Selamat Datang | Selamat datang "Mahasiswa Baru Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 2017" - Selamat Bergabung | Semoga artikel dan isi web HIMAPES Unsri ini dapat memberikan manfaat |17 AGUSTUS 1945-2016 "Perjuangan Bangsa Masih Berlanjut" MERDEKA!!! | Terima kasih sudah mengunjungi web kami | Viva Historia... #noHistory noFuture

Wednesday, 31 May 2017

Bangka dan Penambangan Timah Abad 19

Bangka dan Perekonomian Nusantara Abad 19
"Pahit Manis Sejarah Penambangan Timah Bangka"
Oleh: Kms. Gerby Novario


Pendahuluan
Sejak ditandatangani Kapitulasi Tuntang di Desa Tuntang, Semarang, Jawa Tengah tanggal 18 September 1811 sampai dengan Traktat London tanggal 13 Agustus 1814, pulau Bangka dan pulau Belitung berada di bawah pengaruh dan kekuasaan pemerintah kerajaan Inggris. Pada tanggal 26 April 1812, Jenderal Inggris Robert Rollo Gillespie berhasil menguasai Palembang dan Sultan Palembang Mahmud Badaruddin II terdesak lari ke Musi Rawas untuk menyusun kekuatan. Sehari kemudian tanggal 27 April 1812 ditandatangani perjanjian antara Jenderal Robert Rollo Gillespie dengan Ahmad Najamuddin (Pangeran Dipati) saudara Sultan Mahmud Badaruddin II yang berambisi menjadi sultan, yang isinya antara lain, bahwa pulau Bangka dan pulau Belitung menjadi milik kerajaan Inggris, serta eksploitasi terhadap timah di pulau Bangka dan pulau Belitung dilakukan oleh wakil dari Inggris yang berkedudukan di Palembang. Pada tanggal  20 Mei 1812 Jenderal Robert Rollo Gillespie menguasai Kota Muntok dan memproklamirkan, bahwa Inggris berkuasa atas pulau Bangka dan mengubah nama pulau Bangka menjadi Duke of Yorks Island, serta nama Muntok diubah menjadi Minto untuk kehormatan bagi Sir G. Elliot Earl of Minto, seorang gubernur jenderal Inggris di India. (Dinas Pendidikan kota Pangkalpinang, 2013).

Eksplorasi Timah Bangka Masa Kolonial Inggris
Untuk selanjutnya Inggris kemudian membagi Bangka menjadi 3 divisi, Pembagian divisi ini lebih cenderung didasarkan pada pembagian wilayah eksplorasi atau penambangan timah, dibandingkan pada pembagian wilayah berdasarkan kepentingan pemerintahan. Pembagian divisi di pulau Bangka meliputi wilayah bagian utara (northern division) yaitu wilayah Jebus (stocade of Teboos), Belinyu (stocade of Belinyoo), Sungailiat (stocade of Soongie-liat), serta Merawang (stocade of Marawang), kemudian wilayah  bagian  barat  (western division)  pulau  Bangka  meliputi wilayah Muntok (town of minto), Belo (village of Belo), Kotawaringin (stocade of Kooto Waringin, Distric Jeruk, Distric Peesang, dan terakhir wilayah bagian selatan timur pulau Bangka (south east division) yang meliputi hampir separuh pulau Bangka yaitu Pangkalpinang (stocade of Pangkal Penang), Sungaiselan (Godong Selan), Bangkakota (Old Settlement of Banko Kotlo), Koba (Koba), Paku (Pakoo), Permis (Permissang), Olim (Oolim), dan Toboali (stocade of Tooboo-alie).(Kompassiana, 2011)

Untuk meningkatkan produksi dan memperkenalkan cara baru penambangan dan pengelolaan pertambangan timah di pulau Bangka, Gubernur Jenderal Inggris di Batavia, Thomas Stamford Bingley Raffles mengutus Dr. Horsfield untuk mengadakan penelitian. Langkah pertama yang dilakukan Inggris di pulau Bangka adalah menarik hati rakyat Bangka dengan menghapus sistem pajak Timah Tiban dan Tukon yang dianggap tidak adil oleh Inggris karena hanya dibebankan kepada orang pribumi Bangka. Pemerintah Inggris kemudian mengadakan perundingan dengan kepala-kepala parit dan kongsi-kongsi penambangan untuk meningkatkan produksi timah di pulau Bangka dan kemudian disepakati tentang harga timah yang dijual ke Inggris sebesar 6 ringgit sepikul (satu pikul setara dengan 60 kg), bebas dari ongkos melebur dan mengangkut serta pelunasan hutang oleh kepala-kepala parit dan kongsi-kongsi penambangan kepada pemerintah. Pemerintah juga memberikan bantuan biaya bagi pembukaan tambang-tambang baru, sementara ongkos penyelenggaraan parit-parit penambangan timah ditanggung oleh kepala parit, membayar pekerja tambang dengan upah yang lebih tinggi dalam mata uang yang dapat dipertukarkan, membentuk opsir dari orang Cina. Pemerintah Inggris juga mendatangkan pekerja-pekerja tambang dari Kanton Cina untuk meningkatkan produksi timah di pulau Bangka.  (Dinas Pendidikan kota Pangkalpinang, 2013).

Selanjutnya pemerintah Inggris akan membangun gedung-gedung baru dan tanur-tanur  untuk peleburan timah (salah satu gedung yang dibangun Pemerintah Inggris di dekat pelabuhan Muntok disebut masyarakat dengan sebutan Gedung Kuning karena di cat berwarna kuning, gedung ini berfungsi untuk menampung pekerja tambang dari Kanton Cina yang baru datang di Kota Muntok). Kebijakan lain dari pemerintah Inggris selanjutnya adalah menentukan harga padi sebesar 3 ringgit sepikul dan penentuan harga-harga barang kebutuhan lainnya dengan harga yang layak. (Dinas Pendidikan kota Pangkalpinang, 2013).

Produksi Timah Bangka Abad 19
Produksi timah pada masa kekuasaan Inggris di pulau Bangka walaupun berlangsung singkat dengan penerapan kebijakan baru di atas relatif cukup besar dengan produksi timah sekitar 78.325 pikul. Meskipun masa kekuasan Inggris di pulau Bangka berlangsung singkat, namun kebijakan yang dibuat Inggris dalam masa yang singkat berakibat luas bagi pola penambangan dan pengelolaan timah di pulau Bangka masa-masa selanjutnya. Dr. Horsfield di samping mempelajari masalah tentang pertimahan juga mempelajari tentang masyarakat pulau Bangka. Dr. Horsfield pada tahun 1813 mencatat, bahwa dimasa itu orang pribumi Bangka yaitu Orang Darat atau Orang Gunung dan Orang Laut masih sedikit dipengaruhi oleh agama Islam. (Dinas Pendidikan kota Pangkalpinang, 2013).

Ekonomi Bangka Kembali ke Kolonial Belanda
Runtuhnya kekuasaan Napoleon Bonaparte di Eropa,  menyebabkan negara-negara Eropa harus menata kembali wilayah yang menjadi koloninya di berbagai belahan dunia. Dalam menata kembali daerah jajahannya, kerajaan Belanda dan kerajaan Inggris pada tanggal 13 Agustus 1814 merumuskan suatu persetujuan yang kemudian dituangkan dalam Traktat London atau konvensi London. 

Traktat London ditandatangani oleh wakil dari kerajaan Belanda, Mr. Hendrik Fagal, dan wakil dari kerajaan Inggris, Lord Caster Ragh. Pemerintah kerajaan Belanda berdasarkan Traktat (konvensi) London kembali berkuasa atas wilayah Hindia Belanda. Seluruh proses serah terima daerah kekuasaan antara kerajaan Inggris dan kerajaan Belanda berdasarkan perjanjian atau Traktat London dilakukan antara M.H. Court sebagai perwakilan kerajaan Inggris dengan K. Heynes yang mewakili kerajaan Belanda. Serah terima dilaksanakan pada tanggal 10 Desember 1816 di Kota Muntok pulau Bangka. (Dinas Pendidikan kota Pangkalpinang, 2013).

Pulau Bangka diserahkan Pemerintah kerajaan Inggris kepada kerajaan Belanda sebagai ganti Cochin yang terletak di Kerala India. Serah terima ini jelas sekali menunjukkan, bahwa pulau Bangka pada waktu itu merupakan bandar dan tempat yang strategis bagi kerajaan Inggris dan kerajaan Belanda di kawasan pulau Sumatera dan di wilayah Indonesia Bagian Barat. Penyerahan pulau Bangka kepada kerajaan Belanda mendapat protes dari Thomas Stamford Bingley Raffles kepada Dewan Rahasia East India Company karena Thomas Stamford Bingley Raffles sangat mengerti akan pentingnya posisi strategis pulau Bangka pada masa itu. Sepucuk surat Raffles tertanggal 3 Juli 1818 kepada Dewan Rahasia East India Company antara lain berbunyi:
it is much to be regretted that the island of Banca was ever ceded to the Dutch. Could this important station be regained, in payment for the heavy sums due by the Dutch Government on the close of the Java accounts, its advantages to the British Government would abundantly repay the amount foregone. Possessing  Banca in indisputed sovereigny, it would be the seat of our eastern Government.....

Pemerintah Hindia Belanda setelah kembali berkuasa di pulau Bangka kemudian mengangkat K. Heymis sebagai  Residen. (Dinas Pendidikan kota Pangkalpinang, 2013). Setelah dikuasai lagi oleh Belanda, produksi timah terus dilakukan, bahkan dikutip dari tulisan Tijdschrift voor Ned, kapal Indie VIII yang akan pulang kenegeri Belanda pada tahun 1846 membawa lebih dari 100.00 pon timah yang diduga berasal dari Bangka, timah sebanyak itu kemudian memasuki pasar Amsterdam. Pada masa inilah terjadi perlawanan yang sangat keras dari beberapa pejuang lokal Bangka, diantaranya pemberontakan dari Depati Amir, Depati Bahrin, dan Batin Tikal.

Fakta yang terjadi dalam penambangan timah pada abad ke 19
Karena timah yang dimonopoli oleh Belanda dengan harga yang telah mereka tentukan, membuat rakyat menderita, kemudian penyeludupan timah yang sebelumnya ramai dilakukan pada abad ke 18, kembali marak dilakukan, penyeludupan dapat dengan mudah dilakukan mengingat letak gerografis perairan Bangka bagian utara yang langsung menghadap ke Singapura dan Malaysia yang merupakan Bandar yang ramai. Wilayah yang biasa digunakan untuk menyeludupkan timah adalah pelabuhan diwilayah Bubus, Belinyu, dan pantai utara Jebus, karena letak geografisnya yang paling dekat dengan selat Malaka dan keadaan gerografisnya yang berbukit dan pantai yang berkelok. Rute penyeludupan yakini dari Bangka utara,  menuju Lingga, kemudian langsung menuju Singapura yang saat itu telah ramai menjadi Bandar baru di selat Malaka.

Bangka pada saat itu merupakan surga bagi elit politik Belanda, mereka akan sangat senang apabila ditempatkan disalah satu pulau baik itu Bangka ataupun Belitung, karena royalty yang sangat  besar akan diterima, hal ini karena saat itu timah merupakan komoditi paling diandalkan dipasar dunia.

Erman: 2009 mengungkapkan pada masa itu di kota Pangkal pinang ada sebanyak 283 orang Eropa, di kota Sungailiat sebanyak 111 orang eropa, dikota Muntok ada sebanyak 312 orang Eropa, di Bangka selatan ada sebanyak 217 orang Eropa dan Bangka utara yang rawan penyeludupan timah ada sekitar 77 orang Eropa, data ini menujukan bahwa populasi orang-orang Eropa ini cukup padat bagi Bangka yang luasnya tak seberapa.

Orang-orang Eropa tadi bekerja di perusahan timah milik Belanda yang bernama Banka Tin Winning (BTW), perusahaan ini terus mengeruk timah tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyat di Bangka, Belitung, dan Kepulauan Riau yang saat itu menjadi sebuah keresidenan yang berpusat dikota Pangkalpinang, Bangka.


Daftar Pustaka
Abdullah, Taufik, dkk. 2002. Sejarah Modern Awal. Jakarta: Grolier Internasional.
Arismunandar, Agoes, dkk. 2002. Arsitektur. Jakarta: Grolier Internasional.
Burger,D.H. (1962). Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia. Jakarta: Negara _____Pradnjaparamita.
Erman. Erwiza. 2009. Dari Pembentukan Kampung ke Perkara Gelap: Menguak Sejarah _____Timah Bangka Belitung. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Gde Agung, Ide Anak Agung, 1989. Bali pada Abad XIX: Perjuangan Rakyat dan Raja-raja _____Menentang Kolonialisme Belanda 1808-1908. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Poesponegoro, Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia III & IV. Jakarta: Balai _____Pustaka.
Tagel Eddy, I Wayan, 1992. “Bara Lombok di Seberang Bali (Sebuah Studi Pemberontakan _____Praya) 1891-1894,” Tesis S-2. Sekolah Pasca Sarjana UGM.
Internet:
http://nasional.kompas.com/read/2008/11/21/01505328/sitemap.html
http://sejarah.kompasiana.com/2010/05/28/l%E2%80%99histoire-se-repete-11-palembang-sisi-gelap-raffles-151961.html
http://akhmadelvian.dinpendikpkp.go.id/?com=post&view=item&id=24

http://melayuonline.com/ind/history/dig/287/negeri-bangka-belitung
Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Recent Posts