Selamat Datang | Selamat datang "Mahasiswa Baru Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 2017" - Selamat Bergabung | Semoga artikel dan isi web HIMAPES Unsri ini dapat memberikan manfaat |17 AGUSTUS 1945-2016 "Perjuangan Bangsa Masih Berlanjut" MERDEKA!!! | Terima kasih sudah mengunjungi web kami | Viva Historia... #noHistory noFuture

Wednesday, 31 May 2017

Palembang Tempo Doeloe: Bukan Hanya Sebuah Bangunan

Alih Fungsi Bangunan Tempo Doeloe
"Bukan Hanya Sebuah Bangunan"
Sumber: Komuntas Heritage Walk Palembang
Editor: Kms. Gerby Novario

Palembang, yah sebuah kota yang sudah lumayan berumur dengan usia yang hampir menginjak 1334 Tahun (2017) bila didasarkan Prasasti Kedukan Bukit. Kota yang dialiri oleh sungai besar “Musi” namannya, dimana pada masa lampau memiliki banyak catatan sejarah. Kisah dan sejarah yang begitu banyak terlibat dengan kota ini, baca saja seperti Sriwijaya dengan kedatuan mahabesarnya menginjak di Bumi Palembang dengan ditandai Prasasti Kedukan Bukit, Cheng Ho dengan armada lautnya tercatat berulang datang sebanyak 4 kali, Majapahit dengan kekuatannya mengukirkan sejarah di Palembang, Ario Damar (Ario Dillah) beserta Raden Fatah yang dibesarkannya kemudian kelak menjadi cikal bakal Kerajaan Demak dan Islamisasi di kota ini, hingga kolonial eropa sebut saja Belanda dan Inggris yang bergitu tertarik dengan perdagangan dan komoditi kota Palembang turut serta meramaikan khasanah sejarah Kota Palembang.

Berbicara ketika memasuki Era Kesultanan Palembang, kita dapat menemukan beberapa tinggalan yang menarik dimana bangunan sudah mulai didirikan dengan kokoh berbahan bebatuan masih dapat kita lihat sampai sekarang seperti Masjid Agung Kota Palembang dan Benteng Kuto Besak. Kolonial Eropa tepatnya dimasa Belanda (Gameente) juga turut mengembangkan Kota Palembang dengan pembangunan betonnya. Adapun dari sisa – sisa bangunan tersebut masih dapat kita lihat di beberapa tempat di Kota Palembang yang dialih fungsikan. Berikut beberapa foto dan informasi sekilas catatan bangunan Palembang dalam perkembangan sejarahnya.

Sekilas tentang Kawasan Pusat Pemerintahan Kota Palembang
Selama berdirinya, Kota Palembang merupakan salah satu dari kota-kota di nusantara yang menjadi pelabuhan dagang yang cukup ramai. Sungai Musi yang membelah kota Palembang memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah perkembangan kota tersebut. Di sepanjang Sungai Musi bermuara anak-anak sungai dan merupakan media transportasi yang menghubungkan pusat pemerintahan dengan daerah-daerah pedalaman. Sungai Musi sendiri bermuara di Selat Bangka yang merupakan bagian dari jalur pelayaran yang cukup ramai pada masa itu. Berdasarkan keadaan geografis tersebut kota Palembang dapat dikatakan berada di lokasi yang sangat strategis dalam lalulintas perdagangan yang merupakan basis perekonomian kerajaan-kerajaan maritim pada masa itu.

Sebagai pusat pemerintahan, selain merupakan bandar dagang yang ramai, Palembang juga merupakan pusat syiar Agama Islam. Dalam hal ini kegiatan pengembangan sastra dan ilmu Agama Islam pada masa itu terpusat di keraton Kesultanan (Rahim 1998:92). Palembang menjadi pusat syiar Agama Islam berlangsung selama pertengahan abad ke-18 M hingga awal abad ke-19 M, tepatnya dimulai pada masa pemerintahan Sultan Badaruddin I hingga masuknya pengaruh kolonialisme Eropa.

Sebelum Kesultanan Palembang Darussalam berdiri, Palembang merupakan kerajaan fatsal dari Kerajaan Mataram Islam. Pada masa itu keraton sebagai pusat peme­rin­tahannya dibangun di daerah sekitar Kelurahan Sungaibuah dan  I Ilir di tempat yang sekarang merupakan kompleks PT. PUSRI. Pusat pemerintahan tersebut dikenal dengan nama Keraton Kuto Gawang. Berdasarkan hasil kegiatan di lapangan, berhasil diketahui batas-batas Kota Palembang masa Pra-Kesultanan yang berupa sungai-sungai yang melingkari wilayah tersebut. Batas utara adalah Sungai Musi, batas selatan adalah Sungai Lunjuk, batas timur adalah Sungai Buah dan batas barat adalah Sungai Taligawe. Selain itu di bagian tengah Kota Palembang pada masa awal Kesultanan mengalir Sungai Rengas.

Saat ini batas–batas kota tersebut, kecuali Sungai Musi, telah mengalami perubahan baik yang disebabkan oleh semakin padatnya hunian maupun sengaja dialihkan aliran sungainya. Sungai Taligawe dan Sungai Rengas telah mengalami pemendekan. Panjang kedua sungai tersebut dari muara, yang terletak di Sungai Musi, ± 400 m dan semakin ke arah hulu semakin kecil menjadi saluran air. Sungai Lunjuk saat ini telah banyak ditumbuhi tanaman rawa dan hanya berair pada saat hujan saja; sedangkan Sungai Buah sampai saat ini telah mengalami dua kali pemindahan aliran yang disebabkan oleh pembangunan pabrik pupuk PT PUSRI.

Selain dikelilingi oleh sungai, wilayah kota juga dilindungi pagar keliling. Meskipun sudah tidak in situ lagi berdasarkan informasi penduduk yang menggunakan kembali sisa pagar keliling diketahui batas pagar keliling sebelah utara adalah lokasi yang sekarang menjadi greenbarier PT PUSRI. Disamping itu sampai saat ini penduduk asli di wilayah tersebut masih disebut dengan istilah ‘wong jero pager’.  Kenyataan ini dapat digunakan sebagai data penunjang dalam mengasumsikan bahwa memang pada masa lalu wilayah ini dibatasi oleh pagar keliling.


Da­lam gambar ske­tsa tahun 1659 tampak Sungai Taligawe, Sungai Rengas, dan Sungai Buah tampak terus ke arah utara dan satu sama lain tidak bersambung. Sebagai batas kota sisi utara adalah pagar dari kayu besi dan kayu unglen. Di tengah benteng keraton tampak ber­diri megah bangunan keraton yang letaknya di sebe­lah barat Sungai Rengas. Benteng keraton mempunyai tiga buah baluarti (bastion) yang dibuat dari konstruksi batu. Orang-orang asing ditem­pat­kan/ber­mu­kim di sebe­rang sungai sisi selatan Musi, di sebelah barat muara sungai Komering. 


Tahun 1651, ketika Bangsa Belanda ingin memegang monopoli perdagangan di Palembang, keinginan ini ditentang oleh Sultan Palembang sehingga terjadi perselisihan yang puncaknya adalah penyerbuan terhadap keraton tersebut. Penyerbuan yang disertai pembumihangusan tersebut menyebabkan dipindahkannya pusat pemerintahan ke daerah Beringinjanggut di sisi timur Sungai Tengkuruk. Kemudian pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758) pusat pemerintahan tersebut dipindahkan lagi ke sisi barat Sungai Tengkuruk yaitu di lokasi yang sekarang menjadi lokasi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Selanjutnya pusat pemerintahan berpindah lagi ke lokasi yang baru yaitu yang sampai sekarang dikenal dengan nama Kuto Besak (Hanafiah 1989). Secara geografis Kuto Besak merupakan kawasan yang dikelilingi oleh Sungai Musi di bagian selatan, Sungai Sekanak di bagian barat, Sungai Tengkuruk di bagian timur dan Sungai Kapuran di bagian utara.

Setelah dihapuskannya Kesultanan Palembang Darussalam pada tahun 1825, wilayah ini dijadikan daerah administrasi Hindia-Belanda yang dipimpin oleh seorang residen. Pusat pemerintahan dilokasikan di sekitar Benteng Kuto Besak, yaitu bekas Keraton Kuto Lamo atau Kuto Tengkuruk yang terletak di sebelah timur Benteng Kuto Besak. Di lokasi ini didirikan sebuah bangunan baru yang diperuntukan sebagai kediaman residen. Pada masa ini Benteng Kuto Besak dialihfungsikan menjadi instalasi militer dan tempat tinggal komisaris Hindia-Belanda, pejabat pemerintahan dan perwira militer. Pemukiman di dekat keraton yang dulunya merupakan tempat tinggal bangsawan Kesultanan pada masa ini ditempati oleh perwira-perwira dan pegawai Hindia-Belanda (Sevenhoven 1971: 14).

Secara umum pembangunan fisik Kota Palembang yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia-Belanda dimulai pada awal abad XX M. Berdasarkan UU Desentralisasi yang dikeluarkan oleh Pemerintah Hindia-Belanda, Palembang ditetapkan menjadi Gemeente pada tanggal 1 April 1906 dengan Stbl no 126 dan dipimpin oleh seorang burgemeester, yang dalam struktur pemerintahan sekarang setara dengan walikota. Meskipun demikian burgemeester pertama Kota Palembang baru diangkat pada tahun 1919, yaitu L G Larive (Novita 2002: 2).

Sejak saat itu pusat pemerintahan dipindahkan ke lokasi baru, yaitu di sebelah barat Benteng Kuto Besak. Di kawasan ini juga didirikan bangunan-bangunan umum seperti penjara, kantor pos dan telepon, rumah gadai, dan hotel serta tempat-tempat hiburan seperti gedung pertemuan (Novita 2002: 2). Hingga saat ini pusat pemerintahan Kota Palembang masih berlokasi ditempat yang sama.


Saat ini di kawasan pusat pemerintahan Kota Palembang masih dapat ditemukan tinggalan arkeologi yang berasal dari masa Kesultanan Palembang hingga masa kolonial. Tinggalan-tinggalan tersebut adalah sebagai berikut:

Hotel Schwartz

Bangunan yang sampai saat ini masih berfungsi sebagai penginapan merupakan hotel yang terbaik di Palembang pada tahun 1930-an. Setelah masa kemerdekaan hotel ini berganti nama menjadi Hotel Musi dan dibangun pada tahun 1923 dengan gaya Indis. Secara keseluruhan bangunan terdiri dari dua, yaitu bangunan utama dan bangunan penunjang. Pada bangunan utama terdapat dua bagian, yaitu ruang aula dan kamar tamu yang terdiri dari 20 kamar. Pada bangunan penunjang terdapat beberapa ruangan yang difungsikan sebagai gudang, dapur dan kamar mandi untuk kamar-kamar kelas ekonomi. Saat ini bangunan Hotel Schwartz difungsikan menjadi kantor BKD Kota Palembang.

Penjara Peninggalan Kolonial

Seperti umumnya pusat pemerintahan masa kolonial, penjara merupakan salah satu komponen yang selalu ada pada sebuah kota. Terletak di Jl Merdeka dan berada sejajar dengan Hotel Schwartz. Bangunan ini yang sampai sekarang masih berfungsi sama seperti waktu awalnya dibangun, namun sudah mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan pada zamannya.

Kantor Pos

Seperti halnya penjara, di pusat pemerintahan masa kolonial, bangunan umum merupakan salah satu komponen yang selalu ada pada sebuah kota. Salah satu bangunan umum yang dibangun pada masa itu adalah kantor pos. Terletak di Jl Merdeka dan berada berseberangan  dengan penjara. Sampai sekarang bangunan ini masih berfungsi sama seperti waktu awalnya dibangun, namun sudah mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan pada zamannya.

Kantor Walikota/Kantor Ledeng
Bangunan Kantor Walikota Palembang sejak awal telah digunakan sebagai pusat pemerintahan Gemeente Palembang. Bangunan yang dibangun pada tahun 1929 ini didirikan dengan gaya art deco. Selain sebagai kantor pemerintahan, di bagian atas bangunan didirikan menara setinggi 35 m yang difungsikan sebagai penampungan air bersih dengan kapasitas 1200 m3.

Societeit/Balai Prajurit

Penduduk Kota Palembang pada masa kolonial Hindia Belanda menyebut bangunan ini sebagai ‘Rumah Bola’. Bangunan ini didirikan pada tahun 1928 dan merupakan gedung pertemuan warga Kota Palembang keturunan Eropa. Di bagian belakang bangunan terdapat bangunan tambahan yang berfungsi sebagai bangunan pertunjukan. Balai Prajurit ini dibangun denga gaya arsitektur Art Deco dengan ciri khasnya yaitu elemen dekoratif geometris pada dinding eksteriornya. Saat ini bangunan tersebut dikelola oleh KODAM II Sriwijaya dan menjadi ‘Balai Prajurit’.

Benteng Kuto Besak

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya Benteng Kuto Besak ini sebenarnya adalah keraton keempat dari Kesultanan Palembang. Secara spesifik sistem pertahanan di Benteng Kuto Besak menunjukan bahwa pada saat itu Sultan Mahmud Baharuddin I telah memperhitungkan dengan cermat tentang bagaimana cara melindungi pusat pemerintahannya. Pendirian benteng yang berada di lahan yang dikelilingi oleh sungai-sungai jelas menunjukkan bahwa siapapun yang ingin masuk ke keraton sultan tidak dapat secara langsung mendekati bangunan tersebut tetapi harus melalui titik-titik tertentu sehingga mudah dipantau dan cepat diantisipasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan antara lain seperti penyerangan mendadak.

Secara keseluruhan Benteng Kuto Besak berdenah persegipanjang dan berukuran 288,75 m x 183,75 m, serta menghadap ke arah tenggara tepat di tepi Sungai Musi. Di tiap-tiap sudut benteng terdapat bastion, tiga bastion di sudut utara, timur dan selatan berbentuk trapesium sedangkan bastion sudut barat berbentuk segilima. Benteng Kuto Besak memiliki tiga pintu gerbang, yaitu di sisi timur laut dan barat laut serta gerbang utama di sisi tenggara.

Tembok keliling Benteng Kuto Besak sendiri juga mempunyai keunikan, yaitu bentuk dinding yang berbeda-beda di masing-masing sisi benteng, begitu juga  dengan tingginya. Dinding tembok sisi timur laut mempunyai ketebalan yang sama, ketinggian dinding tembok bagian depan adalah 12,39 m sedangkan bagian dalam 13,04 m, sehingga  bagian atasnya membentuk bidang miring yang landai. Tampak muka dinding sisi timur laut ini juga dihiasai oleh profil. Sama dengan dinding sisi tenggara, dinding sisi timur laut juga dilengkapi oleh celah intai yang berbentuk persegi dengan bagian atas berbentuk melengkung. Lubang celah intai tersebut juga berbentuk mengecil di bagian tengahnya.

Dinding tembok sisi barat daya mempunyai dua bentuk yang berbeda. Secara umum tembok sisi barat daya ini dibagi dua karena di bagian tengahnya terdapat pintu gerbang. Dinding tembok sisi barat daya bagian selatan mempunyai bentuk dimana bagian bawahnya lebih tebal dari pada bagian atas, yaitu 1,95 m dan 1,25 m tetapi bagian dalam dan luar dinding mempunyai ketinggian yang sama yaitu  2,5 m. Dinding tembok sisi barat daya bagian utara mempunyai bentuk dimana bagian bawah lebih tebal daripada bagian atas yaitu 2,35 m dan 1,95 m. Ketinggian dinding bagian dalam dan luar adalah 2,5 m.

Dinding tembok sisi barat laut memiliki bentuk yang hampir serupa dengan dinding tembok barat daya bagain selatan. Tebal dinding bagian bawah adalah 1,6 m sedangkan bagian atas 1,15 m. Ketinggian dinding adalah 2,25 m.

Saat ini Keadaan Benteng Kuto Besak telah mengalami beberapa perubahan. Secara kronologi tinggalan-tinggalan arkeologi yang berada di Benteng Kuto Besak berasal dari masa Kesultanan Palembang Darussalam dan Kolonial Belanda. Secara khusus tinggalan arkeologi yang berasal dari masa Kesultanan Palembang Darussalam adalah tembok keliling dan pintu gerbang bagian barat daya; sedangkan tinggalan arkeologi yang berasal dari masa Kolonial Belanda adalah  gerbang utama Benteng Kuto Besak dan beberapa bangunan yang terdapat di dalam benteng. Berdasarkan gaya arsitekturnya, bangunan-bangunan di dalam Benteng Kuto Besak diidentifikasikan bergaya Indis yang berkembang di Indonesia pada awal abad ke XX.

Rumah Residen/Museum SMB II

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II pada awalnya merupakan rumah tinggal komisaris Hindia Belanda. Bangunan ini didirikan diatas reruntuhan Keraton Kuto Lamo, dibangun pada tahun 1823. Berbeda dengan bangunan yang didirikan pada masa Kesultanan Palembang Darussalam yang umumnya memakai bahan kayu, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II memakai bahan bata dan memiliki gaya Indis. 

Silahkan Anda Telusuri Bangunan Sepanjang Jl. Merdeka Melalui Google Street View




Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Recent Posts