Selamat Datang | Selamat datang "Mahasiswa Baru Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 2017" - Selamat Bergabung | Semoga artikel dan isi web HIMAPES Unsri ini dapat memberikan manfaat |17 AGUSTUS 1945-2016 "Perjuangan Bangsa Masih Berlanjut" MERDEKA!!! | Terima kasih sudah mengunjungi web kami | Viva Historia... #noHistory noFuture

Wednesday, 25 July 2018

THONGIN FANGIN TJITJONG : BANGKA CULTURE


THONGIN FANGIN TJITJONG UNGKAPAN PEMERSATU MASYARAKAT DI PULAU BANGKA PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
Oleh: Rigo Firmanto
Juara Harapan 1 Lomba Karya Ilmiah Kebudayaan Tingkat Mahasiswa Tahun 2016, diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BNPB) Sumatera Barat dengan tema: “Revitalisasi Kearifan Lokal bagi Penguatan Multikulturalisme Indonesia” 
Padang, 8 Desember 2016.

1.      Latar Belakang
Indonesia adalah sebuah kepulauan di Nusantara yang dihuni oleh ratusan suku bangsa dengan ragam adat istiadat, budaya, bahasa dan sejarahnya masing-masing. Kepulauan Indonesia terletak diantara samudera Pasifik dan samudera Hindia yang merupakan salahsatu jalur pelayaran dunia yang paling ramai dilayari. Ditambah lagi dengan tanah dan lautnya yang kaya akan hasil alam mendorong kedatangan banyak bangsa yang tertarik untuk datang,membuat bangsa Indonesia terbiasa berinteraksi dengan bangsa asing yang datang kewilayahnya. dampak langsung dari interaksi dengan bangsa luar ini yang paling pertama adalah masuknya arus kebudayaan dari daerah lain ke wilayah Indonesia yang menambah khazanah budaya bangsa Indonesia.
Keberagaman ini telah ada sejak dahulu kala, mengingat bangsa Indonesia telah melakukan kontak dengan bangsa lain sejak permulaan tarikh masehi, terutama dengan bangsa India dan Tiongkok. Sejak saat itu interaksi terus dilakukan  membuat budaya bangsa Indonesia kian berwarna, namun yang patut di bangakan adalah meskipun hidup di dalam perbedaan gesekan antar budaya dan etnis jarang terdengar. Contohnya adalah kemaharajaan Sriwijaya yang berorientasi kepada ajaran agama Buddha bahkan Sriwijaya merupakan pusat pengajaran agama Buddha di Asia Tenggara, namun dari sisa kebudayaannya justru ditemukan daerah-daerah bawahannya yang mengembangkan kebudayaan Hindu seperti di situs Bumi Ayu di Kabupaten Pali provinsi Sumatera Selatan dan situs Kotakapur di Kualamendu provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ini berarti bahwa Sriwijaya telah memaknai sebuah perbedaan sebagai sebuah kekayaan sehingga mampu menciptakan harmoni diantara berbagai macam budaya dan agama yang ada menjadi tunduk kepada satu payung hukum kerajaan Sriwijaya.
Keragaman yang dimiliki bangsa Indonesia ini merupakan kekayan dan harta pusaka peninggalan nenek moyang kita dulu yang jarang dimiliki oleh bangsa lain. Ini merupakan aset bangsa yang sangat berharga. Namun menciptakan kerukunan didalam sebuah perbedaan memang bukan hal yang mudah. Perbedaan yang ada dapat menjadi sumber konflik dan perpecahan didalam masyarakat apalagi bila perbedaan yang ada itu sangat kentara, dengan kata lain dua etnis dengan budaya yang sangat bertolak belakang namun harus hidup berdampingan.
Pulau Bangka di provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah salah satu daerah di Indonesia yang dihuni oleh masyarakat yang majemuk karena terdiri atas banyak suku bangsa seperti Melayu, Tionghoa, Jawa, Palembang, Bugis, Buton dan Arab. Namun walaupun demikian budaya paling terasa adalah kebudayaan Melayu dan Tionghoa karena orang-orang pendatang yang beragama Islam akan membaur dan masuk lingkup Melayu. hal ini menjadi unik dimana biasanya suatu daerah hanya akan di dominasi oleh satu kebudayaan saja yang biasanya di pegang oleh suku atau etnis mayoritas.Namun untuk kasus Bangka terdapat pengecualian dimana ada dua suku bangsa yang sama-sama mendominasi.
Keharmonisan antara suku Melayu dan etnis Tionghoa di Bangka bahkan telah menghasilkan sebuah ungkapan yang menggambarkan kerukunan kedua bangsa ini, ungkapan tersebut berbunyi “Thongin Fangin Tjitjong” yang bermakna “Tionghoa ataupun Melayu, sama saja”. Ungkapan ini menggambarkan dengan jelas bagaimana rukunnya hubungan kedua etnis inidi Bangka. ada banyak faktor yang menjadi faktor pendorong terciptanya keharmonisan ini, biasanya berawal dari kepentingan masing-masing etnis seperti kepentingan ekonomi, politik, sosial dan budaya hingga perjalanan sejarah yang dialami bersama.
Berdasarkan hal tersebut kemudian membuat penulis merasa tertarik untuk membuat tulisan mengenai Bagaimana jalannya sejarahdan wujud ungkapan Thongin Fangin Tjitjong di dalam tingkatan asimilasikehidupan  masyarakat di pulau Bangka provinsi Kepulauan Bangka Belitung?. Tujuan dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk mengetahui bagaimana bentuk awal interaksi antara suku Melayu dengan etnis Tionghoa di Bangka dan bagaimana bentuk wujud asimilasi dan akulturasi yang terjadi hingga memunculkan ungkapan Thongin Fangin Tjitjong yang merupakan wujud kearifan lokal dari pulau Bangka bagi Penguatan Multikulturalisme Indonesia.
Manfaat yang diharapkan dari penulisan karya tulis ilmiah iniadalah menjadikan Bangka sebagai wilayah bahan perbandingan dan daerah percontohan yang dapat dipakai oleh pemerintah dalam upaya mensosialisasikan upaya revitalisasi kearifan lokal bagi penguatan multikulturalisme Indonesia

2.      Metodologi Penulisan
Dalam karya tulis ilmiah yang berjudul ‘‘Thongin Fangin Tjitjong Ungkapan Pemersatu Masyarakat di Pulau Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung”, metode penulisan yang digunakan adalah metode sejarah atau metode Historis. Metode penelitian Historis adalah sebuah metode penelitian dan penulisan sejarah dengan menggunakan cara, prosedur atau tekhnik yang sistematik sesuai dengan asas-asas dan aturan ilmu sejarah (Daliman, 2012: 27).
Penulisan sejarah dimulai dengan sebuah teknik yang disebut heuristik dimana pada tahap awal ini penulis berusaha mengumpulkan data-data berupa buku-buku dan sumber-sumber lainnya yang berhubungan dengan masalah yang akan penulis bahas dalam penulisan karya ilmiah ini.Setelah selesai dilaksanakannya langkah pengumpulan sumber-sumber sejarah dalam bentuk dokumen-dokumen, maka yang harus dilaksanakan berikutnya adalah mengadakan kritik (verifikasi) sumber, terutama terhadap sumber-sumber yang pertama, langkah ini disebut sebagai kritik sumber baik terhadap materi sumber maupun terhadap substansi sumber (Sair dan Dedi, 2014: 55; Daliman, 2012: 51,64-65).
Setelah melakukan pengumpulan dan kritik pada data sejarah maka langkah selanjutnya adalah masuk kepada tahap auffasung atau tahap eksplanasi dalam sejarah. Pada tahap ini memaknai semua fakta-fakta dan data-data yang telah dipilih dan dianggap layak untuk kemudian di sintesiskan atau di padukan hingga mendapatkan sebuah kesimpulan sejarah. Setelah didapati sebuah kesimpulan pada tahap akhir kemudian penulis memasuki tahap akhir penulisan yakni, darstellung atau tahap penyajian hasil penulisan kedalam bentuk sebuah tulisan ilmiah  (Sair dan Dedi, 2014: 89)
3.      Pembahasan
Nama Bangka telah lama dikenali para pelaut. Berita tertua mengenai Bangka telah ada sebelum masa Sriwijaya yang didapatkan dari India, yakni dari sebuah karya sastra Buddha yang ditulis pada adab ke-3 masehi yakni Mahaniddesa. Kitab tersebut menyebutkan nama-nama tempat di Asia, antara lain Swarnabhumi yang diidentifikasikan sebagai Sumatera yang juga disebutkan dalam kitab Milindapanca, yang kedua adalah Jawa, dan yang ketiga adalah Wangka yang diidentifikasikan sebagai Bangka(Damais dalam Prajodko dan Bambang, 2013: 153; Sujitno, 2011: 31-32).
Secara geografis Bangka merupakan gugusan kepulauan di sebelah selatan kepulauan Riau dan disebelah pesisir timur Sumatera bagian selatan dengan letak geografis 1 30’ - 37’ lintang selatan dan 105 45’ - 108 18’ bujur timur. Luas wilayah Bangka  11.703,65 . Posisi geografis Bangka terletak dibagian barat kepulauan Indonesia, dengan perairan yang telah sejak lama mempunyai frequensi pelayaran yang sangat tinggi. Meskipun terletak di daerah yang strategis namun pulau Bangka tidak dianggap sebagai daerah yang penting bahkan menjadi tempat persembunyian bajak laut atau dalam bahasa Melayu disebut sebagai Lanon karena geografis muka pantai yang berkelok membentuk banyak tanjung dan teluk. (Heidhues, 2008:1; Obedeyn dalam Sujitno, 2011:21).
Penduduk Bangka yang beragam mulai terbentuk setelah dimulainya penambangan timah pada tahun 1710. Sejak penambangan timah menjadi marak seketika itu pula pulau Bangka menjadi ramai dikunjungi oleh berbagai bangsa, terutama sejak Sultan Mahmud Badaruddin I menempatkan keluarga mertua dari istrinya yang bernama Zamnah yang bergelar Melayu Yang Mariam dan gelar Palembang Mas Ayu Ratu Zamnah yang merupakan bangsawan Johor dari pulau Siantan Riau ke kota Muntok yang diikuti oleh orang-orang dari Johor dan Siantan untuk menambang dan menetap di Bangka (Balai Arkeologi Palembang, 2016; Hikmat, 2002: 30;Novita, 2008; Sari, 2014; Heidhues, 2008:87)
kelompok migrasi ini diketuai Dato’ Akub yang merupakan paman dari Zamnah diikuti oleh sekitar 500an orang dari Siantan yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru pulau terutama diwilayah konsentrasi timah. Hal ini berdasarkan laporan VOC ke Batavia dalam VOC 2315 tertanggal 31 Oktober dan VOC 22345 tertanggal 1 Desember yang berbunyi:
“in September 1734 he announced that because of his love for Mas Ayu he was sending a fleet of ships back to Siantan to bring to Palembang more than thousand of her relatives, good friends, and servantas. Five hundreds were settled in the Mentok area of Bangka, with spesifics aim of increasing tin deliveries by stabling close links producers and buyers.”
Orang-orang inilah yang kemudian berkembang menjadi orang Bangka dan mengembangkan kebudayaan Melayu di pulau Bangka (Sujitno, 2011:101: Hanafiah, 2009 ).
Dalam waktu hampir bersamaan pada waktu itu juga dimulailah migrasi orang-orang Tionghoa dan Siam yang awalnya dipekerjakan sebagai penambang di daerah-daerah konsentrasi timah diseluruh penjuru pulau untuk meningkatkan hasil produksi timah. Mereka didatangkan lansung dari Tiongkok Selatan, Semenanjung Melayu dan Thailand Selatan karena dianggap telah piawai dalam proses penambangan dan pengelolaan biji timah di daerah asalnya. Sejak migrasi yang dimulai sejak masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin I migrasi orang-orang Tionghoa terus berlanjut bahkan pada masa pendudukan Inggris di pulau Bangka jumlah orang Tionghoa Bangka semangkin banyak di beberapa kota sampai ada yang mendominasi dalam jumlah populasi dengan profesi yang beragam terutama pada sektor perdagangan dan pertambangan (Erman, 1995: ;Hikmat, 2002: 32; Troki, 2004; Machmud, 1986:73)
Interaksi yang membuat antara Melayu dan Tionghoa hidup rukun dimulai dari kebiasaan orang-orang Melayu mengangkat anak perempuan Tionghoa menjadi anak. Hal ini pertama terjadi karena kepercayaan orang Tionghoa yang menganggap bahwa melahirkan anak perempuan dianggap tidak membawa keuntungan anak perempuan dianggap tidak berguna karena tidak bisa diajak bekerja keras nantinya. Sehingga banyak anak perempuan yang di telantarkan. Melihat hal ini kemudian memicu timbulnya simpati dari etnis Melayu yang kemudian berinisiatif untuk menjadi anak perempuan menjadi anak angkat. Anak ini akan tinggal bersama keluarga Melayunya dan pindah keyakinan ke agama Islam atau dikenal dengan istilah “masuk Melayu”. Hal ini yang membuat banyak dari orang Melayu Bangka memiliki darah Tionghoa, hingga pada saat ini di Bangka akan sering tampak orang Melayu nampak seperti orang Tionghoa, sedangkan orang Tionghoa nampak berwajah Melayu (Evawarni, 2009: 19; Hikmat, 2002: 198;wawanara dengan Achmad Bamban bin Bamban; wawanara dengan pak Amri)
Bukti bahwa banyak orang Melayu yang mengangkat anak perempuan Tionghoa menjadi anak termuat dalam kutipan berikut surat kabar terbitan Belanda, Indishe Gids:
Sering (kuli Tionghoa) menjual (anak perempuannya) saat masih kecil kepada orang Eropa atau orang Bangka. Seorang bayi yang baru lahir dapat dijual dengan harga lima gulden atau seorang anak perempuan berumur tiga tahun dijual dengan arga f150...(dalam hal ini) anak perempuannya...menjadi sama dengan pribumi.”
Pengadopsian anak ini umumnya terjadi di keluarga Tionghoa yang miskin, orang-orang Tiongoa yang kaya biasanya akan melindungi anak dan istrinya. Sedangkan orang Melayu yang mapan meskipun telah memiliki anak, mereka tidak sungkan untuk mengangkat anak dari etnis Tionghoa. Sehingga dapat dikatakan bahwa anak perempuan adalah pembentuk ikatan antara Melayu dan Tionghoa ( wawancara dengan pak Amri; Heidhues, 2008: 156-158).
Proses penting selanjutnya dalam interaksi antara Melayu dan Tionghoa di Bangka adalah adanya asimilasi yang terjadi dari dua kebudayaan ini. setidaknya ada lima tingkatan asimilasi yang terjadi, yakni asimilasi kultural, asimilasi struktural, asimilasi perkawinan, asimilasi identifikasi, dan asimilasi perilaku tanpa prasangka. Hasil dari proses asimilasi ini masih dapat dirasakan hingga sekarang.
Asimilasi kultural dapat dilihat dari perubahan penggunaan bahasa, nilai-nilai, pakaian dan makanan. Pada penggunaan bahasa, Bahasa kedua etnis ini pun saling mempengaruhi. Bahasa melayu Bangka yang merupakan turunan bahasa Melayu Riau namun telah tercampur dengan banyak bahasa sehingga memiliki dialek tersendiri juga banyak mengadopsi kosakata Tionghoa, sedangkan bahasa Tionghoa telah banyak dipengaruhi bahasa Melayu. Pengaruh kosakata Tionghoa pada bahasa melayu di Bangka banyak ditemukan pada istilah-istilah penambangan dan perdagangan. Pada bidang kuliner juga mengalami asimilasi, salah satunya adalah kue Hak lo Pan atau yang di luar disebut dengan Martabak Bangka atau kue Terang Bulan, ada juga Mie Ayam yang awlanya menggunakan daging babi, namun karena menyesuaikan dengan etnis Melayu maka di pakailah daging ayam. Pada bagian nilai-nilai lebih kepada peraturan untuk kenyamanan kedua etnis, terutama pada saat perayaan hari besar keagamaan dan budaya salah satu etnis(Idi, 2009 :72-73; Heidhues, 2008: 225; Kurniawan dkk, 2013; Sujitno, 2007: 208-209; Kurniati dan Zalfika, 2012: 2-3).
Bentuk asimilasi yang kedua adalah asimilasi struktural asimilasi ini dimulai dengan masuknya sub etnik dalam hal ini etnik yang lebih minoritas yakni etnis Tionghoa kedalam struktur sosial ekonomi etnis Melayu tanpa menghilangkan jati diri sebagai seorang Tionghoa. Saat ini banyak politisi di Bangka yang merupakan seorang Tionghoa, setidaknya ada dua dari tujuh kabupaten/kota di provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang dipimpin oleh seorang Tionghoa, yakni kabupaten Bangka Barat dan kabupaten Belitung Timur. Pada bidang ekonomi etnis Tionghoa pada saat ini mayoritas bekerja sebagai pedangang dengan membangun ruko-ruko pertokoan di kota-kota di pulau Bangka. umumnya dimiliki oleh pedagang Tionghoa dengan bangunan modern namun tetap menggunakan aksen Tionghoa. Yang paling menonjol adalah biasanya akan selalu ada altar peribadatan di sudut ruangan, orang Melayu sudah biasa dengan hal itu dan tetap tampak nyaman saat melakukan transaksi jual beli (Trocki, 2004; Idi, 2009: 109-113).
Peralihan dari penambang menjadi pedagang ini dimulai pada masa pendudukan Inggris di Bangka, dimana Raffles ingin menjadikan Bangka sebagai pusat seluruh kegiatannya untuk Timur Jauh, mulai dari perekonomian hingga basis pertahanan. Untuk membangun perekonomian kemudian Inggris mulai mendatangkan orang-orang Tionghoa dengan beragam profesi, dan mayoritas yang didatangkan adalah para pedagang yang awalnya di tempatkan di kota Muntok sebagai ibukota Keresidenan Bangka di bawah Inggris. Pada bagian sosial-kemasyarakatan asimilasi antara Melayu dan Tionghoa dapat dilihat dari partisipasi kedua etnis pada saat kegiatan sosial-kemayarakatan. Di Bangka adalah hal yang sangat lumrah apabila melihat persahabatan antara seorang dari etnis Melayu dengan orang Tionghoa tanpa lagi membahas SARA, hal ini juga bisa dilihat pada saat perayaan hari besar masing-masing agama, bukan hal yang asing apabila kedua etnis ini akan saling mengunjungi. Di kota Muntok terdapat Masjid dan Kelenteng yang bersebelahan sejak abad ke 19 yakni masjid Jami’ Muntok dan klenteng Kung Fuk Miaw, dan pada saat proses renovasi masjid pada tahun 1873 masa pemerintahan Tumenggung Kertanegara II orang Tionghoa bahkan turut membantu proses renovasi (Sujitno, 2011: 188;Kurniawan, 2013: 266; wawancara dengan pak Amri).
Asimilasi yang ketiga yang terjadi antara etnis Melayu dan Tionghoa di Bangka adalag asimilasi pernikahan (Marital Assimilation). Berdasarkan deskripsi van den Boogard yang mengunjungi Bangka pada tahun 1803, mengatakan bahwa bentuk awal interaksi antara orang Melayu dan etnis Tiongoa di Bangka terjadi langsung dilokasi pertambangan timah, dimana para lelaki Melayu ikut terlibat didalam proses menambang sedangkan kaum perempuan berjualan alat-alat perlengkapan dan makanan untuk para penambang (Idi, 2009: 130-136; Erwiza, 2009: 105)
Laporan yang hampir sama juga  datang dari Horsfield yang datang ke Bangka pada tahun 1813, ia mendeskripsikan bahwa orang Melayu memakai pakaian Melayu, berbahasa Melayu dengan pekerjaan kebanyakan adalah berladang sedangkan orang Tionghoa masih memakai pakian tradisionalnya. Dari sini kemudian dimulailah pernikahan silang antara lelaki Tionghoa dan perempuan melayu, karena pada waktu itu para kuli tambang Tionghoa tidak membawa serta isterinya, bahkan tidak ada satu pun perempuan yang ikut berlayar ke Bangka. Dari pernikahan-pernikahan ini kemudian lahirlah anak-anak yang berdarah campuran. Bentuk asimilasi pada pernikahan ini juga dapat dilihat dari bentuk baju pengantin Bangka yang berwarna Merah (warna Tionghoa) dan Ungu (warna Bangsawan Melayu), baju pengantin ini juga mendapat pngaruh Arab terutama pada baju pengantin pria (Heidhues, 2008: 87-88; Hikmat, 2002:32)
Lebih jauh lagi pada masa era bangsawan Melayu Johor di Muntok, Zamnah atau yang di Palembang disebut dengan Masayu Ratu Zamnah atau dalam kronik Siak disebut Yang Mariam yang merupakan istri Sultan Mahmud Badaruddin I adalah cucu dari seorang Tionghoa bernama Lim Tauw Kian yang kemudian menjadi mualaf atau dalam adat disebut “masuk Melayu  dan menikahi putri Melayu dan berganti nama menjadi Encik wan Abdul Hayat (Hikmat, 2002: 29-30;  Sujitno, 2011: 142; Mahmud, 1986: 57).
Pernikahan campur merupakan hal yang lumrah di Bangka, pada masa kesultanan Palembang, di Bangka bahkan dibuat suatu peraturan khusus mengenai pernikahan campur dan Undang-undang Hukum Adat Tanah Bangka pada pasal kesembilan yakni:
“Sembilan perkara: Jikalau ada seorang Cina hendak mempergundik perempuan Bangka (Melayu), maka orang Cina itu harus bayar 10 ringgit tiap tahunnya kepada kepalanya.”
Pada masa sekarang pernikahan campuran ini bukan merupakan hal yang aneh lagi bahkan bisa dikatakan sebagai hal yang biasa, jumlah pernikahan silang antara etnis Melayu dan Tionghoa di Bangka cukup tinggi, hal ini dapat dilihat dari catatan Kantor Urusan Agama kota Sungailiat yang mencatat pada periode 1997-2004 telah terjadi pernikahan campuran antara etnis Melayu dan Tionghoa sebanyak 169 pasangan. Pernikahan silang biasanya menggunakan prosesi adat Melayu, hal ini dikarenakan biasanya seorang Tionghoa akan menjadi mualla sebelum menikah dengan pasangan Melayunya (Idi, 2009: 130-136;Amin, 2001:17; wawanara dengan pak Amri ketua MHC).
Bentuk asimilasi keempat yang terjadi antara etnis Melayu dan Tionghoa di Bangka adalah asimilasi identifikasi yang berasal dari rasa kebangsaan dan cinta akan daerah. Di bangka kita akan sangat jarang mendengar seseorang menyebut dirinya sebagai orang Melayu atau orang Cina, meskipun memang benar mereka berasal dari suku dan etnis tersebut. Sebagai gantinya mereka akan menyebut dirinya sebagai orang Bangka karena menganggap pulau Bangka sebagai tempat asalnya meskipun leluhurnya berasal dari luar. Wujud nyata dari bentuk asimilasi identifikasi seorang Tionghoa dapat dilihat pada saat orang ritual sembahyang kubur yang dilakukan di pemakaman Sentosa kota Pangkalpinang, pada saat akan menjalankan ritual ini maka seluruh orang Tionghoa Bangka akan pulang ke Bangka meskipun ia berada jauh dari Bangka, ada yang pulang dari kota-kota di Indonesia bahkan ada yang sengaja menyempatkan diri untuk pulang ke Bangka padahal mereka telah menetap di luar negeri dan menjadi warga negara tersebut (idi, 2009: 19-151; Evawarni, 2009:42-43; wawanara dengan pak Amri).
Bentuk asimilasi terakhir yang terjadi antara etnis Melayu dan Tionghoa di Bangka adalah Asimilasi Perilaku tanpa Prasangka dapat dilihat dari penggunaan panggilan dari satu etnis ke etnis yang lain tanpa ada rasa tersinggung sedikitpun dari etnis yang di tuju, di Bangka orang Melayu biasa menyebut orang Tionghoa dengan sebutan “Orang Cen” sedangkan orang Tionghoa memakai kata “Fangin” untuk menyebut orang Melayu walaupun sudah jarang di pakai. Penggunaan kedua kata ini tidak ada sedikit pun maksud untuk merendakan salah satunya, hanya panggilan belaka, dan tidak mendapatkan sambutan negatif dari yang mendapatkan nama (idi, 2009: 161; Hikmat, 2002: 95).
Ragam wujud asimilasi yang berlaku menunjukan bahwa masyarakat Melayu Bangka memiliki struktur sosial masyarakat Melayu terbuka yang menerima semua hal-hal yang baru selama itu tidak mengusik bahkan merusak nilai-nilai adat istiadat marwah Melayu yang bernafaskan Islam. Sehingga budaya lain dapat  tumbuh bahkah berkembang karena masih banyak ritual asli Tionghoa yang tetap dilakukan hingga sekaranghidup berdampingan dan kebudayaan Melayu tetap kekal walaupun sedikit saling mempengaruhi. Semangat orang Melayu Bangka dalam mempertahankan kebudayaan Melayu ini sesuai sebagaimana ungkapan yang pernah diikrarkan oleh Laksamana Hang Tuah yang sangat terkenal, yaitu :“ Tuah sakti hamba negeri, Esa hilang dua terbilang, patah tumbuh hilang berganti, takkan Melayu hilang di bumi.” (Elvian, 2008: 12; Fahrozi, 2015).
Ragam bentuk asimilasi dan sifat keterbukaan inilah yang kemudian melahirkan ungkapan Thongin Fangin Tjitjong sebagai ungkapan bentuk persatuan masyarakat Bangka yang multikultural. Bersatunya etnis-etnis yang ada dengan tanpa memandang perbedaan sebagai penghalang ataupun merasa menjadi superior atas yang lainnya telah menjadikan Bangka sebagai tempat yang aman dan nyaman bagi etnis-etnis yang bermukim disana. Perpaduan dari berbagai kebudayaan yang mewarnai kehidupan sehari-hari membuat masyarakat Bangka memiliki sifat terbuka terhadap berbagai macam budaya yang datang dan menjadi terampil dalam memilah dan mengolahnya menjadi sebuah kesatuan yang merupakan kekuatan. Hal ini sesuai dengan salah satu cita-cita luhur bangsa Indonesia yang termuat di dalam Pancasila pada butir sila ke tiga Pancasila “Persatuan Indonesia”.
4.      Penutup
Kesimpulan
Keberagaman etnis yang menghuni pulau Bangka dimulai ketika penambangan timah dalam skala besar mulai marak dilakukan pada era kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin I. Sejak saat itu berbondong-bondonglah beragam etnis datang dan bermukim hidup berdampingan serta melakukan interaksi antara satu dengan yang lainnya. Interaksi antar etnis ini melahirkan sebuah ungkapan dalam bahasa Tinghoa berbunyi “thongin fangin tjitjong” yang bermakna antara Tionghoa dan Melayu adalah sama tidak ada yang superior dan tidak ada yang berada pada level yang lebih rendah. Ungkapan ini lahir dari hasil interaksi panjang selama ratusan tahun setelah terjadinya proses akulturasi di berbagai bidang sehingga antar etnis dapat saling menerima etnis yang lain. Hal ini membuat terciptanya keharmonisan di hampir setiap sendi kehidupan masyarakat Bangka yang multietnis dan multikultur.
Ungkapan ini juga secara langsung menunjukan bahwa masyarakat Bangka adalah masyarakat yang  tak hanya terbuka yang menerima perbedaan dan hal-hal yang baru namun juga pandai mengolah hal tersebut dengan merangkumnya menjadi sebuah kesatuan yang merupakan kekuatan bangsa. Menjadikan perbedaan sebagai sebuah kekuatan modal kemajuan daerah bukan sebagai sumber perpecahan yang membawa pada keterpurukan sesuai dengan cita-cita luhur bangsa Indonesia yang tertuang pada sila ketiga Pancasila “Persatuan Indonesia”.
Rekomendasi
Mengingat bahwa persatuan dalam keberagaman adalah kekuatan dan aset bangsa, maka penulis merekomendasikan tulisan ini untuk dapat dibahas lebih lanjut pada sebuah seminar. Hal ini dikarenakan masih banyak daerah di Indonesia yang akhir—akhir ini menjadi sorotan berita nasional karena bentrokan antar etnis yang mendiami daerah tersebut, daerah-daerah tersebut gagal mewujudkan sila ketiga Pancasila yakni “Persatuan Indonesia”. Namun pulau Bangka di proinsi Kepulauan Bangka Belitungtampil menjadi salah satu daerah yang berhasil mengikat keberagaman menjadi sebuah kekuatan dengan tanpa menghilangkan jati diri beragam etnis yang bermukim disana. Ungkapan “Thongin Fangin Tjitjong” merupakan bentuk kejeniusan lokal masyarakat Bangka dalam menghadapi perbedaan dan sebagai bentuk pertahan dari kemungkinan akan terjadinya gesekan antar etnis yang ada. Dengan membahas kearifan lokal dalam bentuk ungkapan tradisional ini pada forum yang lebih besar di harapkan bisa memberikan contoh peranan kearifan lokal bagi pengelolaan kemajemukan dalam upaya penguatan multikulturalisme di Indonesia.



Daftar Pustaka
Amin, Ali. Dkk. 2001. Kompilasi Adat Istiadat Kota Pangkalpinang. Palembang: Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.
Balai Arkeologi Palembang., 2016. Arkeologi Perkotaan di Kota Muntok. Laporan hasil penelitian. Palembang: Balai Arkeologi Palembang.
Daliman. 2012. MetodePenelitianSejarah. Yogyakarta: PenerbitOmbak.
Elvian, Ahmad, 2008. Tarian Pinang Sebelas Kota Pangkalpinang, Suatu Tinjauan Makna Simbolis. Pangkalpinang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pangkalpinang.
Erman, Erwiza. 1995. Kesenjangan Buruh-Majikan “Pengusaha, Koeli, dan Penguasa: Industri Timah Belitung”. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Erman Erwiza. 2009. Dari Pembentukan Kampung ke Perkara Gelap: Menguak Sejarah Timah Bangka Belitung. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Evawarni. 2009. Kerukunan Antar Suku Bangsa di Kota Pangkalpinang. Tanjungpinang: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang
Fahrozi, Muhamad Nofri. 2015. Penelitian Komunitas Etnis Tionghoa di Bangka Bagian I. Laporan Hasil Penelitian. Palembang: Balai Arkeologi Palembang.
Hanafiah, Djohan. 2009. Mentok Kota Khusus/Khusus Kesultanan Palembang Darusallam. Latar Belakang Sejarah Berdirinya Kota Mentok. Diseminarkan pada Seminar Hari Jadi Kota Muntok. Muntok Kepulauan Bangka Belitung, Tanggal 13 Agustus 2009.
Heidhues, Mary F. Somers. 2008. Timah Bangka dan Lada Muntok. Jakarta: Yayasan Nabil
Hikmat, Ishak. 2002. Kepulauan Bangka Belitung, Semangat dan Pesona Provinsi Timah dan Lada. Jakarta: Bali Intermedia
Idi, Abdullah. 2009. Asimilasi Cina-Melayu di Bangka. Yogyakarta: Tiara Wacana
Kurniati dan Zalfika Ammya. 20112. Mengenal Sastra Melayu Bangka. Pangkalpinang: Bangka Publishing.
Machmud, Muhammad Arifin. 1986. Pulau Bangka dan Budayanya Jilid I. Pangkalpinang: Tidak diterbitkan
Pradjoko, Didi dan Bambang Budi Utomo. 2013. Atlas Pelabuhan-Pelabuhan Bersejarah di Indonesia. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Sair, Alian dan Dedi Irwanto. 2014. Metodologi dan Histriografi Sejarah. Yogyakarta: Penerbit Ombak
Sari., F., 2014. Sistem Kekerabatan Sosial Masyarakat dalam Penggunaan Gelar Kebangsawanan “Yang” dan “Abang” di Kota Muntok Kepulauan Bangka (1734-1816).J. Criksetra, 4: 120-139
Sujitno, Sutedjo. 2007. Sejarah Penambangan Timah di Indonesia, Abad ke 18- Abad ke 20. Jakarta: Ibalat Communication.
Sujitno, Sutedjo. 2011. Legenda dalam Sejarah Bangka. Jakarta: Mediastar Printing.
Trocki, Carl A., 2004. Chinese Capitalism and the British Empire. Disajikan dalam the International Association of Historians of Asia, 6-10 Desember 2004, Taipei, Taiwan.




Songket Palembang; Cerminan Multikultur


“Cerminan Multikultur dalam Kain Songket Palembang”
Oleh: Ella Karolina
Juara 1 Lomba Karya Ilmiah Kebudayaan Tingkat Mahasiswa Tahun 2016, diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BNPB) Sumatera Barat dengan tema: “Revitalisasi Kearifan Lokal bagi Penguatan Multikulturalisme Indonesia” Padang, 8 Desember 2016.
1. PENDAHULUAN
            a. Latar Belakang
Multikulturalisme berasal dari tiga kata yaitu multi yang artinya banyak atau beragam, kulturalartinya budaya dan isme artinya aliran ataupun paham, jadi secara etimologi berarti suatu pemahaman akan keberagaman budaya. Budaya yang harus dipahami bukan budaya dalam arti sempit, melainkan budaya sebagai semua bagian manusia terhadap kehidupannya yang kemudian akan menghasilkan banyak ilmu dan pengetahuan, seperti sejarah, pemikiran, budaya verbal, bahasa dan lain-lain. Hakikatnya, Multikulturalisme adalah sebuah pemikiran yang dapat diartikan sebagai ideologi yang menghendaki adanya persatuan dari berbagai kelompok kebudayaan dengan hak dan status sosial politik yang sama. Istilah multikultural juga dapat digunakan untuk menggambarkan kesatuan berbagai etnis masyarakat yang berbeda dalam suatu negara.
Kesimpulannya, multikulturalisme adalah sebuah ideologi yang mengakui adanya perbedaan dan keanekaragaman baik dalam kebudayaan, etnis, suku, bangsa, dll yang ada dalam individu atau kelompok masyarakat namun tetap mengutamakan kesederajatan sosial. Selain itu, multikulturalisme lebih menekankan kepada sikap masyarakat yang harus menerima adanya berbagai kelompok manusia yang memiliki kebudayaan dan adat istiadat berbeda dari masyarakat lainnya namun tidak menganggap perbedaan tersebut sebagai ancaman melainkan menganggap kebudayaan lain setara pentingnya dengan kebudayaan mereka sendiri.
Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang termasuk dalam Negara multikultur. Hal yang mendukung kemajemukan dari Negara Indonesia adalah Indonesia memiliki 470 suku bangsa, 300 bahasa yang masih digunakan hingga sekarang di berbagai daerah dan 19 daerah hukum adat yang menjunjung tinggi adatnya masing-masing, didukung dengan penduduk yang tersebar di seluruh nusantara sekitar 17 ribu pulau, beraneka ragam kekayaan serta keunikan kebudayaan, menjadikan masyarakat Indonesia yang hidup diberbagai kepulauan itu mempunyai ciri dan coraknya masing-masing. Hal tersebut membawa akibat pada adanya perbedaan latar belakang, kebudayaan, corak kehidupan, dan termasuk juga pola pemikiran masyarakatnya dengan kata lain bisa dikatakan sebagai masyarakat multikultural.Hal inilah yang membuat Indonesia menjadi Negara Multikultur yang tercermin dalam Bhinneka Tunggal Ika yang artinya walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
Salah satu kota di Indonesia, Palembang juga sangat mendukung Indonesia menjadi Negara multikultur. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari tinjauan sejarah kota Palembang di mulai dari Kerajaan Sriwijaya yang sudah berhubungan baik dengan beberapa negara seperti Cina, Siam, India hingga Kesultanan Palembang yang berkaitan erat dengan Kerajaan yang ada di Jawa. Dari hubungan dan kaitan inilah terjadi akulturasi antara kebudayaan dari wilayah-wilayah tersebut. Hal ini menyebabkan kebudayaan yang ada di Palembang juga terbentuk dari pengaruh akulturasi Kerajaan Sriwijaya maupun Kesultanan Palembang dengan wilayah lain. Contohnya adalah Masjid Cheng Ho yang mendapatkan pengaruh arsitektur dari Cina, Terbentuknya Kampung Arab di kota Palembang yang berasal dari hubungan erat Kesultanan Palembang dengan Negara Timur Tengah. Sehingga dari hubungan baik ini mempengaruhi motif yang ada pada Songket.
Songket sudah dikenal luas di seluruh wilayah di nusantara, songket yang termasuk dalam tenun ikat ini hampir dimiliki oleh seluruh wilayah pesisir Indonesia.Setiap daerah yang memiliki maupun memproduksi songket memiliki ciri khas tersendiri didasarkan pada kebudayaan daerah tersebut mulai dari motif, corak hingga alat tenun yang dipakai.Seperti songket yang ada di Palembang memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri.Keunikan itu terutama terdapat pada desainnya.Makna yang terdapat pada setiap corak dan motif pada songket Palembang tidak hanya untuk memperindah songket itu saja tetapi sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat disana serta kehidupan politik mengenai kekuasaan juga.Dengan keunikan yang dimiliki oleh songket Palembang, dapat dikatakan bahwa songket Palembang merupakan produk kain tenun yang mempunyai nilai budaya yang tinggi serta dihasilkan dari tangan-tangan penenun dari kelompok masyarakat yang berbudaya tinggi pula. Maka dari itu, bersamaan dengan nilai filosofis pada motif yang dikandungnya menjadikan songket Palembang berbeda dengan ragam kain tenun dari daerah lain.
Motif kain Songket Palembang tidak hanya menjadi ciri khas dari Songket Palembang itu sendiri melainkan cerminan dari multikultural. Hakikatnya, perkembangan Songket Palembang dari masa ke masa mendapatkan pengaruh dari setiap era yang ada di Palembang misalnya saja pada masa Kerajaan Sriwijaya yang cenderung menggunakan motif yang mendapatkan pengaruh dari kebudayaan cina, pada masa Kesultanan Palembang motif Songket Palembang menggunakan motif yang mendapatkan pengaruh dari kebudayaan Jawa.
Hal inilah yang menjadikeunikan songket Palembang dibandingkan songket lain, karena songket Palembang merupakanperpaduan dari beberapa budaya negara Cina, India, Portugis, dan Siam serta dipadukan juga dengan kebudayaan dari daerah lain seperti Jambi, Bangka, Lampung, dll. Pengaruh dari beberapa negara dan daerah inilah yang memberikan kontribusi terhadap motif yang ada pada songket.Motif yang banyak terdapatpada kain tenun songket Palembang biasanya berupa flora dan fauna, beberapa motif songket yang mendapat pengaruh dari kebudayaan lain misalnya motif nago besaung, limar mentok, bungo cino, dan lain-lain.
Berdasarkan sekilaslatar belakang tersebut, maka penulistertarik untuk menulis sebuah Karya Tulis Ilmiah yang berjudul“Cerminan Multikultur dalam Kain Songket Palembang”.Masalah yang menjadi sorotan dalam Karya Tulis ini adalah mengapa kain Songket Palembang dikatakan sebagai cerminan multikultur.Adapun tujuan dari Karya Tulis ini adalah untuk mengetahui cerminan multikultur yang terdapat dalam kain Songket Palembang.
Manfaat dari Karya Tulis ini diharapkan dapat memiliki poin penting dalam memberikan ilmu dan pengetahuan tentang wujud kebudayaan lokal yang masih ada hingga sekarang.Salah satunya adalah Songket, kain asli dari Palembang yang memiliki banyak jenis dan motif ini sudah terkenal hingga ke luar negeri. Namun, orang-orang yang memakai songket tidak banyak yang mengetahui bahwa motif yang terdapat dalam setiap Songket sangatlah bermakna dan menjadikan Palembang sebagai kota yang banyak sekali keanekaragaman budayanya. Selain itu, Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan menjadi bacaan bagi semua masyarakat agar tetap menjaga dan melestarikan hasil kebudayaan di Palembang terutama Songket yang dapat dikatakan sebagai salah satu hasil kebudayaan Palembang yang sangat ditonjolkan.
Bagi Penulis menambah pengetahuan tentang sejarah lokal dan menunjukkan bahwa di Sumatera Selatan terdapat banyak kebudayaan dan wujud kebudayan yang masih dipegang serta masih dilestarikan hingga saat ini. Serta bagi Lembaga untuk referensi dan sumber pengetahuan dan penjagaan terhadap hasil sejarah lokal di Sumatera Selatan. Secara Praktis penelitian ini  diharapkan dapat dijadikan sarana untuk meningkatkan kompetensi sebagai mahasiswa yang berilmu agar menjaga sejarah lokal.
b. Metodologi Penelitian
            Pada karya tulis ini penulis menggunakan metode historis, yakni untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan objektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasikan, serta mensintesiskan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang kuat.
            Menurut Pelto dalam Irwanto dan Sair (2014:12), metodologi sejarah menurut logika adalah suatu teknik pengamatan dan analisa dalam menyeleksi fakta-fakta suatu peristiwa dengan menyatakan secara tegas data yang dihasilkan dan menghubungkan data-data tersebut dalam suatu proposisi yang bersifat teoritis.
            Sejarawan Bernheim dalam Irwanto dan Sair (2014:11) mendefinisikan metode sejarah sebagai teknik riset atas empat tahap, yaitu :
            Heuristik(Pengumpulan Data) yaitu mencari dan menemukan sumber-sumber sejarah. Tahap pertama dalam metode sejarah adalah heuristik. Heuristik merupakan suatu metode yang bertugas menyelidiki sumber-sumber sejarah dan usaha-usaha untuk mengumpulkan informasi mengenai subjek yang berkaitan langsung dengan masalah dalam suatu penulisan sejarah.
            Kritik yaitu menilai secara otentik keaslian, kredibilitas suatu sumber. Kritik sumber umumnya dilakukan terhadap sumber-sumber pertama.Kritik ini menyangkut verifikasi sumber yaitu pengujian mengenai kebenaran atau ketepatan (akurasi) dari sumber itu.Dalam metode sejarah dikenal dengan melakukan kritik eksternal dan kritik internal.
            Auffasung (Interpretasi Data) yaitu sintesis dari fakta yang diperoleh melalui kritik sumber. Menurut Kuntowijoyo dalam Sulasman (1994:111) Interpretasi atau penafsiran sejarah sering disebut dengan analisis sejarah.Analisis berarti menguraikan, menjabarkan suatu data.Analisis secara terminologi berbeda dengan sintesis yang berarti menyatukan.Analisis dan sintesis dipandang sebagai metode utama dalam interpretasi data. Dalam interpretasi, penulis akan menguraikan data dengan menganalisisnya kemudian menyatukan data tersebut dengan sintesis data.
            Darstellung(Historiografi) yaitu penyajian akhir dalam bentuk tulisan.Tahap terakhir dalam metode historis adalah Historiografi.Historiografi adalah proses penulisan sejarah yang menggunakan daya pikir keterampilan teknis serta didukung dengan keterampilan teknis penulis dalam menggunakan pikiran-pikiran kritis, analitis dan penggunaan kutipan-kutipan dan catatan-catatan secara relevan. Pada tahap akhir Historiografi, penulis harus menghasilkan suatu sintesis ataupun keseluruhan dari seluruh hasil penelitiannya dalam suatu penulisan utuh. Keabsahan semua fakta dilihat melalui metode kritikdapat dipahami hubungannya satu sama lain setelah semuanya ditulis dalam suatu keutuhan lengkap yaitu historiografi.
2. PEMBAHASAN
Cerminan Multikultur yang Terdapat dalam Motif Kain Songket Palembang
a.      Tinjauan Historis Kain Songket Palembang
Seni kerajinan tenun songket merupakan warisan budaya Palembang, yang telah ada sejak beberapa abad yang lalu.Belum ada catatan resmi kapan tepatnya waktu songket diciptakan. Yudhi Syarofie (2007:13-14) dalam bukunya “Songket Palembang:Nilai Filosofis, Jejak Sejarah, dan Tradisi” menguraikan ada duapendapat proses hadirnya songket.
Pendapat pertama menyatakan bahwa songket sudah ada di Palembang sejak ratusan tahun silam, sebelum masa Kesultanan Palembang yaitu masa Kerajaan Palembang, terutama pada masa peralihan Sriwijaya-Kerajaan Palembang pada abad ke-13 hingga ke-15, bahkan ada yang berpendapat bahwa songket sudah ada sejak kerajaan Sriwijaya. Perkembangan kerajinan tenun songket berkembang semakin pesat seiring dengan majunya perdagangan internasional dengan Kerajaan Sriwijaya sebagai pusatnya.Keuntungan Kerajaan Sriwijaya sebagai pusat perdagangan dunia terutama di Asia menghasilkan interaksi dengan berbagai bangsa khususnya dengan bangsa Cina yang memberikan efek yang besar dalam perkembangan awal Songket, hal ini dapat memicu terjadinya akulturasi.Adanya persilangan budaya antar bangsa dapat memberikan dampak besar dalam perkembangan tenun songket Palembang.
Hal ini didukung dengan motif dari kain Songket Palembang yang dulunya sebelum masa Kesultanan Palembang masih menggunakan hiasan berupa lukisan atau motif-motif yang menampilkan makhluk hidup seperti hewan dan manusia.Ada juga kain atau busana yang dihiasi dengan lukisan naga, bentuk burung hong, serta lukisan kilik ataupun singa.Motif naga juga digambarkan sangat jelas seperti mitologi naga dalam kepercayaan Cina.
Pendapat kedua menyatakan bahwa songket telah ada bersamaan dengan berdirinya Kesultanan PalembangDarussalam (1659-1823).Hal ini didasarkan pada pakaian yang dilukiskan pada gambar Sultan Mahmud Badaruddin II yang sudah memakai Songket sebagai bagian bawah pakaian.Berdasarkan peraturan pada waktu itu, yang boleh memakai songket hanya raja, sultan atau kerabat keraton.Songket dipakai oleh raja untuk acara-acara kebesaran. Namun, pada masa Kesultanan Palembang ini songket belum ada dalam bentuk kain melainkan dalam bentuk selendang (Palembang:kemben). Baru pada tahun 1900, selendang songket itu dibuatkan padanannya yaitu sebuah kain songket.
Hal ini didukung dengan motif Songket Palembang yang mengalami perubahan setelah Kerajaan Islam mengambil alih kota Palembang. Pada masa ini, motif-motif yang ada makhluk hidupnya mulai dihapuskan karena disesuaikan dengan ajaran agama islam yang  mengharamkan melakukan pemujaan terhadap makhluk hidup. Motif burung atau singa yang semula dilukiskan dengan jelas kemudian diubah menjadi lukisan yang abstrak sehingga tidak nampak lukisan makhluk hidupnya.Motif naga juga diubah menjadi pola geometris, sehingga bentuknya tidak benar-benar menyerupai naga.
Perkembangan tenun songket di Palembang meningkatkan tenun tersebut menjadi banyak macam, setelah masa kesultanan Palembang itu muncul tenun ikat dan jenis tenun lainnya. Para pengrajin songket Palembang mulai membuat sutera dalam bentuk benang dalam sentra industri kerajinan tradisional yang nantinya akan menjadi kain sutera, dihiasi dengan benang emas sehingga warnanya menjadi merah dan kuning keemasan. Hal ini terjadi karena adanya akulturasi budaya antara orang Palembang dan bangsa lain khususnya para pedagang dari Tiongkok dan Siam yang pada masa itu membawa benang emas sebagai bahan utama untuk tenun songket Palembang.
Selanjutnya perkembangan Songket terus meningkat hingga sekarang membuat penenunnya semakin inovatif dan kreatif.Seiring majunya zaman,motif-motif songket Palembang juga mengalami perkembangan dan mulai dipadu-padankan dengan kain yang berasal dari Lampung, Padang dan Medan.
b.      Motif Kain Songket Palembang yang Mencerminkan Multikultur
Nago Besaung
            Motif ini mengandung makna lambang yang menunjukkan kekuatan dan besarnya kekuasaan yang dimiliki oleh istana terhadap rakyatnya. Dalam masyarakat, motif ini dikenal dengan nama naga bertarung karena dalam motif ini terlihat seperti dua naga sedang memperebutkan bola yang terbuat dari emas. Filosofi motif Songket Nago Besaung dapat dimaknai Naga melambangkan penguasa sedangkan bola emas melambangkan simbolisasi dari kekuasaan.
            Pengaruh Cina sangat kuat dalam filosofis Songket Palembang.Dalam mitologi Cina, naga digambarkan sebagai ular raksasa, bertanduk, bersisik keemasan dan mempunyai empat kaki.Keempat kakinya itu melambangkan kekuatan dan kekokohan dari naga tersebut.
            Menurut mitologi Jawa yang berbasis agama Hindu, naga digambarkan dengan hewan yang tidak mempunyai kaki dan bentuk muka yang berbeda.Sedangkan mitologi Yunani kuno, naga digambarkan sebagai hewan modifikasi dari hewan purba yaitu dinosaurus bersayap.Bentuk fisik naga dalam motif ini jika diteliti dengan cermat adalah penjelmaan naga dalam mitologi Cina.Begitu pula bola emas yang diartikan sebagai mustika dalam mitologi Cina.
Limar
Warna merah, kuning dan hijau dari motif dasar limar juga memiliki makna filosofis.Warna merah mendapatkan pengaruh dari kebudayaan Cina karena Cina sangat berperan dalam memberikan pengaruh motif dalam Songket Palembang, warna merah menyatakan kegembiraan serta kebahagiaan.Warna kuning mendapatkan pengaruh dari India yang melambangkan keagungan dan kebangsawanan. Serta warna hijau yang mendapatkan pengaruh dari Islam yang dinyatakan dalam Al-qur’an surat Al-Kahfi ayat 31 yang mengatakan bahwa pakaian hijau dari sutera halus dan tebal adalah orang yang berada di surga adnan serta dalam beberapa hadits juga dinyatakan bantal di surga warnanya hijau dan warna yang paling disukai Rasulullah adalah warna hijau (Al-Hakim dan Ahmad).
Songket Limar menggunakan sedikit benang jantung, benang emas jantung ini hanya digunakan untuk motif-motif tertentu. Pada awalnya, benang ini berasal dari kota Shanghai yang dibawa oleh pedagang Cina ke Palembang.
Limar Mentok
Menurut sejarahnya sekitar tahun 1821 pada masa akhir Kesultanan Palembang banyak para seniman di Palembang yang melarikan diri ke Mentok. Mentok adalah nama daerah yang sekarang berada di Provinsi Bangka Belitung. Para seniman melarikan diri karena tidak suka dengan sultan yang diangkat oleh Belanda.Berdasarkan keterangan dari informan menyatakan bahwa seniman yang melarikan diri ke Mentok tersebut tetap berkarya membuat Songket dan hasil karya itu dinamakan Songket Limar Mentok oleh orang Palembang.Dari segi budaya khususnya kain Songket, Bangka dan Palembang memiliki keterikatan terputus dan berbeda.Tapi tetap saja, karena pada waktu itu dibuatnya di daerah Mentok menyebabkan motif ini terpengaruh dari kebudayaan yang ada di Bangka.Di daerah Bangka Belitung Songket ini dinamakan Kain Tual.Songket ini bahannya sangat halus karena dibuat oleh para seniman di kalangan keratin Kesultanan Palembang yang melarikan diri ke daerah Mentok.
Bungo Cino
Nama awalnya adalah songket Bunga Emas, namun dalam perkembangan selanjutnya songket ini dinamakan Bungo Cino.Songket motif ini menggunakan banyak benang emas.Songket Bungo Cino hanya digunakan dan diperuntukkan orang-orang keturunan Cina yang ada di Palembang, maka dari itu songket ini dinamakan Bungo Cino karena yang boleh memakainya hanya orang Cina saja.
Bungo Pacik
Songket ini menggunakan benang sutera sebagai bahan dasar.Perbedaan ini didasari oleh masyarakat keturunan Arab yang menolak untuk menggunakan benang-benang emas karena dinilai bahwa sebagai manusia dilarang untuk memakai sesuatu yang berlebihan dan dilarang memamerkan kemewahan.Karena itulah, songket ini diperuntukkan dan hanya dipakai oleh masyarakat keturunan Arab.Pacik adalah sebutan bagi perempuan muhajirin Arab.
c.       Kain Songket Palembang sebagai Bentuk Multikultur di Palembang
Terjadinya akulturasi budaya, menyebabkan orang Palembang mulai berkreasi dalam pembuatan kain begitu juga pada pemakaiannya.Setelah tahun 1823 pada masa penjajahan Belanda, aturan pemakaian kain Songket mulai dihapuskan.Hingga sekarang, setiap orang bisa memakai Songket Palembang asal mampu membelinya.Hal ini menegaskan bahwa Songket Palembang memang asalnya dari Palembang namun orang yang memakainya tidak harus dari Palembang, orang dari suku, agama dan negara manapun bisa membeli dan memakai kain ini.Keadaan ini sangat mendukung songket sebagai salah satu bentuk multikultur yang ada di Palembang.
Selain cerminan multikultur yang terdapat dalam motif, pada umumnya bahan baku dari kain songket didatangkan dari luar negeri. Dahulu bahan baku benang sutera dibeli dari negara Cina, Taiwan dan Singapura. Benang emasnya dapat dibeli dari negara India, Siam, Perancis, Jerman dan Jepang. Benang Nylon dibeli dari negara  Jepang dan obat celup dibeli dari negara Inggris dan Jepang. Didukung dari bahan baku juga, membuat songket tidak bisa dilepaskan dari multikultur. Dari bahan bakunya saja sudah berasal dari luar negeri ataupun import, secara tidak langsung bahan baku ini sudah memberikan sentuhan budaya dari negara asal pengirim benang-benang tersebut.
Untuk pemasaran, sejak tahun 1966 kerajinan Songket Palembang mengalami peningkatan yang signifikan seiring dengan permintaan masyarakat.Keanekaragaman motif membuat Songket Palembang terkenal sampai ke daerah-daerah di nusantara, pemasarannya juga sudah mencapai Malaysia, Siam, Arab, Cina dan India.Bahkan baru-baru ini Songket Palembang sudah diperkenalkan di Amerika dan beberapa negara di Eropa.
Jadi, tidak hanya motifnya saja yang mencerminkan multikultur namun bahan baku, pemakaian serta pemasaran kain Songket juga sangat membuktikan bahwa Songket dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk dari multikultur yang terdapat di kota Palembang.
3. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Kesimpulan
            Pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya, Palembang menjadi kotapelabuhan dan menjadi tempatpersinggahan negara-negara seperti Cina, Siam, India dan Portugis. Persinggahan negara-negaratersebut menyebabkan akulturasi yang memberikan pengaruh pada motif dan corak warna pada kain songketPalembang.Motif dan corak merah keemasan yang terdapat pada kain songket Palembang merupakanpertanda adanya pengaruh negara Cina terhadap kebudayaan setempat.Ketika Kesultanan Palembang berdiri juga memberikan pengaruh terhadap perkembangan motif songket, yaitu mulai dihilangkannya motif-motif yang menyerupai makhluk hidup dan diganti dengan lukisan yang lebih abstrak, dengan motif-motif geometris, dan bunga-bunga.
            Dari tinjauan historis inilah terbentuk motif-motif yang mendapatkan pengaruh dari wilayah-wilayah luar seperti Cina, Thailand, India serta dari wilayah di pulau Jawa.Motif-motif yang mendapatkan pengaruh tersebut salah satunya adalah Nago Besaung.Motif ini memperlihatkan naga yang sedang bertarung untuk memperebutkan bola suci atau bola emas namun sudah dilukiskan secara abstrak.Motif ini mendapatkan pengaruh dari kebudayaan Cina yang menganggap naga hewan yang kuat.Selanjutnya ada songket jenis Limar yang memiliki tiga warna yaitu warna merah adalah pengaruh dari kebudayaan Cina, warna kuning dari India dan warna hijau dari kebudayaan Islam. Motif songket Limar Mentok juga mendapatkan pengaruh dari daerah Bangka Belitung, hal ini sehubungan dengan nama daerah yang ada di Bangka Belitung yaitu daerah Mentok. Motif Bungo Pacik sangat dikaitkan dengan keturunan Arab serta motif Bungo Cino yang berkaitan erat dengan keturunan Cina.
            Disamping motif, ternyata bahan baku Songket juga dibeli dari luar negeri. Benang sutera dibeli dari negara Cina serta benang emas dibeli dari negara India. Untuk pemasaran, Songket sudah dikenal di mancanegara. Songket sudah diperdagangkan ke Amerika hingga Eropa, terkadang orang Palembang membawa Songket ke luar negeri untuk dibawa ke pameran yang diadakan oleh pemerintah.Hal ini dilakukan agar masyarakat luar lebih mengenal kain-kain di nusantara khususnya Songket Palembang yang memiliki nilai budaya yang tinggi.
            Berdasarkan kesimpulan diatas, dapat dikatakan bahwa Songket terbentuk dari beberapa kebudayaan dari luar Palembang namun Songket tetap menjadi kekhasan etnis masyarakat Palembang. Kain Songket juga terdapat di daerah lain di nusantara namun motif dari Songket Palembang memang berasal dari wilayah Palembang itu sendiri, motifnya tidak bisa ditemukan di daerah lain karena pembentuk kebudayaan dari setiap daerah berbeda-beda. Motifnya serta didukung dengan bahan baku yang berkualitas, membuat Songket Palembang dijuluki “Ratu Segala Kain” karena kekhasan dan kekayaan estetika motifnya.
Rekomendasi
            Karya tulis ini diharapkan dapat dijadikan referensi untuk tema seminar mengenai Songket dan multikultural yang ada didalamnya.Karena banyak sekali siswa, mahasiswa, maupun masyarakat umum yang ada di Palembang mengenal Songket namun tidak memahami filosofi dan makna yang terkandung di dalamnya.Masyarakat hanya memakai Songket nya tanpa mengetahui darimana Songket itu berasal, apa bahan bakunya, sejarah motifnya, dll. Adanya seminar dengan tema Songket dan multikultural yang ada di dalamnya diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya revitalisasi, pelestarian dan pengetahuan mengenai kebudayaan dan kearifan lokal wilayahnya sendiri khususnya pada kain Songket Palembang yang sudah dikenal hingga ke luar negeri.
            Penulis juga menyarankan bahasan pada karya tulis ini ditambahkan dalam salah satu mata kuliah yang ada di program studi pendidikan sejarah Universitas Sriwijaya yaitu Sejarah Lokal. Penambahan sub bab ini penting untuk mempelajari Songket secara lebih mendalam. Hal ini perlu dilakukan karena peran mahasiswa sebagai agent of changeyang membuat mahasiswa berperan penting dalam menyampaikan pengetahuannya kepada seluruh masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
A. Fadhil Lubis, Nur, 2006, “Multikulturalisme dalam Politik : Sebuah Pengantar Diskusi”, Jurnal Antropologi Sosial Budaya ETNOVISI, http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/15288/1/etv-apr2006-%20(3).pdf, Volume II, Nomor 1, April 2006.
Efrianto, dkk. 2012. Songket Palembang di Provinsi Sumatera Selatan.Padang : BPSNT Padang Press.
Hanafiah, Djohan. 2005. Dicari Walikota Yang Memenuhi Syarat.Palembang : CV. Erliza
Irwanto, Dedi dan Alian Sair. 2014. Metodologi dan Historiografi Sejarah.Yogyakarta :Eja Publisher.
Kuntowijoyo. 1994. Metodologi Sejarah. Yogyakarta : PT. Tiara Wacana.
Mansur, Mgs. 1984. Kerajinan Kain Songket Palembang. Makalah tidak dipresentasikan. Palembang.
Marianti, Maria Merry dan Istiharini, 2013,“Analisis Karakteristik dan PerilakuKonsumen Tenun Songket Palembang”, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas KatolikParahyangan,http://journal.unpar.ac.id/index.php/Sosial/article/download/754/738, 24 Februari 2016.
Sjamsudin, Helius. 2007. Metodologi Sejarah. Yogyakarta : Ombak.
Syarofie, Yudhy. 2007. Songket Palembang : Nilai Filosofis, Jejak Sejarah dan Tradisi. Palembang : Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.
Sulasman. 2014. Metodologi Penelitian Sejarah. Bandung : CV Pustaka Setia
Suryabrata, Sumadi. 2010. Metodologi Penelitian. Jakarta : Rajawali Press.
Suparlan, Parsudi. 2002. Menuju Masyarakat Indonesia yang MultikulturalKeynote Address Simposium III Internasional Jurnal ANTROPOLOGI INDONESIA, Universitas Udayana,http://journal.ui.ac.id/index.php/jai/article/download/3448/2729Denpasar, Bali, 16–19 Juli 2002.
Tim Penulis Naskah Koleksi Museum Balaputra Dewa. 2010. Tenun Tradisional Sumatera Selatan. Palembang : Departemen Pendidikan Nasional.



Recent Posts