomi yang memburuk di Pulau Jawa karena eksploitasi kolonial dan westernisasi, seorang Priyai baru, dr. Wahidin Sudirohusodo bangkit mengangkat kehormatan rakyat jawa dengan memberikan pengajaran. Ia berusaha menghimpun dana beasiswa (study fond) untuk memberikan pendidikan Barat kepada golongan Priyai Jawa.

Gambar. Mahasiswa STOVIA dalam proses pembelajaran

Propaganda yang dijalankan oleh dr. Wahidin tersebut disambut oleh Soetomo, seorang mahasiswa School tot Opleiding van Indische Arsten (STOVIA) atau Sekolah Dokter Jawa. Bersama rekan-rekannya dia mendirikan Budi Utomo (BU) di Jakarta pada 20 Mei 1908.
Organisasi Budi Utomo ini sejak awal sudah menetapkan bahwa bidang perhatiannya meliputi penduduk Jawa dan Madura. Sejak kelahirannya terdapat pro dan kontra. Kelompok kontra membuat organisasi tandingan yang bernama Regent Bond, yang anggot-anggotany berasal dari kalangan bupati pengatur status quo yang tidak ingin berubah. Adapun yang pro, seperti Tirto Kusumo merupakan kalangan muda yang berpandangan maju.
Pada konres Budi Utomo yang diselenggarakan pada 3-5 Oktober 1908, Tirto Kusumo diangkat menjadi ketua pengurus besar. Hingga diadakannya kongres yang pertama ini, BU telah memiliki tujuh cabang di beberapa kota, yakni Batavia, Bogor, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, dan Ponorogo. Pada kongres di Yogyakarta ini, diangkatlah Raden Adipati Tirtokoesoemo (mantan bupati Karanganyar) sebagai presiden Budi Utomo yang pertama. Semenjak dipimpin oleh Raden Adipati Tirtokoesoemo, banyak anggota baru BU yang bergabung dari kalangan bangsawan dan pejabat kolonial, sehingga banyak anggota muda yang memilih untuk menyingkir.
Pada masa itu pula muncul Sarekat Islam, yang pada awalnya dimaksudkan sebagai suatu perhimpunan bagi para pedagang besar maupun kecil di Solo dengan nama Sarekat Dagang Islam, untuk saling memberi bantuan dan dukungan. Tidak berapa lama, nama itu diubah oleh, antara lain, Tjokroaminoto, menjadi Sarekat Islam, yang bertujuan untuk mempersatukan semua orang Indonesia yang hidupnya tertindas oleh penjajahan. Sudah pasti keberadaan perkumpulan ini ditakuti orang Belanda. Munculnya gerakan yang bersifat politik semacam itu rupanya yang menyebabkan Budi Utomo agak terdesak ke belakang. Kepemimpinan perjuangan orang Indonesia diambil alih oleh Sarekat Islam dan Indische Partij karena dalam arena politik Budi Utomo memang belum berpengalaman. Karena gerakan politik perkumpulan-perkumpulan tersebut, makna nasionalisme makin dimengerti oleh kalangan luas. Ada beberapa kasus yang memperkuat makna tersebut. Ketika Pemerintah Hindia Belanda hendak merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya, dengan menggunakan uang orang Indonesia sebagai bantuan kepada pemerintah yang dipungut melalui penjabat pangreh praja pribumi, misalnya, rakyat menjadi sangat marah.
Kemarahan itu mendorong Soewardi Suryaningrat (yang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara) untuk menulis sebuah artikel "Als ik Nederlander was" (Seandainya Saya Seorang Belanda), yang dimaksudkan sebagai suatu sindiran yang sangat pedas terhadap pihak Belanda. Tulisan itu pula yang menjebloskan dirinya bersama dua teman dan pembelanya, yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo ke penjara oleh Pemerintah Hindia Belanda (lihat: Boemi Poetera). Namun, sejak itu Budi Utomo tampil sebagai motor politik di dalam pergerakan orang-orang pribumi.
Agak berbeda dengan Goenawan Mangoenkoesoemo yang lebih mengutamakan kebudayaan dari pendidikan, Soewardi menyatakan bahwa Budi Utomo adalah manifestasi dari perjuangan nasionalisme. Menurut Soewardi, orang-orang Indonesia mengajarkan kepada bangsanya bahwa "nasionalisme Indonesia" tidaklah bersifat kultural, tetapi murni bersifat politik. Dengan demikian, nasionalisme terdapat pada orang Sumatera maupun Jawa, Sulawesi maupun Maluku.
Pendapat tersebut bertentangan dengan beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Budi Utomo hanya mengenal nasionalisme Jawa sebagai alat untuk mempersatukan orang Jawa dengan menolak suku bangsa lain. Demikian pula Sarekat Islam juga tidak mengenal pengertian nasionalisme, tetapi hanya mempersyaratkan agama Islam agar seseorang bisa menjadi anggota. Namun, Soewardi tetap mengatakan bahwa pada hakikatnya akan segera tampak bahwa dalam perhimpunan Budi Utomo maupun Sarekat Islam, nasionalisme "Indonesia" ada dan merupakan unsur yang paling penting.
Dalam kongres ini, etnonasionalisasi semakin bertambah besar. Selain itu, dalam kongres tersebut juga timbul dua kelompok, yaitu kelompok pertama diwakili oleh golongan pemuda yang merupakan minoritas yang cenderung menempuh jalan politik dalam menghadapi pemerintah kolonial. Adapun kelompok kedua merupakan golongan mayoritas diwakili oleh golongan tua yang menempuh perjuangan dengan cara lama, yaitu sosialkultural.
Dari hasil kongres 3-5 Oktober 1908 tersebut diambil keputusan sebagai berikut :
1.      Boedi Oetomo tidak ikut mengadakan kegiatan Politik
2.      Kegiatan utama ditunjukan kepada bidang pendidikan dan budaya
3.      Ruang garak terbatas hanya Jawa dan Madura
(sumber : Ejang Odih dan Sumarni, 1995 Hal.101)
Golongan minoritas yang berpandangan maju dipelopori oleh Dr. Tjipto Mangunkusumo. Dia ingin menjadikan Budi Utomo bukan hanya sebagai partai politik yang mementingkan rakyat, melainkan juga sebuah organisasi yang kegiatannya tesebar di Indonesia. Sementara golongan tua menginginkan pembentukan dewan pemimpin yang didomonasi oleh para pejabat generasi tua. Golongan ini juga mendukung pendidikan yang luas bagi kaum priyai dan mendorong kegiatan pengusaha jawa. Tjipto terpilih sebagai seorang anggota dewan. Namun, pada 1909 dia mengundurkan diri dan akhirnya bergabung dengan Inddische Partij yang perjuangannya bersifat radikal.
Dalam perkembangan selanjutnya, Budi Utomo tetap meneruskan cita-cita yang mulia menuju “kemajuan yang selaras buat tanah air dan bangsa”. Ketika pecah perang Dunia I (1914) Budi Utomo turut memikirkan cara mempertahankan Indonesia dari serangan luar(sumber : Nana Supriana,  Hal. 145-146).
Dalam konteks penjajahan Kolonial Belanda, lahirnya Budi Utomo sangatlah besar artinya. Ketika itu peraturan pemerintah kolonial Belanda, yaitu Regeerings Reglement pasal 111, melarang didirikannya perkumpulan politik atau perkumpulan yang dianggap menggangu ketentraman umum. Bahkan pembicaraan yang menyangkut masalah-masalah politik  dianggap tabu. Beberapa pelajar Stovia (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen)  yang kemudian secara diam-diam melakukan perkumpulan dan mampu menembus peraturan tersebut dengan melalui pembentukan Budi Utomo di Jakarta. Teknik yang digunakan guna menembus peraturan pelarangan tersebut adalah dengan mencantumkan tujuan organisasinya pada segi Sosial Budaya. Jadi mereka berusaha menghindari pembicaraan yang menyangkut hal-hal yang bersifat politis(Departemen Penerangan RI, 1999; 2)
Pada awal mula pendirian Budi Utomo ini salah satunya dilatar belakangi keadaan sosial masyarakat bumi putera yang dikatakan lumayan masih jauh dari kata sejahtera, dan juga pada waktu  itu walaupun sekolah pendidikan dasar sudah banyak didirikan oleh Pemerintahan Belanda namun suasana pendidikan golongan bumiputera masih jauh dari memuaskan. Orang Indonesia yang sempat menginjak bangku perguruan tinggi seperti Soetomo dan Gunawan Mangunkusumo di Stovia memang masih ada, tetapi rasa tidak puas tetap melekat di dada mahasiswa-mahasiswa itu. Sebabnya ialah karena mayoritas rakyat masih terbelakang sebagai akibat pendidikan, kehidupan, dan kebudayaan rakyat masih jauh dari ukuran normal(Soegeng, 1992: 48)
Tentang berdirinya perhimpunan Budi Utomo ini, juga dituliskan dari cerita Gunawan Mangunkusumo, yang dimuat dalam buku Soembangsih, Sebuah buku peringatan 10 tahun berdirinya Budi Utomo, diterbitkan pada 20 Mei 1918 sebagai berikut:
“tekanan-tekanan di udara masyarkat luar dan dalam negeri sejak beberapa bulan dan dalam negeri sejak bebrapa bulan lamanya telah menyentuh jiwa para pemuda pelajar STOVIA, terutama jiwa Soetomo. Berita-berita luar negeri menjadi bahan pembicaraan. Demikian juga kepincangan-kepincangan didalam negeri, terutama dibidang pengajaran, pendidikan, perekonomian dan ke pangreh prajaa kolonial menjadi bahan renungan. Diresahkan oleh Soetomo dengan kawan-kawannya perlunya suatu organisasi tersendiri, untuk menunjukan kepada dunia luar bahwa pemuda dan pelajar ingin memajukan rakyatnya di segala bidang, ingin menjadi penuntun bagi rakyatnya dari dalam segala ke alam tenang”
Tokoh yang tidak dapat dilepaskan dari berdirinya Budi Utomo yaitu Soetomo, Soetomo aktif sekali menyebarkan cita-cita yang sangat luar biasa ini. Tidak hanya teman-teman sekelasnya yang dihubungi, Soetomo juga mendatangi juga para murid dari kelas lain, baik yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah. Di kelasnya Soetomo-Goenawan tercatat 17 murid, dikelas yang lebih tinggi ada 11 murid, dikelas yang lebih rendah ada sekitar 20 murid, belum terhitung murid-murid dari kelas yang lebih rendah lagi. Semua kelas itu didatangi oleh Soetomo, dan dijelaskan maksudnya. Penerimaan dimana-mana baik sekali(Roeslan, 1976; 20).
Ditetapkan kemudian untuk berkumpul bersama pada suatu hari tertentu untuk membulatkan pendapat. Hari itu adalah hari minggu tanggal 20 Mei 1908. Tempatnya ialah “ in de zaal van het eerste jaar der geneeskundige afdeeling”, ‘ruang pelajaran kelas satu”. Demikian keterangan Goenawan Mangunkusumo (ruang ini sekarang telah dipugar dan diberi nama Ruang Budi Utomo)(Roeslan, 1976; 20).
Pada awal lahirnya Budi Utomo, organisasi ini harus dirahasiakan lebih dulu, para pendirinya sangat berhati-hati jangan sampai timbul rintangan-rintangan yang tak perlu, sebelum Budi Utomo kuat. Diusahakan lebih dulu supaya pelajar-pelajar sekolah lain, seperi pendidikan guru, penyuluh pertanian dan sebagainya diajak untuk memperkuat barisan Budi Utomo
Dalam tulisan Goenawan Mangukusumo:
“Tepat pukul 9 pagi semua sudah berkumpul, Soetomo mulai berbicara, dan menjelaskan maksud dan tujuan pertemuan pagi itu. Beliau mengemukakan gagasan dan cita-citanya secara singkat, terang, dan jelas. Beliau berbicara “zonder hartstocht, sober en duidelijk”; tanpa nafsu, sederhana, dan tegas. Setelah soetomo berbicara maka – tulis Goenawan Mangunkusum, reaksinya adalah hebat sekali, “Donderend was het applaus”; semua tepk-tangan genggap gempita, tanda setuju sepenuhnya. Gagasan Soetomo dan kawan-kawan berhasil, didirikanlah saat itu juga perkumpulan”Budi Utomo”; organisasi modern yang pertama dalam sejarah bangsa Indonesia. Ketuanya adalah Soetomo!”
Demikianlah apa yang disadur dalam tulisannya Goenawan Mangunkusumo. Tulisan ini boleh dikatakan salah satu laporan otentik ditulis oleh orang yang ikut hadir dan ikut mendorong cita-cita luar biasa ini(Roeslan, 1976; 25)
Dengan Tujuan menaikkan derajat bangsa, beberapa mahasiswa tersebut mendirikan organisasi Budi Utomo. Pada hari historis, 20 Mei 1908 didirikan oleh mereka suatu perkumpulan , bernama Budi Utomo yang diketuai oleh Soetomo. Penerimaan anggota dibatasi dan yang diterima hanya mereka yang mempunyai keinsyafan dan kegairahan untuk mendukung dan menyebarkan cita-cita bersama ke arah emansipasi dan solidaritas. Meskipun tidak dilakukan propaganda secara besar-besaran, namun dalam satu triwulan saja jumlah anggota sudah mencapai 650 orang, diantaranya terdapat kaum terpelajar, pegawai, pamong praja dan swastawan (Soegeng, 1992; 48)

Daftar Pustaka

George McTurnan Kahin. 1995.Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia: _____RefleksiPergumulan Lahirnya Republik. UNS Press dan Pustaka Sinar Harapan.
M.C. Ricklefs. 2005. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gajah Mada _____University Press.

Poesponegoro , Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia V – Zaman _____Kebangkitan            Nasional dan Masa Hindia Belanda . –cet-2 Edisi Pemuktahiran. Jakarta : Balai    Pustaka. 
Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Recent Posts