Selamat Datang | Selamat datang "Mahasiswa Baru Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 2017" - Selamat Bergabung | Semoga artikel dan isi web HIMAPES Unsri ini dapat memberikan manfaat |17 AGUSTUS 1945-2016 "Perjuangan Bangsa Masih Berlanjut" MERDEKA!!! | Terima kasih sudah mengunjungi web kami | Viva Historia... #noHistory noFuture

Monday, 5 June 2017

Surat Ulu: Jejak Tradisi Tulis Lokal

Surat Ulu: Identitas Tradisi Tulis Sumatera Selatan
"Menelusuri Jejak Kumpulan Aksara Lokal Sumbagsel"
Oleh: Kms. Gerby Novario



Pernah dengar istilah Surat Ulu? Atau Aksara Ka-Ga-Nga? Pertanyaan ini yang sering kali penulis terima ketika mengikuti workshop atau seminar kebudayaan yang bertemakan aksara lokal Nusantara. Apa yang mesti kita jawab?

Jelas, jarang (sekali), mengapa? karena aksara asli Sumatera Bagian Selatan dan beberapa daerah Sulawesi ini perlahan tapi pasti sudah mulai hilang dimakan masa dan globalisasi.  Aksara yang kita pakai sekarang adalah aksara internasional yang dibawa oleh bangsa Eropa/ Kolonial ke Nusantara, akan tetapi bangsa kita sendiri.

Indonesia sebagai negara kepulauan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dengan sumber daya yang luar biasa banyak menjadikan negeri ini tersohor ke seluruh penjuru dunia, mulai dari kekayaan alam hingga manusiannya. Wilayah Indonesia yang luas ini juga terdiri dari bermacam-macam sejarah, budaya, serta tradisi.  Tidak heran apabila banyak negara luar melirik Indonesia sebagai lahan yang siap dipanen. Diantara banyaknya warisan budaya tersebut adalah karakter atau tulisan asli berbagai daerah yang termasuk di dalam kategori Aksara Nusantara. Secara garis besar menurut Kertasari (2009), Kozok (2009) aksara Nusantara dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok besar diantaranya aksara Hanacaraka (ada di Jawa, Sunda dan Bali), aksara Batak (ada di Angkola-Mandailing, Toba, Simalungun, Pakpak Dairi, Karo), aksara Ulu (ada di Kerinci, Rejang, Lampung, Lembak, Pasemah dan Serawi), aksara Sulawesi (aksara Lontara - Bugis, Makasar dan Bima) dan aksara Filipina (Bisaya, Tagalog, Tagbanwa, Mangyan).

Secara garis besar kebudayaan Sumatera Selatan dapat diidentifikasi berdasarkan arus sungai. Pada bagian sumber mata air atau daerah pedalaman dinamakan wilayah Hulu (Uluan) sedangkan bagian muara disebut Hilir (Ilir). Wilayah Uluan produksi budayanya cenderung diwujudkan dalam gagasan ketuhanan (religiusitas), beraktivitas dalam produksi hasil tanaman pangan dan perkebunan, dan produksi sistem pemerintahan yang kental dengan warna kelokalan. Wilayah Hilir merupakan pusat perdagangan, pintu masuk dalam hubungan antarnegara-bangsa, dan produksi sistem pemerintahan yang lebih universal untuk wilayah Ilir dan Uluan. Keadaan itu menyebabkan terbentuknya keberagaman produksi budaya di wilayah Uluan, dan dinamika kebudayaan yang besar di wilayah Ilir.

Terdapat dua bahasa di Sumatera Selatan yakni Bahasa Komering dan Bahasa Melayu dengan masing-masing dialeknya. Bahasa Komering memiliki dialek yang relatif sedikit perbedaan satu dengan lainnya dan dalam jumlah yang sedikit. Sedangkan Bahasa Melayu memiliki perbedaan dialek yang relatif tajam dan dalam jumlah dialek yang banyak. Bahasa Melayu terbesar adalah Bahasa Melayu Palembang yang menjadi bahasa perantara (lingua franca) antaretnis di Sumatra Selatan. Kenyataan kebahasaan ini memberi pengaruh kuat dalam proses perkembangan tradisi tulis Kaganga di daerah Uluan.(Rapanie Igama, - )
\
Di Sumatera Selatan salah satu materi kelokalan yang mestinya diajarkan kepada murid adalah surat ulu atau huruf ulu yang merupakan aksara asli Sumatera Selatan itu sendiri. Aksara ulu tersebut sebenarnya merupakan sebuah indikasi bahwa masyarakat Sumatera Selatan telah memiliki budaya tulis yang tinggi di masa lampau.

Surat Ulu itu sendiri merupakan kumpulan beberapa aksara yang berkerabat di Sumatra sebelah selatan. Beberapa aksara yang termasuk kelompok Surat Ulu adalah aksara Kerinci, aksara Rejang-Rencong, dan aksara Lampung. Istilah “kaganga” diciptakan oleh Mervyn A. Jaspan (1926-1975), antropolog di University of Hull di Inggris dalam buku Folk Literature of South Sumatra, Redjang Ka-Ga-Nga texts (Canberra, The Australian National University, 1964) untuk merujuk kepada Surat Ulu.

Jaspan menggunakan istilah Kaganga berdasarkan tiga huruf pertama dalam urutan dalam sistem Surat Ulu. Surat Ulu sendiri merupakan istilah asli yang dipakai oleh masyarakat di Sumatra sebelah selatan. Disebut Surat Ulu karena yang kelompok yang menggunakan aksara ini berada di kawasan ulu (pegunungan) Sumatra, khususnya di Kerinci, Bengkulu, Sumatra Selatan, dan Lampung.

Aksara Surat Ulu diperkirakan berkembang dari aksara Pallawa dan Kawi yang digunakan oleh Kerajaan Sriwijaya. Contohnya dapat kita lihat pada Prasasti Kota Kapur di Kota Kapur, Bangka Barat. Aksara ini berkerabat dengan Batak, yang sama-sama diturunkan dari proto aksara Sumatra, yang berhulu ke aksara India. Diperkirakan, dahulu seluruh Pulau Sumatra, dari Aceh di ujung utara sampai Lampung di ujung selatan, menggunakan aksara yang berkerabat dengan kelompok Surat Ulu ini.

Aksara Kaganga ini secara garis besar ada tiga jenis: aksara Kerinci, aksara Melayu Pertengahan atau aksara Rencong Rejang, dan aksara Lampung. Wilayah penggunaan aksara Surat Ulu terbentang di seluruh bagian selatan Sumatra. Ragam bahasa yang dipergunakan adalah dialek “Melayu Pertengahan”, Lampung, dan Rejang. Bahasa Kerinci mungkin merupakan dialek Melayu atau Rejang.

Aksara Surat Ulu diperkirakan berkembang dari aksara Pallawa dan Kawi yang digunakan oleh Kerajaan Sriwijaya. Contohnya dapat kita lihat pada Prasasti Kota Kapur di Kota Kapur, Bangka Barat. Aksara ini berkerabat dengan Batak, yang sama-sama diturunkan dari proto aksara Sumatra, yang berhulu ke aksara India. Diperkirakan, dahulu seluruh Pulau Sumatra, dari Aceh di ujung utara sampai Lampung di ujung selatan, menggunakan aksara yang berkerabat dengan kelompok Surat Ulu ini.

Aksara Kaganga ini secara garis besar ada tiga jenis: aksara Kerinci, aksara Melayu Pertengahan atau aksara Rencong Rejang, dan aksara Lampung. Wilayah penggunaan aksara Surat Ulu terbentang di seluruh bagian selatan Sumatra. Ragam bahasa yang dipergunakan adalah dialek “Melayu Pertengahan”, Lampung, dan Rejang. Bahasa Kerinci mungkin merupakan dialek Melayu atau Rejang.

Mula-mulanya, para peneliti Belanda memakai istilah aksara Rencong untuk merujuk pada aksara-aksara yang beredar di kawasan selatan Sumatra ini. Menurut sebuah sumber, aksara ini telah digunakan sebelum abad ke-3 M. Orang-orang Melayu Kuno menulisnya di atas kulit-kulit kayu, kulit binatang, daun-daun rontal, kepingan-kepingan logam, bambu, tanduk kerbau, dan kulit kayu, juga batu.

Kebanyakan teks-teks naskah Surat Ulu menceritakan kepahlawanan, hukum, surat resmi untuk mengesahkan hak kepemilikan tanah tradisional, mantra, sihir, guna-guna, obat-obatan, hingga syair mistik Islam. Ada pula syair percintaan, yang dikenal sebagai bandung atau hiwangdi Lampung dan juarian di Rencong. Syair percintaan yang berbentuk dialog ini ditulis pada keping atau lembar bambu disebut gelumpai diikat jadi satu dengan tali melalui lubang di ujung satu serta diberi nomor berdasarkan urutan abjad. Ada pula yang menorehkannya pada tabung bambu dan kulit kayu berlipat.

Untuk lebih jelasnya, bisa membaca tulisan salah satu budayawan di Kota Palembang yaitu Rapanie Igama yang juga peneliti Surat Ulu/ Aksara Ulu. Silahkan baca Tulisan dibawah ini:





Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Recent Posts