Selamat Datang | Selamat datang "Mahasiswa Baru Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 2017" - Selamat Bergabung | Semoga artikel dan isi web HIMAPES Unsri ini dapat memberikan manfaat |17 AGUSTUS 1945-2016 "Perjuangan Bangsa Masih Berlanjut" MERDEKA!!! | Terima kasih sudah mengunjungi web kami | Viva Historia... #noHistory noFuture

Wednesday, 24 January 2018

Belanda dan Boedi Oetomo

Boedi Oetomo
"Kebangkitan dan Kehancuran"
Bagian III
Oleh : Kms. Gerby Novario

Diawal pergerakan Budi Utomo, organisasi ini lebih banyak berperan untuk pendidikan, sosial dan budaya bagi rakyat akan tetapi lama kelamaan Budi Utomo mulai merapat ke politik, hal ini membuat pemerintahan Kolonial Belanda mengawasi cermat sekali pergerakkan Budi Utomo, karena bila Budi Utomo bisa lebih merapat ke politik dan dapat lebih memotori pergerakan rakyat hal ini dapat sangat berdampak atas kedudukan Kolonial Belanda ditanah jajahannya(Roeslan, 1976; 31-32)

         
     Berakhirnya Organisasi Budi Utomo di Indonesia
            Budi utomo pada dasarnya merupakan suatu organisasi priyayi jawa. Organisasi ini  secara resmi menetapkan bahwa bidang perhatiannya meliputi penduduk jawa dan madura, dengan demikian mencerminkan kesatuan administrasi antar kedua pulau tersebut dan mencakup masyarakat sunda dan Madurayang kebudayaannya mempunyai kaitan erat dengan Jawa. Bukan bahasa Jawa melainkan bahasa Melayu yang dipilih sebagai bahasa resmi Budi Utomo. Namun demikian , kalangan priyayi Jawa dan Sunda adalah yang menjadi inti dukungan Budi Utomo. Organisasi ini pada dasarnya merupakan suatu lembaga yang mengutamakan kebudayaan dan pendidikan, organisasi tersebut jarang memainkan peran politik yang aktif(M.C.Riclefs, 2005:250).
            Pada bulan oktober 1908 Budo Utomo menyelenggarakan kongresnya yang pertama di Yogyakarta. Pada saat itu wahidin sudah hanya menjadi tokoh bapak saja dan bermunculan suara-suara baru untuk mengatur organisasi tersebut. Suatu kelompok minoritas yang dipimpin oleh Tjipto Mangunkusumo(1885-1943) yang juga seorang dokter yang sifatnya radikal. Dia ingin agar Budi Utomo menjadi partai politik yang mengangkat rakyat pada umumnya daripada hanya golongan priyayi, dan kegiatan-kegiatannya lebih tersebar di seluruh Indonesia daripada terbatas hanya madura dan jawa saja.
            Gubernur Jenderal Van Heutsz menyambut baik Budi Utomo sebagai tanda keberhasilan politik Ethis. Memang itulah yang dikehendakinya; yaitu suatu organisasi pribumi yang progresif-moderat yang dikendalikan oleh para pejabat yang maju. Pejabat-pejabat yang lainnya mencurigai Budi Utomo atau semata-mata menganggapnya sebagai gangguan potensial akan tetapi, pada bulanDesember 1909 organisasi tersebut dinyatakan sebagai organisasi yang sah.
Runtuhnya organisasi budi Utomo yaitu pada tahun 1935, hal in jugai di sebabkan karena adanya tekanan terhadap pergerakan nasional dari pemerintah kolonial membuat Budi Utomo kehilangan wibawa, sehingga terjadi perpisahan kelompok moderat dan radikal dalam pengaruh Budi Utomo makin berkurang. Pada tahun 1935 organisasi ini bergabung dengan organisasi lain menjadi Parindra (Suhartono, 2001 : 31). Sejak saat itu Budi Utomo terus mundur dari arena politik dan kembali kekeadaan sebelumnya. Dalam bukunya Pringgodigdo, 1998:2-3, menyebutkan bahwa keruntuhan Budi Utomo disebabkan karena adanya propaganda kemerdekaan Indonesia yang dilakukan Indische Partji berdasarkan ke Bangsaan sebagai indier yang terdiri dari Bangsa Indinesia, Belanda Peranakan, dan Tionghoa. Banyak orang yang memandang Budi Utomo lembek oleh karena menuju “kemajuan yang selaras buat tanah air dan Bangsa” serta terlalu sempit keanggotaannya (hanya untuk Bangsa Indonesia dari Jawa, Madura, Bali, dan Lombok yaitu daerah yang berkebudayaan Jawa semata-mata) meninggalkan Budi Utomo.
Berdirinya Muhammadyah merugikan Budi Utomo, karena Budi Utomo tidak mencampuri agama. Jadi Budi Utomo kehilangan kedudukan monopolinya yang menyebabkan timbulnya perkumpulan beraliran Indisch-Nasionalisme Radikal yang beraliran demokratis dengan dasar agama dan yang beraliran keinginan mengadakan pengajaran modern berdasarkan agama dan ke Bangsaan diluar politik. Beranjak dipemerintahan kolonial menyebut Budi Utomo sebagai tanda keberhasilan politik Etis dimana memang itu yang dikehendakinya: suatu organisasi pribumi progresif-moderta serta dikendalikan oleh para pejabat. Pejabat-pejabat Belanda lainnya mencurigai Budi Utomo atau menganggapnya sebagai gangguan potensial. Desember 1909 Budi Utomo dinyatakan sebagai organisasi sah. Adanya sambutan hangat dari Batavia menyebabkan banyak orang Indonesia tidak puas dengan pemerintah yang mencurigai itu(Ricklefs, 2005 : 250-251).

 Daftar Pustaka

George McTurnan Kahin. 1995.Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia: _____RefleksiPergumulan Lahirnya Republik. UNS Press dan Pustaka Sinar Harapan.
M.C. Ricklefs. 2005. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gajah Mada _____University Press.
Poesponegoro , Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia V – Zaman _____Kebangkitan            Nasional dan Masa Hindia Belanda . –cet-2 Edisi Pemuktahiran. Jakarta : Balai    Pustaka. 

Boedi Oetomo : Percikan Membara Di Yogyakarta

Boedi Oetomo 
Bangkit dan Bergerak Bagian II
Oleh : Kms. Gerby Novario

1.     Cabang Yogya Berdiri
Sebagai api yang semula membara, maka semangat kebangunan dan kebangitan menyala dimana-mana. Percikan api yang dicetuskan dalam lingkungan kecil di gedung Stovia menjulang tinggi. Semua itu perlu dikoordinir, dan dipilihlah Yogya sebagai lokasi cabang pertama Budi Utomo dengan ketuanya dari pihak tua yakni dr. Wahidin Sudirohusodo. Dan juga perencanaan dalam pengadaan kongres pertama Budi Utomo.


Organisasi yang baru terbentuk ini, walaupun perhatian utamanya dipusatkan pada kaum bumiputera  sebagai anggota, tetapi sebenarnya tidak ada maksud mengasingkan golongan lain dan tidak membedakan bangsa, jenis kelamin, dan agama. Semua pihak yang bersimpati terhadap kemajuan Nusa dan Bangsa Indonesia diundang untuk menghadiri kongres pertamanya yang diadakan di Yogyakarta pada tanggal 3, 4, dan 5 Oktober 1908.
Motor kongres Budi Utomo yang pertama ini adalah pemuda Sutomo, dengan cabang Jakarta sebagai basisnya. Biaya kongres yang pertama ini dikumpulkan dari sumbangan sukarela para pelajar itu sendiri, ada yang memberikan arloji, kain panjang, ikat kepala, pakaian lama, dan barang-barang lain untuk dirupakan uang untuk biaya kongres(Roeslan, 1976; 22)
Yang menyatakan kesedian datang ke kongres di Yogya antara lain murid-murid dari sekolah pertanian dan peternakan Bogor, Burger Avond-school (BAS) Surabaya, Sekolah Pendidikan Pangreh Praja (Opleidings School), dari Magelang dan Probolinggo, Sekolah Pendidikan Guru (Kweek-School) dari Bandung, Yogya, Probolinggo, dan sejumlah besar pribadi-pribadi lainnya, dari golongan intelek dan priyayi.
Terutama kaum Priyayi tinggi dari daerah Yogya menyatakan kesanggupannya membantu Kongres di Yogya itu. Kebanyakan mereka adalah pegawai Pakualaman dan pegawai govermen, yakni pegawai pemerintahan Belanda(Roeslan, 1976; 22)
Sambutan datang dari mana-mana dan sangat hebat. Peristiwa ini dipandang sebagai hari yang bersejarah dan disambut dengan penuh kesungguhan serta kegembiraan.”Inilah kebangunan orang Jawa dan merupakan kehidupan baru”, demikian komentar-komentar didalam surat kabar-surat kabar Belanda.
Adapun yang menjadi inti persoalan dalam kongres pertamanya itu yakni masih sekitar pengaruh kedudukan peradaban Barat dalam perkembangan kebudayaan Indonesia, seperti yang tercermin dalam sikap dan pendirian para pemuda terhadap soal itu. Penyampaian dari tokoh-tokoh Budi Utomo dalam kongres pertamanya antara lain:
1.      Dalam pidato pembukaannya, M. Wahidin Sudirohusodo membentangkan tujuan perkumpulan, yaitu terutama dengan perkemabangan jiwa yang hendak mempertinggi derajat bangsa, sehingga lebih besar kesadarannya tentang hak dan kewajibannya sedangkan pengetahuannya dapat mengelakkan beberapa pengaruh sifat yang hingga saat itu menhalang-halangi jalan kearah kesadaran atas harga diri, tanpa kehilangan watak nasional sebagai bangsa, tanpa terbawa oleh oleh imitasi adat-istiadat barat meskipun menuntut ilmu pengetahuan Barat sebagai alat untuk mencapai kemajuan.
2.      Pembicara II, R. Soetomo ketua cabang Jakarta, dikemukakan sebagai dalil, bahwa pengetahuan memberikan alat-alat untuk menambahkan kesejahteraan material. Kekurangan pengetahuan menjadikan rakyat sebagai umpan eksploitasi bangsa asing saja. Pendeknya Jawa sangat membutuhkan pengajaran di pelbagai lapangan, kata Soetomo.
3.      Pembicara III, M. Gunawan Mangunkusumo, wakil ketua cabang Jakarta. Dikatakan bahwa Boedi Oetomo harus memperbaiki nasib rakyat kecil yag jelek, karena konservatisme dan takhayul. Budi utomo bertugas di desa dimana rakyat kecil memerlukan pendidikan .
4.      Pembicara IV, Mas Rajiman Mangunhusodo dari Solo, menekankan nasionalitas Jawa dengan semboyan “Bangsa Jawa tetap Jawa”. Isi uraiannya mengandung banyak unsur reaksioner, aristokratis, konservatif sehingga membangkitkan reaksi dan bantahan(Soegeng, 1992; 49-50)
Reaksi serta bantahan yang keras tak lain ialah tak lain dari Cipto yang sangat demokratis itu. Suasana dalam bantahan ini benar-benar merupakan titik puncak kongres itu.
Ditolak pendapat, M. Rajiman yang mengatakan bahwa ada perbedaan antara bakat Bangsa Barat dan Timur serta pengetahuan Barat tidak sesuai dengan bangsa Jawa dan tidak memberikan hasil. Dikemukakan oleh Cipto Mangunkusumo bahwa pendidikan benar-benar mempunyai peranan yang besar dan bangsa Jawa perlu sekali mengambil keuntungan dari kemajuan Barat untuk memperbaiki tingkat penghidupannya.
Kecuali itu, dengan bersemangat pula Cipto Mangunkusumo mempertahankan pendiriannya, bahwa sebuah organisasi politik harus bergerak secara demokratis dan terbuka bagi setiap anak Indonesia. Organisasi ini harus menjadi pimpinan bagi rakyat banyak dan jangan mencari hubungan dengan cabang atasan, bupati-bupati dan pegawai-pegawai lain, karena feodalisme sama sekali tidak cocok dengan demokrasi. Karena tidak adanya persesuaian dengan Budi Utomo itu, maka keluarlah Cipto Mangunkusumo dari organisasi Budi Utomo(Soegeng, 1992; 50-51)
Dibawah kepengurusan “generasi tua”, kegiatan Budi Utomo yang awalnya terpusat dibidang pendidikan, sosial, dan Kebudayaan sedikit demi sedikit mula bergerser ke politik . Strategi perjuangan Budi utomo juga mulai bergeser dari awalnya Protonasionalisme menjadi lebih kearah kooperatif dengan Pemerintahan Kolonial Belanda.
Dalam perjuangannya dibidang politik, ketika pemerintahan Kolonial Belanda sedang menghadapi Perang Dunia I, Kolonial Belanda menetapkan wajib militer bagi rakyat pribumi, dan disinilah Budi Utomo bertindak bila pihak Kolonial Belanda ingin menetapkan Wajib Militer maka ada salah satu syarat yang diberikan Budi Utomo yaitu harus dibentuk terlebih dahulu sebuah lembaga perwakilan rakyat (Volksraad) dan usulan tersebut diterima dan disetujui oleh Gubernur Jendral Van Limburg Stirum sehingga terbetuk Volksraad pada tanggal 18 Mei !918, dan didalam lembaga ini terdapat perwakilan organisasi Budi Utomo, yaitu Suratmo Suryokusumo(Wikipedia.com)
Budi Utomo juga menyadari arti penting manfaat organisasi pergerakan bagi rakyat, maka pada tanggal 1920 organisasi Budi Utomo membuka diri untuk menerima anggota dari rakyat biasa. Dan pergerakkan nasional bangsa mulai meluas. Dan oleh sebab itu pada tanggal 20 Mei dijadikan sebagai hari kebangkitan nasional(iwak-pithik.blogspot.com)

Daftar Pustaka

George McTurnan Kahin. 1995.Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia: _____RefleksiPergumulan Lahirnya Republik. UNS Press dan Pustaka Sinar Harapan.
M.C. Ricklefs. 2005. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gajah Mada _____University Press.
Poesponegoro , Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia V – Zaman _____Kebangkitan            Nasional dan Masa Hindia Belanda . –cet-2 Edisi Pemuktahiran. Jakarta : Balai    Pustaka. 

Monday, 22 January 2018

Boedi Oetomo : Bangkit dan Bergerak

Boedi Oetomo
"Energi Pergerakan Bangsa"
Oleh: Kms. Gerby Novario, Ayu Rizky Utami, dan Azuar Anas


Dengan semboyan hendak meningkatkan martabat rakyat. Dilatarbelakangi situasi ekonomi yang memburuk di Pulau Jawa karena eksploitasi kolonial dan westernisasi, seorang Priyai baru, dr. Wahidin Sudirohusodo bangkit mengangkat kehormatan rakyat jawa dengan memberikan pengajaran. Ia berusaha menghimpun dana beasiswa (study fond) untuk memberikan pendidikan Barat kepada golongan Priyai Jawa.

Gambar. Mahasiswa STOVIA dalam proses pembelajaran

Propaganda yang dijalankan oleh dr. Wahidin tersebut disambut oleh Soetomo, seorang mahasiswa School tot Opleiding van Indische Arsten (STOVIA) atau Sekolah Dokter Jawa. Bersama rekan-rekannya dia mendirikan Budi Utomo (BU) di Jakarta pada 20 Mei 1908.
Organisasi Budi Utomo ini sejak awal sudah menetapkan bahwa bidang perhatiannya meliputi penduduk Jawa dan Madura. Sejak kelahirannya terdapat pro dan kontra. Kelompok kontra membuat organisasi tandingan yang bernama Regent Bond, yang anggot-anggotany berasal dari kalangan bupati pengatur status quo yang tidak ingin berubah. Adapun yang pro, seperti Tirto Kusumo merupakan kalangan muda yang berpandangan maju.
Pada konres Budi Utomo yang diselenggarakan pada 3-5 Oktober 1908, Tirto Kusumo diangkat menjadi ketua pengurus besar. Hingga diadakannya kongres yang pertama ini, BU telah memiliki tujuh cabang di beberapa kota, yakni Batavia, Bogor, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, dan Ponorogo. Pada kongres di Yogyakarta ini, diangkatlah Raden Adipati Tirtokoesoemo (mantan bupati Karanganyar) sebagai presiden Budi Utomo yang pertama. Semenjak dipimpin oleh Raden Adipati Tirtokoesoemo, banyak anggota baru BU yang bergabung dari kalangan bangsawan dan pejabat kolonial, sehingga banyak anggota muda yang memilih untuk menyingkir.
Pada masa itu pula muncul Sarekat Islam, yang pada awalnya dimaksudkan sebagai suatu perhimpunan bagi para pedagang besar maupun kecil di Solo dengan nama Sarekat Dagang Islam, untuk saling memberi bantuan dan dukungan. Tidak berapa lama, nama itu diubah oleh, antara lain, Tjokroaminoto, menjadi Sarekat Islam, yang bertujuan untuk mempersatukan semua orang Indonesia yang hidupnya tertindas oleh penjajahan. Sudah pasti keberadaan perkumpulan ini ditakuti orang Belanda. Munculnya gerakan yang bersifat politik semacam itu rupanya yang menyebabkan Budi Utomo agak terdesak ke belakang. Kepemimpinan perjuangan orang Indonesia diambil alih oleh Sarekat Islam dan Indische Partij karena dalam arena politik Budi Utomo memang belum berpengalaman. Karena gerakan politik perkumpulan-perkumpulan tersebut, makna nasionalisme makin dimengerti oleh kalangan luas. Ada beberapa kasus yang memperkuat makna tersebut. Ketika Pemerintah Hindia Belanda hendak merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya, dengan menggunakan uang orang Indonesia sebagai bantuan kepada pemerintah yang dipungut melalui penjabat pangreh praja pribumi, misalnya, rakyat menjadi sangat marah.
Kemarahan itu mendorong Soewardi Suryaningrat (yang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara) untuk menulis sebuah artikel "Als ik Nederlander was" (Seandainya Saya Seorang Belanda), yang dimaksudkan sebagai suatu sindiran yang sangat pedas terhadap pihak Belanda. Tulisan itu pula yang menjebloskan dirinya bersama dua teman dan pembelanya, yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo ke penjara oleh Pemerintah Hindia Belanda (lihat: Boemi Poetera). Namun, sejak itu Budi Utomo tampil sebagai motor politik di dalam pergerakan orang-orang pribumi.
Agak berbeda dengan Goenawan Mangoenkoesoemo yang lebih mengutamakan kebudayaan dari pendidikan, Soewardi menyatakan bahwa Budi Utomo adalah manifestasi dari perjuangan nasionalisme. Menurut Soewardi, orang-orang Indonesia mengajarkan kepada bangsanya bahwa "nasionalisme Indonesia" tidaklah bersifat kultural, tetapi murni bersifat politik. Dengan demikian, nasionalisme terdapat pada orang Sumatera maupun Jawa, Sulawesi maupun Maluku.
Pendapat tersebut bertentangan dengan beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Budi Utomo hanya mengenal nasionalisme Jawa sebagai alat untuk mempersatukan orang Jawa dengan menolak suku bangsa lain. Demikian pula Sarekat Islam juga tidak mengenal pengertian nasionalisme, tetapi hanya mempersyaratkan agama Islam agar seseorang bisa menjadi anggota. Namun, Soewardi tetap mengatakan bahwa pada hakikatnya akan segera tampak bahwa dalam perhimpunan Budi Utomo maupun Sarekat Islam, nasionalisme "Indonesia" ada dan merupakan unsur yang paling penting.
Dalam kongres ini, etnonasionalisasi semakin bertambah besar. Selain itu, dalam kongres tersebut juga timbul dua kelompok, yaitu kelompok pertama diwakili oleh golongan pemuda yang merupakan minoritas yang cenderung menempuh jalan politik dalam menghadapi pemerintah kolonial. Adapun kelompok kedua merupakan golongan mayoritas diwakili oleh golongan tua yang menempuh perjuangan dengan cara lama, yaitu sosialkultural.
Dari hasil kongres 3-5 Oktober 1908 tersebut diambil keputusan sebagai berikut :
1.      Boedi Oetomo tidak ikut mengadakan kegiatan Politik
2.      Kegiatan utama ditunjukan kepada bidang pendidikan dan budaya
3.      Ruang garak terbatas hanya Jawa dan Madura
(sumber : Ejang Odih dan Sumarni, 1995 Hal.101)
Golongan minoritas yang berpandangan maju dipelopori oleh Dr. Tjipto Mangunkusumo. Dia ingin menjadikan Budi Utomo bukan hanya sebagai partai politik yang mementingkan rakyat, melainkan juga sebuah organisasi yang kegiatannya tesebar di Indonesia. Sementara golongan tua menginginkan pembentukan dewan pemimpin yang didomonasi oleh para pejabat generasi tua. Golongan ini juga mendukung pendidikan yang luas bagi kaum priyai dan mendorong kegiatan pengusaha jawa. Tjipto terpilih sebagai seorang anggota dewan. Namun, pada 1909 dia mengundurkan diri dan akhirnya bergabung dengan Inddische Partij yang perjuangannya bersifat radikal.
Dalam perkembangan selanjutnya, Budi Utomo tetap meneruskan cita-cita yang mulia menuju “kemajuan yang selaras buat tanah air dan bangsa”. Ketika pecah perang Dunia I (1914) Budi Utomo turut memikirkan cara mempertahankan Indonesia dari serangan luar(sumber : Nana Supriana,  Hal. 145-146).
Dalam konteks penjajahan Kolonial Belanda, lahirnya Budi Utomo sangatlah besar artinya. Ketika itu peraturan pemerintah kolonial Belanda, yaitu Regeerings Reglement pasal 111, melarang didirikannya perkumpulan politik atau perkumpulan yang dianggap menggangu ketentraman umum. Bahkan pembicaraan yang menyangkut masalah-masalah politik  dianggap tabu. Beberapa pelajar Stovia (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen)  yang kemudian secara diam-diam melakukan perkumpulan dan mampu menembus peraturan tersebut dengan melalui pembentukan Budi Utomo di Jakarta. Teknik yang digunakan guna menembus peraturan pelarangan tersebut adalah dengan mencantumkan tujuan organisasinya pada segi Sosial Budaya. Jadi mereka berusaha menghindari pembicaraan yang menyangkut hal-hal yang bersifat politis(Departemen Penerangan RI, 1999; 2)
Pada awal mula pendirian Budi Utomo ini salah satunya dilatar belakangi keadaan sosial masyarakat bumi putera yang dikatakan lumayan masih jauh dari kata sejahtera, dan juga pada waktu  itu walaupun sekolah pendidikan dasar sudah banyak didirikan oleh Pemerintahan Belanda namun suasana pendidikan golongan bumiputera masih jauh dari memuaskan. Orang Indonesia yang sempat menginjak bangku perguruan tinggi seperti Soetomo dan Gunawan Mangunkusumo di Stovia memang masih ada, tetapi rasa tidak puas tetap melekat di dada mahasiswa-mahasiswa itu. Sebabnya ialah karena mayoritas rakyat masih terbelakang sebagai akibat pendidikan, kehidupan, dan kebudayaan rakyat masih jauh dari ukuran normal(Soegeng, 1992: 48)
Tentang berdirinya perhimpunan Budi Utomo ini, juga dituliskan dari cerita Gunawan Mangunkusumo, yang dimuat dalam buku Soembangsih, Sebuah buku peringatan 10 tahun berdirinya Budi Utomo, diterbitkan pada 20 Mei 1918 sebagai berikut:
“tekanan-tekanan di udara masyarkat luar dan dalam negeri sejak beberapa bulan dan dalam negeri sejak bebrapa bulan lamanya telah menyentuh jiwa para pemuda pelajar STOVIA, terutama jiwa Soetomo. Berita-berita luar negeri menjadi bahan pembicaraan. Demikian juga kepincangan-kepincangan didalam negeri, terutama dibidang pengajaran, pendidikan, perekonomian dan ke pangreh prajaa kolonial menjadi bahan renungan. Diresahkan oleh Soetomo dengan kawan-kawannya perlunya suatu organisasi tersendiri, untuk menunjukan kepada dunia luar bahwa pemuda dan pelajar ingin memajukan rakyatnya di segala bidang, ingin menjadi penuntun bagi rakyatnya dari dalam segala ke alam tenang”
Tokoh yang tidak dapat dilepaskan dari berdirinya Budi Utomo yaitu Soetomo, Soetomo aktif sekali menyebarkan cita-cita yang sangat luar biasa ini. Tidak hanya teman-teman sekelasnya yang dihubungi, Soetomo juga mendatangi juga para murid dari kelas lain, baik yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah. Di kelasnya Soetomo-Goenawan tercatat 17 murid, dikelas yang lebih tinggi ada 11 murid, dikelas yang lebih rendah ada sekitar 20 murid, belum terhitung murid-murid dari kelas yang lebih rendah lagi. Semua kelas itu didatangi oleh Soetomo, dan dijelaskan maksudnya. Penerimaan dimana-mana baik sekali(Roeslan, 1976; 20).
Ditetapkan kemudian untuk berkumpul bersama pada suatu hari tertentu untuk membulatkan pendapat. Hari itu adalah hari minggu tanggal 20 Mei 1908. Tempatnya ialah “ in de zaal van het eerste jaar der geneeskundige afdeeling”, ‘ruang pelajaran kelas satu”. Demikian keterangan Goenawan Mangunkusumo (ruang ini sekarang telah dipugar dan diberi nama Ruang Budi Utomo)(Roeslan, 1976; 20).
Pada awal lahirnya Budi Utomo, organisasi ini harus dirahasiakan lebih dulu, para pendirinya sangat berhati-hati jangan sampai timbul rintangan-rintangan yang tak perlu, sebelum Budi Utomo kuat. Diusahakan lebih dulu supaya pelajar-pelajar sekolah lain, seperi pendidikan guru, penyuluh pertanian dan sebagainya diajak untuk memperkuat barisan Budi Utomo
Dalam tulisan Goenawan Mangukusumo:
“Tepat pukul 9 pagi semua sudah berkumpul, Soetomo mulai berbicara, dan menjelaskan maksud dan tujuan pertemuan pagi itu. Beliau mengemukakan gagasan dan cita-citanya secara singkat, terang, dan jelas. Beliau berbicara “zonder hartstocht, sober en duidelijk”; tanpa nafsu, sederhana, dan tegas. Setelah soetomo berbicara maka – tulis Goenawan Mangunkusum, reaksinya adalah hebat sekali, “Donderend was het applaus”; semua tepk-tangan genggap gempita, tanda setuju sepenuhnya. Gagasan Soetomo dan kawan-kawan berhasil, didirikanlah saat itu juga perkumpulan”Budi Utomo”; organisasi modern yang pertama dalam sejarah bangsa Indonesia. Ketuanya adalah Soetomo!”
Demikianlah apa yang disadur dalam tulisannya Goenawan Mangunkusumo. Tulisan ini boleh dikatakan salah satu laporan otentik ditulis oleh orang yang ikut hadir dan ikut mendorong cita-cita luar biasa ini(Roeslan, 1976; 25)
Dengan Tujuan menaikkan derajat bangsa, beberapa mahasiswa tersebut mendirikan organisasi Budi Utomo. Pada hari historis, 20 Mei 1908 didirikan oleh mereka suatu perkumpulan , bernama Budi Utomo yang diketuai oleh Soetomo. Penerimaan anggota dibatasi dan yang diterima hanya mereka yang mempunyai keinsyafan dan kegairahan untuk mendukung dan menyebarkan cita-cita bersama ke arah emansipasi dan solidaritas. Meskipun tidak dilakukan propaganda secara besar-besaran, namun dalam satu triwulan saja jumlah anggota sudah mencapai 650 orang, diantaranya terdapat kaum terpelajar, pegawai, pamong praja dan swastawan (Soegeng, 1992; 48)

Daftar Pustaka

George McTurnan Kahin. 1995.Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia: _____RefleksiPergumulan Lahirnya Republik. UNS Press dan Pustaka Sinar Harapan.
M.C. Ricklefs. 2005. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta: Gajah Mada _____University Press.

Poesponegoro , Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia V – Zaman _____Kebangkitan            Nasional dan Masa Hindia Belanda . –cet-2 Edisi Pemuktahiran. Jakarta : Balai    Pustaka. 

Museum SMB II : Nuansa Lokal dan Kolonial

KERATON KUTO LAMO
“Transformasi Bangunan Lintas Masa”

Sultan Mahmud Badaruddin II merupakan pemimpin kesultanan Palembang-Darussalam selama dua periode(1803-1813,1818-1821), setelah masa pemerintahan ayahnya, Sultan Muhammad Bahauddin(1776-1803). Nama aslinya sebelum menjadi Sultan adalah Raden Hasan Pangeran Ratu. Dalam masa pemerintahannya, ia beberapa kali memimpin pertempuran melawan Inggris dan Belanda, di antaranya yang disebut Perang Menteng. Pada tangga 14 Juli 1821, ketika Belanda berhasil menguasai Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin II dan keluarga ditangkap dan diasingkan ke Ternate. Penggunaan nama Sultan Mahmmud Badaruddin II pada museum untuk menggingat dan menghargai jasa-jasanya.

Museum ini terletak di tepi sungai Musi di dekat Benteng Kuto Besak dan Jembatan Ampera. Museum ini terdiri dari dua lantai berarsitektur kolonial dengan atap rumah limas khas Palembang. Dahulu, wilayah Museum Sultan Mahmud Badaruddin II merupakan lahan bekas keraton yang dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin I pada tahun 1737.
Berdasarkan hasil penelitian dari Tim Arkeologi Nasional tahun 1988, pada lokasi ditemukan fondasi batu bata dari bangunan Kuto Lamo, di atas tumpukan balok-balok kayu yang terbakar. Menurut catatan, bangunan Benteng Kuto Lamo di masa Sultan Mahmud Badaruddin I (Jayo Wikramo) resmi ditempati pada hari Senin, 29 September 1737. Karena itu disimpulkan bahwa balok-balok tersebut tentunya sudah terlebih dahulu ada.
Hal ini di buktikan seperti yang di katakan oleh Djohan Hanafiah bahwa Bangunan ini dibangun kembali setelah dibongkar habis, dan memang sebelumnya merupakan lokasi Benteng Kuto Lamo yang sering juga di sebut Kuto Tengkuruk atau Kuto Batu, dimana pada bagian dalamnya pernah berdiri Keraton Sultan Mahmud Badaruddin Jaya Wikromo atau Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758).
Pada era kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, Tahun 1821 keraton ini mendapat serangan dari Pemerintah Hindia Belanda, yang kemudian dibongkar habis pada 7 Oktober 1823 atas perintah Reguring Commissaris Belanda, J. L. Van Seven Hoven. Pemerintah kolonial ingin menghilangkan monumental Kesultanan Palembang dan membalas dendam atas dibakarnya Loji Sungai Aur oleh Sultan Mahmud Badaruddin II pada tahun 1811. Atas pendudukan Kuta Besak dan penghancuran Kuta Lama, maka konsentrasi kota berada diwilayah ini. Pasar dan kantor-kantor berdiri dilingkungan Kuta Besak, bahkan perahu-perahu pun menjadikannya tempat berlabuh yang ideal.
Pada tahun 1823, seiring penghapusan kekuasaan Sultan Najamuddin IV Prabu Anom (1821-1823 M) Belanda melakukan pembangunan di bekas tapak Benteng Kuto Lamo. Secara bertahap rumah yang dibangun rencananya diperuntukkan bagi komisaris karajaan Belanda di Palembang , J. L. Van Seven Hoven, seorang advokat fiskal, yang menggantikan posisi Herman Warner Muntinghe. Muntinghe menjadi komisaris di Palembang selama November 1821 - Desember 1823. Pada tahun 1824, tahap pertama rumah dikenal sebagai gedung siput. Setelah itu, bagian bangunan  terus dilakukan penambahan.
Bangunan ini selesai didirikan kembali dengan perpaduan antara gaya arsitektur Eropa dengan arsitektur Palembang sendiri.  Dibangun bergaya indis sebagai bangunan yang lazim pada masa itu dan sudah menggunakan bangunan baja beton dan kaca sebagai imbas dari revolusi industri di Eropa. Pada tahun 1825 dan selanjutnya dijadikan Komisariat Pemerintah Hindia Belanda untuk Sumatera Bagian Selatan, sekaligus sebagai kantor Residen Belanda.
Seiring dengan perjalanan waktu dan dinamika sejarah yang terjadi di Kota Palembang, Fungsi bangunan ini teah silih berganti, mulai dari markas Jepang pada masa pendudukan, Teritorium II Kodam Sriwijaaya di awal kemerdekaan yang kemudian berpindah pengelolaan ke Pemerintah Kota Palembang sebelum akhirnya menjadi Museum.

Galeri Lainnya :










Sabokingking : Situs Lintas Abad

KOMPLEKS MAKAM SABOKINGKING
"Situs Bersejarah Lintas Abad"
Editor : Genov

Makam Sabokingking berjarak sekitar 500 M sebelah utara makam Gede ing Suro. Kompleks Makam Sabokingking yang juga dikenal sebagai Situs Telaga Batu, lokasi ditemukannya sebuah prasasti yang dikenal sebagai Prasasti Telaga Batu. Secara administratif berada di Kelurahan Sungai Buah, Kecamatan Ilir Timur 1, Kota Palembang.

Keberadaan Situs Sabokingking telah diketahui sebelum masa Islam di Palembang, yaitu sejak masa klasik pada masa Sriwijaya sekitar abad 7 Masehi. Hal ini didasarkan adanya temuan prasasti Telaga Batu yang berdasarkan jenis aksaranya sejaman dengan prasasti masa Sriwijaya. Selain itu bukti adanya peninggalan masa klasik diindikasikan temuan 2 buah batu yang merupakan sasana atau tempat dudukan arca atau prasasti. Salah satu sasana tersebut terletak di dalam bangunan tertinggi satu ruang dengan nisan makam Pangeran Seda ing Kenayan, sedangkan yang satu berada di halaman bangunan di dalam pagar berdekatan dengan gapura paduraksa. Unsur-unsur kepurbakalaan di Sabokingking  berlanjut dengan pada masa berikutnya, yaitu dengan adanya makam yang merupakan tokoh-tokoh  awal Kesultanan Palembang. Periodisasi yang diketahui dari tokoh-tokoh pendiri Kesultanan Palembang yang dimakamkan di makam Sabokingking adalah awal abad ke-16 Masehi.
Bangunan kompleks makam Sabokingking dikelilingi air yang menyerupai pulau di tengah danau. Bangunan makam dapat dituju dengan jalan semen yang menghubungkan bangunan utama dengan daratan. Di depan bangunan terdapat gapura tembok berbentuk paduraksa sebagai penghubung jalan dengan bangunan utama.
Kompleks makam Sabokingking memiliki denah berbentuk empat persegi panjang dan merupakan bangunan tembok beratap limasan yang didalamnya terdapat makam-makam dengan bentuk lantai bertingkat. Bangunan makam terdiri dari 3 buah teras, dengan perincian setiap teras ada yang memiliki cungkup dan tidak bercungkup.
1.    Teras pertama
Pada bagian teras pertama dimakamkan tokoh seorang panglima besar Ki Mas Agus Bodrowongso atau Ki Abdurahman yang terletak bagian paling bawah sebelah barat bangunan. Selain itu terdapat makam para panglima yang kedudukannya lebih rendah dibandingkan panglima yang dimakamkan di teras kedua.
2.    Teras kedua
Pada bagian teras kedua terdapat 4 buah makam.
3.    Teras ketiga
Teras ketiga merupakan teras yang tertinggi terdapat makam tokoh-tokoh penting yang berjumlah 21 buah disusun dengan penempatan barat ke timur dengan arah hadap utara selatan. Tokoh tersebut adalah :
Pangeran meninggal di Kenayan (Sido Ing Kenayan)
Makam Halaman di Kenayan terletak di tengah-tengah pemakaman diapit oleh Raden Ayu Ratu laut, dan makam Sir Syed (Moh. Omar Al Bashir). Makam berdiri di atas alas / asana unglen kayu. Makam makam dan membuat nisan. Makam yang terbuat dari kayu profil tubuh berbentuk unglen yang memiliki kuil hiasan antefiks di sudut. Nisan sebesar 2 dengan bentuk persegi panjang datar (tipe nisan Demak Troloyo). Pada batu nisan itu adalah motif hias seperti sulur, bunga konstituen, berliku-liku, medali.

Raden Ayu Ratu Sinuhun
Makam terdiri dari jirat dan nisan. Jiratnya terbuat dari kayu unglen berbentuk mirip profil tubuh candi yang dilengkapi hiasan antefiks di bagian sudut-sudutnya. Nisannya berjumlah 2 buah dengan bentuk segi empat pipih (tipe nisan Demak Troloyo). Pada nisan terdapat motif hias seperti sulur gelung, bunga ceplok, meander, medalion.

Tuan Sayid (Moh. Umar Al Idrus)
Pak Sayid dikenal sebagai guru di Halaman Kenayan. Makam berdiri di persegi panjang semen budak. Makam makam dan membuat nisan. Makam yang terbuat dari balok kayu diatur dalam baris unglen berbetuk persegi panjang. Nisan sebesar 2 unglen kayu dengan bentuk persegi panjang datar (tipe nisan Demak Troloyo).  Pada batu nisan itu adalah motif hias seperti tujuan, benang teratai, medali

Makam ketiga tokoh di atas ditempatkan pada satu cungkup berdenah segi empat dengan konstruksi tiang kayu. Tiang-tiang kayu berdiri di sebuah umpak terbuat dari bata berplester semen. Di dalam cungkup terdapat hiasan seperti gerigi pada bagian pelipitnya, pola sulur gelung.

Selain itu di pada teras ketiga terdapat makam tokoh-tokoh antara lain : Raden Usman (Purbaya), Putri Sloko, Fatimah Tussadiah, Panglima Moh. Akil, Raden Dendik, Jangsari, Raden Wancik (Kuncung mas), Nyi Mas Ayu Rokiah Khasanah, Putri Perak, Tu Bagus, Jiro Sentiko, Pangeran Ratu Pasarean, Pangeran Antasari (adik Sinuhun), Putri Ayu, Putra Adi Kusuma, Ki Mas Gede Marta, Putri Cilik, Putri Menur.

Galeri Lainnya





Sunday, 21 January 2018

Kuto Cerancangan : Mystery Palace Of Palembang

KUTO CERANCANGAN
(Keraton Palembang yang Menjadi Misteri)
Penulis : Andi Syarifuddin
Editor : Genov

Kuto Cerancangan merupakan kelanjutan keraton Palembang pasca Kuto Gawang di Palembang Lamo yang runtuh akibat pertempuran melawan VOC Belanda dalam tahun 1659. Sultan Abdurrahman Candi Walang (1659-1706), kemudian memindahkan keraton kesultanan ke kawasan Beringin Janggut serta membangun masjidnya. Selanjutnya tdk lama kemudian, oleh Sultan Agung Komarudddin (1714-1724) anak Sunan Abdurrahman Candi Walang dibangunlah keraton Kuto Cerancangan.
Gambar: Lukisan Penyerangan Belanda Terhadap Keraton Kuto Gawang
Sumber: Leiden

Nama "Cerancangan" berasal dari kata 'Rancang', karena memang arsitektur kuto ini telah dirancang khusus oleh Sultan Agung dengan ciri khas kuto atau temboknya yang terbuat dari batu-batu berlobang-lobang kecil (terawangan).
Dalam manuskrip Palembang melukiskan letak Kuto Cerancangan ini lokasinya berada lebih jauh ke darat, dibangun di atas lahan tanah Talang Jawa (antara 17 ilir - 20 ilir)  di belakang Kuto Beringin Janggut yang dibatasi oleh beberapa sungai, yaitu:  Sungai Musi, Sei Rendang, Karang Waru, Sei Tengkuruk dan Penedan. Keraton ini dilengkapi pula Balai Istana, Penghadapan Luar, peralatan senjata serta seorang kepala penjagaan istananya. Sebagai kepala penjaga istana Kuto Cerancangan ini ialah Ki. Ngabehi Raksa Upaya bin Ki. Temenggung Yuda Pati.
Sultan Agung akhirnya menyerahkan Kuto Cerancangan kepada puterinya Ratu Rangda dan anak-anaknya. Setelah kemudian Ratu Rangda menikah dengan Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (SMB I), Ratu Rangda bergelar Ratu Gading dan tidak lagi tinggal di Kuto Cerancangan. Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo mendirikan pula istana baru Kuto Tengkuruk atau Kuto Kecik dan Masjid Agung. Ratu Rangda diboyongnya ke istana yang baru tsb.
Setelah Kuto Cerancangan ditinggalkan oleh penghuninya, istana ini menjadi kosong dan mati. Sultan Agung pun tdk pula menjadikannya sebagai istana, beliau lebih memilih tinggal di keraton Beringin Janggut yang sekarang telah menjadi pasar 16 ilir. Kuto Cerancangan selanjutnya dijadikan ungkonan lahan pemakaman khusus bagi keturunan Raja-raja Palembang. Setelah Kesultanan Palembang Darussalam jatuh ke tangan kolonial Belanda (1823), barulah beberapa golongan rakyat biasa mulai ikut menguburkan jenazah di tanah Kuto Cerancangan.
Dalam tahun 1916, areal Kuto Cerancangan tsb telah dilarang oleh pemerintah Belanda sebagai tempat pemakaman, karena kolonial Belanda telah membuka beberapa lahan baru utk Taman Pemakaman Umum (TPU) di Kota Palembang.
Setelah zaman kemerdekaan, Kota Palembang mulai berkembang menjadi kota modern. Maka lokasi tanah pekuburan Kuto Cerancangan ini perlu akan dibangun gedung-gedung bertingkat sebagai pusat kota, area sentra bisnis. Kuburan-kuburan tua banyak dibongkar dan dipindahkan. Sungai Tengkuruk di timbun sejak tahun 1928 dan dijadikan ruas jalan utama yang sekarang dikenal dengan jalan Jenderal Sudirman.
Dengan demikian, Kuto Cerancangan hanya tinggal kenangan.

Sumber: Kms. H.Andi Syarifuddin (KHAS) 

Keraton Kuto Gawang: Lost Palace of Palembang

KERATON KUTO GAWANG
“Kraton Megah yang kini hilang”
Penulis : Andi Syarifuddin
Editor : Genov

Keraton pertama Kerajaan Palembang ini didirikan oleh Ki. Gede ing Suro (berkuasa 1552-1573). Terletak di Palembang Lamo 1 ilir (sekarang komplek Pusri), lokasinya menghadap Sungai Musi di antara 3 anak sungai, yaitu Sungai Buah, Sungai Rengas, dan Sungai Linta. Selain sebagai istana Raja, bangunan ini berfungsi pula sebagai kuto (pagar dinding tinggi), pusat pemerintahan, dan benteng pertahanan. Bentuk empat persegi dg ukuran luas:  Panjang = 1.100 m, Lebar = 1.100 m, dan Tinggi = 7,25 m. Terbuat dari bahan kayu Tembesu dan Unglen, balok-balok berukuran 30x30 cm.

Pintu utama masuk melalui Sungai Rengas. Di bagian halaman depan terdapat lapangan luas yg dipagar. Bagian muka terdapat 3 buluarti/bastion (anjungan menara jaga), buluarti tengah terbuat dari batu. Terdapat juga pintu-pintu lain di samping kanan, kiri dan belakang. Di dalam keraton terdapat istana Raja, masjid dan menaranya. Sedang di sebelah belakang terletak tempat kaum wanita (gedung bercorak  leter U). Di pinggir bangunan ini terdapat rumah penjara. Dan di bagian belakang keraton terdapat komplek ungkonan makam Raja-Raja, pasar Candi Laras, serta kambang Sari Saka Puteri Inderamaya.
Selain itu dilengkapi pula dg beberapa kubu pertahanan penopang yg berlapis,  seperti:
1.    sebelah Timur, terdapat Pulau Kembara dan benteng Manguntama.
2.    sebelah ilir, Bagus Kuning dan benteng Martapura.
3.    Muara Plaju, benteng Tambakbaya.
4.    sungai Musi ditutup dg cerucup kayu 3 lapis dan rantai.

Benteng Kuto Gawang ini pernah diuji dlm berbagai pertempuran, diantaranya: perang melawan Banten (1596, 1606), dan perang melawan VOC Belanda (1659).
Peperangan th 1659 mengakibatkan Keraton Kuto Gawang hangus terbakar, dan Raja terakhir di era kraton ini yaitu Pangeran Sido ing Rejek harus mengungsi ke Saka Tiga, Indra Laya.

Galeri Lain:


Recent Posts