Selamat Datang | Selamat datang "Mahasiswa Baru Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 2017" - Selamat Bergabung | Semoga artikel dan isi web HIMAPES Unsri ini dapat memberikan manfaat |17 AGUSTUS 1945-2016 "Perjuangan Bangsa Masih Berlanjut" MERDEKA!!! | Terima kasih sudah mengunjungi web kami | Viva Historia... #noHistory noFuture

Wednesday, 31 May 2017

Goa Harimau: Eksistensi Masa Lampau Manusia Prasejarah OKU

Jejak Peradaban Masa Lalu di Goa Harimau OKU
“Memahami Pola Kehidupan Manusia Dari Sisa Tinggalannya”
Oleh: Kms. Gerby Novario



Pendahuluan
Peradaban, satu kata yang menggambarkan sebuah kemajuan budaya pada kehidupan manusia. Hasil sebuah peradaban juga menjadi tolak ukur dari sebuah kemajuan bangsa. Betapa tidak? nilai – nilai peradaban merupakan hasil cipta, karya, karsa manusia sebagai makhluk dengan akal pikiran yang diciptakan oleh Tuhan. Bila kita berkaca pada sejarah, peradaban sebuah bangsa sekarang merupakan hasil perkembangan dari peradaban yang muncul sebelumnya pada suatu bangsa dengan kata lain nenek moyang kita menurunkannya secara hierarki kepada generasi selanjutnya secara terus menerus.

Peradaban, selain menghasilkan suatu kebudayaan yang bersifat tak benda juga menyisakan fragmen kebendaan yang terkubur dalam lapisan tanah. Oleh karena itu, manusia dengan ilmu pengetahuannya harus dapat menggali, mendapatkan, dan memahami sisa – sisa peradaban tersebut dengan tujuan untuk menginformasi dan mengedukasi masyarakat akan khasanah budaya bangsa sebagai hasil peradaban masa lampau.

Indonesia dengan bentang kepulauannya merupakan salah satu negara yang memiliki peradaban besar pada masa lampau, tidak hanya yang berbau pengaruh Hindu-Budha dan Islam, Kerajaan - kerajaan, dan Kolonial Eropa. Bangsa Indonesia juga memiliki nilai “pure” budaya nenek moyang yang berkembang pada kehidupan masa prasejarah. Lihat saja daftar kebudayaan masa prasejarah di Indonesia dari ujung Sabang sampai Merauke banyak tersebar sisa – sisa peradaban masa prasejarah, kita sebut saja kebudayaan megalith Pasemah di Sumatera Selatan, kebudayaan purba di aliran sungai Bengawan Solo hingga Sangiran, dan kehidupan purba di goa – goa di Sulawesi Selatan.

Berbicara mengenai peradaban dan kebudayaan masa prasejarah di Indonesia kebanyakan ditemukan di tepi aliran sungai dan goa – goa atau yang dikenal dengan istilah abris souce rouch. Hal demikian tak lepas dari kebutuhan manusia akan sumber makanan dan tempat perlindungan hal ini terbukti banyaknya temuan kjokken modinger atau sampah dapur yang berupa sisa – sisa kerang dan tulang ikan di sekitaran goa. Manusia masa prasejarah dituntut untuk dapat memanfaatkan alam sebagai media “penyambung hidup” yang efekif dan efisien.

Gua atau ceruk yang memiliki nilai sejarah dalam kehidupan masa prasejarah dikarenakan merupakan salah satu fitur alam yang memegang peran penting dalam kehidupan manusia prasejarah Indonesia, khusunya semenjak kemunculan manusia anatomi modern atau Homo Sapiens tertua. Keberadaan ruangan yang dibatasi oleh dinding dan langit-langit bebatuan dengan pintu masuk yang menghubungkan dengan alam terbuka, menjadikannya sebagai tempat yang cocok untuk hunian manusia, karena terlindung dari keganasan iklim dan berbagai ancaman lainnya. Bukti – bukti di Indonesia memperlihatkan bahwa gua atau ceruk yang banyak terdapat di wilayah perbukitan – perbukita karst telah dimanfaatkan manusia untuk hunian dan berbagai kegiatan lainnya.

Sumatera Selatan sebagai salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki beragam kebudayaan, terbukti dengan banyaknya suku (16 suku) dan beragam bahasa dan dialeknya tak lepas dari hasil peradaban masa lampau. Jika kita telusuri peradaban masa prasejarah di Indonesia tidak hanya terdapat di Kota Pagaralam dengan kebudayaan megalithnya. Jauh sebelum itu juga ada peradaban manusia prasejarah di daerah Ogan Komering Ulu tepatnya di Kota Baturaja. Sejumlah besar artefak batu Paleolitik banyak ditemukan di aliran Sungai Ogan, tepatnya di Kecamatan Semidang Aji.

Pada tahun 2001 dilakukan ekskavasi di sejumlah situs gua di daerah Baturaja yang menghasilkan temuan berupa sisa fauna, alat batu, pecahan tembikar serta kuburan manusia prasejarah. Adapun situs – situs gua prasejarah yang telah digali hingga saat ini yaitu Gua Silabe, Gua Putri (cek link), Gua Karang Pelaluan, Gua Karang Bringin dan Gua Harimau.

Salah satu gua yang menjadi sangat penting dalam penelitian arkeologi Sumatera Selatan yaitu Goa Harimau. Salah satu kelebihan dari riset di Gua Harimau adalah banyaknya sampel pertanggalan yang telah dihasilkan, atau dengan kata lain bukti kuat umur benda peninggalan di Gua Harimau telah tersedia.

Gua Harimau
Gua Harimau merupakan gua tebing yang terletak di wilayah administratif Desa Padang Bindu, Kecamatan Semidang Aji, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, berjarak sekitar 35 Km dari kota Baturaja (ibukota kabupaten) ke arah barat daya. Secara geografis, situs ini terletak pada koordinat 4° 4’ 26,5” Lintang Selatan dan 103° 55’ 52,0” Bujur Timur, dengan ketinggian ±164 meter di atas permukaan laut dan ketinggian dari dataran 20 meter.

Gua Harimau berarah hadap N133°E (arah Tenggara) dan termasuk pada kategori gua yang disinari matahari terbit dengan kemiringan lereng 40° dengan luas 1376 meter2 (43 m x 32 m). Tipe gua melebar kesamping dengan sirkulasi udara yang sedang serta intensitas cahaya bagus-sedang ideal untuk menjadi tempat hunian. Adapun ornamen yang terdapat di gua ini adalah flow stone, pilar, stalagtit, dan stalagmit. Di bagian kaki bukit tempat Gua Harimau mengalir Kali Aman.

Secara kasat mata, Gua Harimau terletak di sebuah bukit gamping dalam bagian formasi batuan karst yang dahulu kala merupakan dasar laut dangkal. Peristiwa tektonik kemudian memunculkan dasar laut tersebut ke permukaan. Konon nama gua ini berasal dari suara auman harimau yang seringkali keluar dari dalam gua. Versi lainnya yaitu bentuk mulut gua ini dari kejauhan terlihat seperti mulut Harimau sedangkan stalaktit yang menjulur dari atap gua diibaratkan sebagai taring-taringnya.

Gua Harimau Sebagi Area Penguburan
Gua Harimau merupakan situs prasejarah dari periode Neolitik hingga Paleometalik. Hal tersebut dibuktikan dengan temuan arkeologis yang terkandung di dalam sedimen tanah gua. Gua Harimau termasuk gua besar dengan setidaknya tiga tingkat. Pada tingkat paling bawah banyak sekali temuan arkeologis yang menunjukan bahwa dahulu gua ini dijadikan lokasi penguburan oleh nenek moyang kita di daerah Baturaja.

Selama penelitian yang dilakukan oleh pusat Arkeologi Nasional pada tahun 2009 – 2015 berhasil menemukan 78 individu yang berada dalam area kubur di Gua Harimau. Melalui temuan ini, dapat diketahui jenis kelamin, usia mati, pola hidup, serta patologis manusia – manusia di Gua Harimau. Adapun temuan yang ada di Gua Harimau mengindikasikan situs gua ini merupakan area penguburan.

Kubur – kubur yang ditemukan di Gua Harimau berupa kubur primer dan kubur sekunder, dengan orientasi barat – timur, serta ada pula yang ke arah barat – timur. Jenis perkuburan yang terdapat di Gua Puteri berupa kubur tunggal dan kubur ganda (terdiri dari dua atau lebih individu di dalam satu lubang perkuburan). Kuburan ini juga disertai dengan bekal kubur yang berupa tembikar, moluska, dan/atau artefak logam.

Sisa kerangka manusia di Gua Harimau terdiri dari berbagai rentang usia dan pula bervariasi jenis kelaminnya. Beberapa individu tercatat sebagai anak kecil yang berusia sekitar 6 bulan – 2 tahun, serta salah satu individu yang berusia sangat renta. Dalam rangka tulang manusia yang ditemukan di Gua Harimau ini juga telah ditelusuri jejak patologis (penyakit yang diderita selama hidup) antara lain jejak patah tulang – sembuh, serta salah satu kerangka terdapat penyakit gigi seperti karies, kalkulus, dan sulkus.

Pola Hidup Manusia Di Sekitaran Situs Gua Harimau
Berdasarkan hasil yang didapat dari serangkaian penelitian di Gua Harimau, dapat disimpulkan pola hidup yang ada dalam kehidupan manusia sekitaran Gua Harimau. Sejumlah bukti diperoleh dan mengindikasikan adanya aktivitas berburu dan meramu (food gathering) oleh masyarakat prasejarah di daerah Padang Bindu, OKU. Sumber nutrisi mereka sangat bervariasi, seperti buah – buahan, dedaunan, biji – bijian, dan yang paling utama adalah daging binatang yang kaya akan sumber protein dan lemak.

Bentang alam OKU pada masa lampau yang kaya akan nutrisi tentunya tidak menyulitkan masyarakat prasejarah pada waktu itu untuk mencari makanan. Umumnya mereka memasuki hutan untuk berburu dan memasang perangkap binatang, dan mereka juga pergi ke rawa dan sungai untuk mencari ikan dan kerang.

Rangka manusia di Gua Harimau menunjukan sejumlah hal luar biasa, antara lain adanya penguburan kolektif yang cukup dominan (penguburan dalam satu area). Dalam sisi kesehatan, manusia prasejarah Gua Harimau hampir keseluruhan bebas dari penyakit gigi berlubang, yang mengindikasikan kehidupan mereka diet rendah gula dan kebiasaan mengunyah sirih. Adanya sisa renik tumbuhan berupa phytolith dan pollen juga menunjukan adanya praktik penguburan yang kemungkinan disertai dengan penaburan bunga.

Manusia prasejarah di area sekitaran Gua harimau juga telah menggunakan sisa – sisa tulang binatang untuk dijadikan alat bantu keseharian dan perhiasan. Manusia prasejarah ini juga kemungkinan besar telah menempuh jarak yang lumayan jauh untuk mendapatkan beberapa jenis kerang laut untuk digunakan sebagai perhiasan dan bekal kubur. Hal demikian dibuktikan dengan temuan perhiasan manik-manik kerang, alat batu, serta gerabah sering kali ditemukan di dalam lubang penguburan manusia prasejarah Gua Harimau. Suatu pola yang masih banyak kita temukan di masyarakat masa sekarang.

Seni Cadas Sebuah Pola Estetika Manusia Prasejarah Gua Harimau
Seni cadas merupakan sebuah pola gambar dengan menggoreskan pigmen warna alami baik berasal dari tumbuh – tumbuhan maupun jenis mineral batuan yang biasa digunakan seperti dari oksida besi bewarna merah yang dikenal dengan nama hematit. Lukisan prasejarah tersebut sering ditemukan di area gua prasejarah dan merupakan bukti apresiasi seni dan estetika di kalangan penghuni gua prasejarah.

Gua Harimau merupakan tempat pertama kali ditemukannya lukisan prasejarah di Sumatera. Penemuan lukisan prasejarah di dinding Gua Harimau mengubah anggapan bahwa persebaran seni cadas tidak pernah mencapai pulau Sumatera. Temuan ini memberikan sumbangsih besar pada dunia ilmu pengetahuan dan membuka cakrawala baru bagi penelitian arkeologi lebih lanjut dalam seni cadas di Pulau Sumatera, khususnya wilayah OKU.

Penemuan lukisan prasejarah/ cadas di Gua Harimau menunjukan bahwa perkembangan manusia prasejarah yang tidak hanya terfokus pada pemenuhan kebutuhan hidup sehari – hari, melainkan juga telah memperhatikan aspek estetis pada kehidupan kesehariannya. Adapun motif lukisan cadas yang ditemukan di dinding Gua Harimau juga ditemukan pula pada pola motif tembikar. Kesamaan ini menunjukan adanya hubungan erat antara kedua jenis temuan tersebut dan diduga dibuat oleh dua masyarakat yang sama.

Penutup
Beberapa temuan di Gua Harimau menunjukan bahwa area di sekitar gua ini dahulu menjadi salah satu tempat hunian masyarakat prasejarah pada masa Neolitik hingga Paleometalik. Adapun indikasi bahwa Gua Harimau juga menjadi lokasi penguburan kolektif juga didukung oleh bukti – bukti yang ada. Melalui temuan arkeologis juga kita dapat mengetahui pola hidup manusia prasejarah yang ada di wilayah Ogan Komering Ulu tepatnya di area Padang Bindu. Sebagai gua yang berdekatan dengan “pendukung kehidupan” manusia prasejarah menjadikan Gua Harima dan gua-gua disekitarnya cocok untuk menjadi daerah hunian dan berkembangnya peradaban manusia prasejarah di Sumatera Selatan, tepatnya daerah OKU.

Lingkungan pada masa prasejarah juga dominan berpengaruh terhadap segi-segi kehidupan manusia sekarang. Seiring perkembangan kemampuan berpikir serta pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman serta komunikasi dalam komunitasnya, manusia pun berhasil menjawab tantangan alam. Interaksi yang terjadi antara manusia dan alam sekitarnya diwujudkan dalam bentuk budaya, baik bendawi maupun tidak. Terkadang, suatu tradisi yang berlaku pada masa prasejarah terus berlangsung hingga masyarakat modern. Tradisi tersebut menjadi identitas budaya suatu masyarakat dan terus lestari berkat keluhuran budaya nenek moyang. Melalui riset arkeologi dan penulisan sejarah, diharapkan kita dapat memahami pola hidup manusia pada masa lampau sebagai sebuah pengetahuan dan pemahaman manusia masa kini.

Daftar Pustaka
Dokumentasi Tim Penelitian Gua Harimau dan Perjalanan Panjang Peradaban OKU 2012 - 2015
Simanjuntak, Truman, dkk. 2017. Gua Harimau: Gerbang Menuju Peradaban Masa Lalu OKU. Depok: Komunitas Bambu
Tim Penelitian Gua Harimau. 2009 – 2015. Laporan Penelitian Arkeologi (LPA) Gua Harimau dan Perjalanan Panjang Peradaban OKU. Jakarta: Puslit Arkenas

Online:
National Geographic Indonesia. http://nationalgeographic.co.id/

Silahkan lihat gambar berikut:











Maps Padang Bindu




Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Recent Posts