Selamat Datang | Selamat datang "Mahasiswa Baru Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 2017" - Selamat Bergabung | Semoga artikel dan isi web HIMAPES Unsri ini dapat memberikan manfaat |17 AGUSTUS 1945-2016 "Perjuangan Bangsa Masih Berlanjut" MERDEKA!!! | Terima kasih sudah mengunjungi web kami | Viva Historia... #noHistory noFuture

Thursday, 1 June 2017

Apa itu Sejarah?

Sejarah: Sebuah Ilmu atau Sebuah Kisah?
"Mengungkap Makna Sejarah"
Oleh: Alian dan Dedi Irwanto


**Dikutip dari buku Alian dan Dedi Irwanto

Definisi Sejarah
Tidak ada satu defenisi pun yang tepat mengenai pengertian sejarah, karena ketika ditarik kesimpulan arti sejarah, selalu berujung dengan kebingungan. Menurut Evans (1997:1-2), kalau sejarah didefenisikan sebagai memori manusia, maka ia akan menjadi tidak terbatas, sebab memori akan selalu banyak jumlahnya. Namun untuk waktu yang lama, kebanyakan orang berpendapat bahwa sejarah adalah masa lampau yang diingat, dan dalam porsi kecilnya, masa lampau yang tercatat. Masa lampau yang diingat dari catatan-catatan, tetapi dengan begitu sejarah bukanlah tentang catatan itu sendiri.

Ada tiga cara untuk mendefinisikan sejarah yaitu dengan melihat cabang-cabang sejarah. Menurut Nadel (1965: 42-45), sesungguhnya sejarah memiliki tiga cabang dan ketiga cabang ini saling berhubungan erat. Pertama, sejarah adalah cabang dari pengetahuan tentang peristiwa masa lalu dan kondisi yang berkaitan dengan masyarakat masa lalu. Segenap peristiwa yang berkaitan dengan masa pencatatannya disebut peristiwa hari ini, dinilai, diberitakan, dan direkam oleh koran harian. Namun begitu masanya lewat, maka setiap peristiwa menjadi bagian sejarah. Dalam pengertian ini, arti sejarah adalah cabang pengetahuan tentang kejadian, peristiwa dan masyarakat masa lalu. Biografi, kisah penaklukan dan kisah orang-orang termasyhur yang disusun semua bangsa, termasuk dalam kategori ini.

Dalam pengertian ini, pertama-tama arti sejarah adalah pengetahuan tentang masalah individu dan peristiwa yang berkenaan dengan individu, bukan pengetahuan tentang hukum umum dan aturan pergaulan. Kedua, sejarah adalah ilmu rawian atau transferan. Ketiga, sejarah adalah pengetahuan tentang "wujud", bukan tentang "menjadi". Keempat, sejarah berkaitan dengan masa lalu, bukan dengan masa sekarang. Dalam terminologi kami, sejarah seperti ini disebut "sejarah rawian".

Kedua, dalam pengertian lain, arti sejarah adalah cabang pengetahuan tentang aturan dan tradisi yang mengatur kehidupan masyarakat di masa lalu. Aturan dan tradisi ini disimpulkan dari studi dan analisis atas peristiwa masa lalu. Subjek atau pokok sejarah rawian dan persoalan yang dibahasnya, yaitu peristiwa dan kejadian masa lalu, berfungsi sebagai pendahuluan untuk cabang sejarah ini. Sesungguhnya peristiwa masa lalu, yang relevan dengan sejarah dalam pengertian seperti ini, dapat disamakan dengan ma­terial yang dikumpulkan fisikawan di laboratoriumnya untuk ditelaah, dianalisis dan dieksperimen dengan tujuan mengetahui karakteristik dan sifat material itu dan mengetahui hukum umum yang berkenaan dengan material itu. Dalam pengertian kedua ini, pekerjaan sejarawan adalah menemukan karakter peristiwa sejarah dan mengetahui hubungan sebab-akibatnya sehingga dapat disimpulkan beberapa aturan umum yang berlaku pada semua peristiwa serupa di masa lalu dan sekarang. Cabang sejarah ini kita sebut "sejarah ilmiah".

Kendatipun peristiwa di masa lalu merupakan pokok studi dalam sejarah ilmiah, namun aturan umum yang ditarik dari peristiwa-peristiwa ini tidak saja berlaku hanya untuk masa lalu saja. Aturan tersebut juga berlaku untuk masa sekarang dan mendatang. Aspek ini, yang terdapat dalam sejarah ilmiah, membuat sejarah ilmiah sangat bermanfaat bagi manusia. Sejarah ilmiah bermanfaat sebagai sumber pengetahuan, dan membantu manusia mengendalikan masa depannya.

Perbedaan antara kerja periset sejarah ilmiah dan pakar ilmu natural , ilmu-ilmu yang digunakan untuk mengkaji dunia fisis, seperti fisika, kimia, geologi, biologi dan botani, adalah pokok kajian pakar ilmu natural berupa material yang memang ada saat ini, dan karena itu seluruh telaah dan analisis pakar ilmu natural bersifat fisis dan eksperimental, sedangkan material yang dikaji sejarawan adanya hanya di masa lalu, bukan di masa sekarang. Yang dapat digunakan sejarawan tersebut adalah informasi tentang material tersebut dan beberapa dokumen yang berkaitan dengan material tersebut. Sejauh menyangkut temuannya, sejarawan tersebut dapat disamakan dengan hakim di pengadilan. Hakim tersebut memutuskan perkara berdasarkan bukti yang didapat dari dokumen, bukan berdasarkan bukti yang didapat dari saksi mata. Karena itu analisis sejarawan, sekalipun logis dan rasional, namun tidak fisis. Sejarawan melakukan analisis di laboratorium mentalnya. Peralatan yang digunakannya adalah kemampuan berpikir dan penyimpulan. Dalam hal ini kerja sejarawan tak ubahnya seperti kerja filosof, bukan seperti kerja pakar ilmu natural.

Seperti sejarah rawian, sejarah ilmiah juga berkaitan dengan masa lalu, bukan dengan masa sekarang. Sejarah ilmiah adalah ilmu tentang "wujud", bukan tentang "menjadi". Namun tak seperti sejarah rawian, sejarah ilmiah sifatnya umum, bukan khusus. Sejarah ilmiah sifatnya rasional. Sejarah ilmiah bukan semata-mata rawian atau transferan. Sejarah ilmiah adalah cabang sosiologi. Sejarah ilmiah adalah sosiologi masyarakat masa lalu. Masyarakat kontemporer dan masyarakat masa lalu keduanya merupakan pokok studi sosiologi. Namun kalau kita menganggap sosiologi hanya mengkaji masyarakat kontemporer, maka sejarah ilmiah dan sosiologi menjadi dua cabang ilmu. Dua cabang ini berbeda, kendatipun tetap saling berkaitan erat dan saling bergantung.

Ketiga, kata "sejarah" dalam pengertian ketiga digunakan untuk menunjukkan filsafat sejarah, yaitu pengetahuan tentang perkembangan masyarakat dari tahap ke tahap dan pengetahuan tentang hukum yang mengatur perubahan-perubahan ini. Dengan kata lain, ilmu tentang "menjadi”-nya masyarakat, bukan tentang "wujud" masyarakat saja.

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, Poerwadarminta (1951: 227), kata “sejarah” berarti:
Silsilah, asal-usul, susur galur. Contoh: Sejarah Raja-Raja Melayu.
Kejadian dan Peristiwa yang benar-benar telah terjadi pada masa lampau. Contoh: Sekalian itu adalah sejarah yang tidak perlu lagi disangsikan kebenarannya.
ilmu pengetahuan, cerita, pelajaran tentang kejadian yang benar-benar telah terjadi pada masa lampau. Contoh: mempelajari Sejarah Kebudayaan Indonesia, Sejarah Indonesia Karangan Sanusi Pane.

Berdasarkan hal di atas beberapa konsep mengenai pengertian sejarah di uraikan oleh para ahli sejarah. Perkataan “Sejarah” mula-mula berasal dari bahasa arab “Syahjaratun” (baca: Syajarah), artinya “pohon kayu“. Pohon menggambarkan pertumbuhan terus menerus dari bumi ke udara dengan mempunyai cabang, dahan, dan daun, kembang, atau bunga serta buah. Memang di dalam kata sejarah itu tersimpan makna pertumbuhan atau silsilah (Yamin, 1958: 4)

Begitulah sejarah yang berarti pohon, juga berarti keturunan, asal usul atau silsilah. Orang yang sudah lama berhubungan dengan ilmu sejarah, termasuk mereka yang mempelajari dengan mendalam, arti kata “syajarah” tidak sama dengan kata “sejarah“. Akan tetapi kedua perkataan itu berhubungan satu dengan yang lain. Sejarah bukan hanya berarti pohon, dalam arti “pohon keluarga” juga tidak hanya berarti keturunan, asal-usul dan silsilah. Walaupun demikian, kalau mempelajari sejarah, sedikit-sedikitnya tentu mempelajari cerita, keturunan, silsilah, riwayat, asal-usul tentang seseorang atau kejadian. Sepintas lalu telah diuraikan arti kata sejarah ditinjau dari sudut etimologi, yang menggambarkan sifat seperti pohon yang tumbuh. Namun demikian bukanlah sejarah itu secara biologis, tumbuh berkembang, berbuah atau tidak dan akhirnya mati. Sejarah memang tumbuh, hidup, berkembang dan bergerak terus dan akan berjalan terus tiada hentinya sepanjang masa.

Disamping kata sejarah, diketahui sejumlah kata dalam bahasa Arab yang artinya hampir sama, yaitu kata silsilah umpamanya menunjuk pada keluarga atau nenek moyang. Kata “riwayat” atau “hikayat” dikaitkan dengan cerita yang diambil dari kehidupan, kadang-kadang lebih mengenai perseorangan daripada keluarga. Untuk keperluan tertentu sekarang dibutuhkan keterangan riwayat hidup, kata riwayat kurang lebih berarti laporan atau cerita tentang kejadian. Sedangkan kata hikayat yang dekat dengan kata sejarah artinya ialah cerita tentang kehidupan, yaitu yang menjadikan manusia sebagai objeknya disebut juga biografi (bios= hidup, gravein= menulis). Jika cerita berkisar mengenai kehidupan itu ditulis oleh, diri sendiri atau pelakunya sendiri disebut autobiografi.  Kata kisah dalam bahasa Arab yang sangat umum menunjuk ke masa lampau. Justru yang lebih mengandung arti cerita tentang kejadian yang benar-benar terjadi pada masa lampau, yaitu sejarah. Sedangkan kata “tarikh” yang menunjukan tradisi dalam sejarah islam, seperti tarikh nabi dan sebagainya, sebenarnya berasal dari kata Turki, yang dalam karya Sejarah Eropa mirip dengan arti kronologi.

Didalam bahasa-bahasa Nusantara ada beberapa kata yang kurang lebih mengandung arti sejarah seperti “babad” yang berasal dari bahasa Jawa, ”tambo “ yang berasal dari bahasa Minangkabau , “tutui teteek“ bahasa Roti, “pustaka” dan “ceritera”. Menurut Pigeaud (1972: 12), kata “babad” berarti “geschiedkundigverhaal” atau “ceritera sejarah“. (Jaraansnederlands Handwoordenibaak) Barangkali kata babad ada hubungannya dengan kata “babad” dalam bahasa Jawa yang diartikan “memangkas”. Hasil pembabadan ialah suasana terang, mungkin babad dalam arti sejarah ini bertugas untuk menerangkan suatu keadaan. Memang, dalam peristiwa tertentu sejarah rakyat Indonesia, mungkin terjadinya di tiap-tiap desa yang dihuni masyarakat di Pulau Jawa. Kemudian ada yang berkembang menjadi kota atau keraton, mula-mula dimulai dengan jalan membabad hutan. Barangkali awal pemukiman manusia dilokasi tepi sungai dan berikutnya mendekati hutan yang subur. Agar diperoleh pengertian yang lebih luas, maka sebagai perbandingan diambil beberapa istilah yang berasal dari bahasa Eropa.

Perkataan sejarah dalam bahasa Belanda ialah “Geschiedenis“  ( dari kata Geschieden= terjadi). Sedangkan dalam bahasa Inggris ialah “history“ (berasal dari bahasa Yunani “historia” apa yang diketahui dari hasil penelitian atau inquiry), sehingga hampirlah berarti “ilmu pengetahuan” jadi berhubungan dengan pelacakan segala macam peristiwa yang terjadi dalam masyarakat manusia pada masa lalu. Pembatasan ini pun terasa luas sekali meliputi seluruh kehidupan manusia. Menurut arti yang paling umum, kata historia berarti sesuatu yang telah terjadi. Bandingkan dengan kata Jerman untuk sejarah, yakni Geschicte, yang berasal dari kata “Geschehen” yang berarti terjadi Geschicte adalah sesuatu yang telah terjadi.

Dalam bahasa Belanda Geschiedenis dari kata kerja Geschieden yang berarti terjadi. Bahasa Inggris “History” kini berarti “masa lampau umat manusia”. Melalui Bahasa Latin kata “Historia” itu termasuk ke dalam  bahasa-bahasa Eropa lainnya. Misalnya dalam bahasa Perancis menjadi “Historie” atau I’ historie dan dalam bahasa Rusia “Istorya”. Memang sesungguh sejarah mencakup setiap bidang yang tidak terbatas, namun demikian dapatlah kiranya pembatasan kata manusia itu cukup menjadi pusat penelitian atau studi. Jadi bukan membicarakan semua makhluk hidup, termasuk hewan dan tumbuhan. Demikian pula bukan membicarakan tentang alam raya dengan segala isinya. Demikianlah, beberapa penjelasan mengenai perkataan sejarah ditinjau dari segi etimologi atau asal kata. Namun arti dari semua kata tersebut diatas  jelas tidak satupun yang mendekati apa yang kita maksudkan dengan istilah “sejarah” dewasa ini.

Sejarah Sebagai Ilmu
Sejarah Sebagai Ilmu
Pengertian menarik tentang arti sejarah dirakum oleh Social Science Research Council dari New York pada tahun 1964. Menurut mereka paling tidak ada lima pengertian pokok sejarah, yaitu:
masa lampau umat manusia atau sebagian daripadanya.
benda-benda peninggalan masa lampau dan tulisan-tulisan baik yang primer maupun sekunder atau sebagian daripadanya.
penyelidikan yang sistematis tentang gejala alam.
penyelidikan, penyajian dan eksplanasi tentang masa lampau umat manusia atau sebagian daripadanya.
cabang pengetahuan yang mencatat, menyelidiki, menyajikan dan menjelaskan masa lampau umat manusia atau sebagian daripadanya.

Menurut Garraghan (1963: 64-65) pengertain sejarah sebagai ilmu paling tidak  mempunyai tiga konsep pengertian, yaitu:
sejarah sebagai kejadian atau peristiwa pada masa lampau itu sendiri, sebagai kejadian faktual (res gestae). Sejarah seperti ini bersifat unik (unique), apa adanya atau objektif (objective) non-refetitif occurance. Sejarah seperti ini sebagai sumber sejarah bila ia dicatat oleh aktor atau pelaku atau oleh saksi dari persitiwa itu sendiri (eije Writtness).
sejarah sebagai cerita (story) yang sifat dari kejadiannnya sudah sangat subjektif (subjective) karena akuransinya (occurance) sudah bersifat refetitif, sejarahnya sudah rerum gestarium, disini sudah masuk unsur-unsur dari penceritanya (writtness) atau naratornya.
sejarah sebagai sebuah disiplin atau ilmu, di mana sudah terdapat kritik studi sejarahnya. Sebagai sebuah disiplin sejarah disini mengandung metode dan metodologi serta objek dan teori untuk melihat dan mendeskripsikan sumber (sources) dan diceritakan secara objektif sehingga sejarah menjadi ilmu pengetahuan.

Selanjutnya Yamin mengemukakan bahwa sejarah sebagai ilmu memiliki syarat-syarat atau sembilan sendi yang merupakan kerangka dari isi pokok yang membentuk pengertian sejarah sebagai ilmu pengetahuan, yaitu :

Pertama, sejarah sebagai Ilmu pengetahuan. Sendi pertama menyatakan bahwa yang dimaksud dengan istilah sejarah ialah ilmu pengetahuan sebagai pertumbuhan  hikmah kebijaksanaan (rasionalisme) manusia. Dengan perkataan lain sejarah itu adalah suatu system ilmu pengetahuan, yakni sebagai daya cipta manusia untuk mencapai hasrat ingin tahu serta perumusan sejumlah pendapat yang tersesusun sekitar suatu keseluruhan masalah. Sehubungan dengan ini tidak dapat dilepaskan sifatnya sebagai ilmu mengenai berlakunya hukum sebab dan akibat atatu kausalitas.

Kedua, sejarah sebagai hasil penyelidikan. Sejarah sebagai cabang ilmu pengetahuan disusun menurut hasil-hasil penyelidikan (investigation  research) yang dilakukan dalam masyarakat manusia. Jadi penyelidikan adalah penyaluran hasrat ingin tahu oleh manusia dalam taraf keilmuan. Penyaluran sampai pada teraf setinggi itu disertai oleh keyakinan bahwa ada sebab bagi setiap akibat, bahwa setiap gejala yang tampak dapat dicari penjelansannya secara ilmiah.

Ketiga, sejarah sebagai bahan penyelidikan. Ilmu sejarah ialah hasil penelitian berdasarkan akal sehat (commonsense) yang kemudian bisa diungkapkan secara ilmiah dengan mempergunakan bahan-bahan penyelidikan sebagai benda kenyataan. Semuanya disebut sumber sejarah baik berupa benda, dokumen tertulis maupun tradisi  lisan.

Keempat, sejarah sebagai ceritera. Sendi cerita yang berisi pelaporan tentang kejadian dalam zaman yang lampau. Untuk membedakan ceritera biasa atau dogeng dengan sejarah dalam pengertian ilmiah harus menunjukan hubungan antara gejala dengan gejala yang lain secara kronologis. Ceritera adalah anasir subjektif, tetapi anasir ini menghubungkan dengan bahan sejarah yang objektif secara rapi. Kejadian yang diselidiki  atau diriwayatkan dalam pengertian sejarah ialah kejadian dalam masyarakat manusia di zaman yang lampau.

Kelima, Kejadian itu meliputi sekumpulan masyarakat dan keadaan-keadaan yang berpengaruh. Semuanya itu ialah objek sejarah yang harus diseleksi. Kejadian ialah hal yang terjadi. Muhammad Yamin menyatakan bahwa rangkaian kejadian itu adalah hubungan timbal balik satu sama lain,ada kausalitasnya.

Keenam,, sejarah memiliki objek penceritaan masyarakat manusia. Kejadian di zaman yang lampau itu berlaku dalam masyarakat manusia, yakni gejala, perbuatan dan keadaan masyarakt manusia dalam ruang dan waktu yang menjadi objek sejarah. Muhammad Yamin dalam hal ini lebih menegaskan pembatasannya dengan mengutip ucapan Ernest Bernheim (,  “Nur der mensch ist object der Geschiktswissenchaft “ (hanya manusialah yang menjadi objek sejarah).

Ketujuh, sejarah harus ada dalam skup waktu yang lampau. Sejarah menyelidiki kejadian-kejadian di zaman atau waktu yang telah lampau. Sedangkan gejala-gejala masyarakat pada waktu sekarang dan tinjauan kemungkinan pada waktu yang akan datangmenjadi objek ilmu politik. Jikalau batas-batas waktu dalam tiga babakan dahulu. Kini dan nanti kita hilangkan, maka sang waktu itu penting sekali sebagai batas tinjauan dan ruang gerak kita guna memudahkan pemahaman masalah bagaimana pancang-pancang dalam perjalanan sejarah.

Kedelapan, sejarah memiliki tanggal dan Tarikh. Waktu yang telah lampau adalah demikian jauh dan lamanya sehingga sukar memperkirakan, kapan sang waktu itu bermula atau berpangkal. Masa lampau itu tidak pernah putus dari rangkaian masa kini dan masa nanti, sehingga waktu dalam perjalanan sejarah adalah satu kontiniutas oleh karena itulah maka untuk memudahkan ingatan manusia dalam  mempelajari sejarah perlu ditentukan batas awal dan akhirnya setiap babakan dengan kesatuan waktu sebagai penunjuk kejadian yaitu tahun, bulan, tanggal atau hari, jam dan detik, windu, dasarwarsa atau dekade, milenium ataupun usia relatif.

Terakhir Kesembilan, sejarah harus memiliki penafsiran atau syarat khusus. Penyelidikan sejarah secara ilmiah dibatasi oleh cara meninjauyang dinamakan juga menfsiran keadaan-keadaan yang telah berlalu. Cara menafsiran itu dinamakan tafsiran atau interpretasi sejarah, yang menentukan warna atau corak sejarah manakah atau apakah yang terbentuk sebagai hasil penyelidikan yang telah dilakukan, misalnya Sejarah dunia, Sejarah nasional, Sejarah politik, Sejarah ekonomi, Sejarah kebudayaan, Sejarah kesenian, Sejarah pendidikan dan sebagainya. Selain itu ideology  atau paham tertentu dapat menentukan corak sejarah, misalnya penafsiran sejarah menurut faham liberalisme, faham marsisme dan  menurut faham  Pancasila. Cara penafsiran sejarah dari sudut pandangan ilmu tertentu  atau ideology tertentu itu merupakan syarat khusus dalam rangkaian sendi sejarah.



Sumber:
Alian dan Dedi Irwanto. 2014. Metodologi dan Historiografi Sejarah. Yogyakarta: _______Eja_Publisher
Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Recent Posts