Selamat Datang | Selamat datang "Mahasiswa Baru Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 2017" - Selamat Bergabung | Semoga artikel dan isi web HIMAPES Unsri ini dapat memberikan manfaat |17 AGUSTUS 1945-2016 "Perjuangan Bangsa Masih Berlanjut" MERDEKA!!! | Terima kasih sudah mengunjungi web kami | Viva Historia... #noHistory noFuture

Wednesday, 31 May 2017

Ayo, Ke Museum Sriwijaya

Ayo Ke Museum Sriwijaya
“Belajar memaksimalkan Eksistensi Museum Daerah”
Oleh: Kms. Gerby Novario


Ayoo, Ke Museum Sriwijaya
Kata siapa ke museum itu membosankan? Kalo kalian termasuk salah satu yang punya pendapat demikian mungkin dari sekarang segera perbaiki mindset nya. Museum itu bisa jadi tempat yang menyenangkan kalo kita memaksimalkan pemanfaatannya. Tidak hanya menjadi tempat kunjungan disaat tertentu, museum dapat kita jadikan tempat sarana belajar, kegiatan komunitas, wisata dan rekreasi sampai jadi tempat nge-game yang asik dan seru.

Kalau pengalaman penulis, Museum-museum di Pulau Jawa itu sedikit berbeda dibandingkan Museum yang ada di Sumatera Selatan, apa yang berbeda? Yang pasti penggunaannya yang maksimal menjadikannya tempat yang asik dan tak akan bosan jika dikunjungi berkali-kali. Sebut saja di Jakarta itu terbilang banyak museumnya, Museum di area Kota Tua saja ada sekitar 3-5 Museum, Museum Lukisan Basuki Abdullah, Museum Pengkhianatan PKI, sampai yang bergenre militer kalo dari pengamatan penulis museum-museum ini pasti rama pengunjungnya apalagi akhir pekan. Museum di kota Yogyakarta juga tak kalah menarik dengan tampilan budaya sampai peninggalan era kolonial, apalagi disana juga ada sebuah Komunitas Malam Museum DIY yang sering ngadaian kegiatan-kegiatan anti mainstream yang membuat museumnya terasa sangat menarik. Perbaikan mindset masyarakat mengenai museum memiliki peranan penting dalam memaksimalkan tujuan museum itu sendiri. Yah, dibayangan penulis mungkin suatu saat nanti Museum-museum di Sumatera Selatan terutama Palembang akan dapat memaksimalkan tujuannya.

Tak perlu lama penulis berbasa-basi dengan kalimat panjang lebar, kali ini penulis akan menyampaikan sebuah tulisan mengenai salah satu museum di Kota Palembang yang tak kalah keren, apa itu? Museum Sriwijaya yang ada di Taman Wisata dan Budaya Kerajaan Sriwijaya



Taman Wisata dan Budaya Kerajaan Sriwijaya
Taman Wisata dan Budaya Kerajaan  Sriwijaya (TWBKS) dibentuk berdasarkan Perda Nomor 7 Tahun 2010, merupakan UPTD Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan.

Berdasarkan peraturan Gubernur Sumatera Selatan Nomor 27 Tahun 2010 UPTD Taman Wisata dan Budaya Kerajaan Sriwijaya mempunyai tugas melaksanakan sebagai tugas teknis Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam bidang pengelolaan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS), Museum Sriwijaya, Bukit Siguntang, dan Taman Budaya Sriwijaya.

Taman Wisata dan Budaya Kerajaan Sriwijaya merupakan taman wisata yang dibangun di area situs purbakala tinggalan Kerajaan Sriwijaya yaitu Situs Karanganyar dan Situs Bukit Siguntang, sedangkan Taman Budaya Sriwijaya dibangun diatas lahan non-situs di daerah Jakabaring

Secara adminisratif, situs Karanganyar terletak di Jalan Syakhyakirti, Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Gandus, Palembang. Terletak pada dataran aluvial pada meander Sungai Musi berhadapan dengan pertemuan Sungai Musi dengan Sungai Ogan dan Kramasan. Belahan utara Sungai Musi sudah sejak lama diketahui sebagai lokasi sejumlah situs arkeologi yang berasal dari abad ke -7 hingga ke-15 Masehi, diantaranya adalah situs Kambang Unglen, Padang Kapas, Ladang Sirap, dan Bukit Siguntang. Taman purbakala ini dapat dicapai dari pusat kota Palembang dengan kendaraan umum menuju jurusan Tangga Buntung.

Situs Karanganyar terbagi atas tiga subsitus, yaitu subsitus Karanganyar 1, 2, dan 3. Yang terbesar adalah subsitus Karanganyar 1 berupa sebuah kolam berbentuk empat persegi panjang membujur arah utara selatan berukuran 623x325 meter. Ditengah kolam ini terdapat dua pulau, yaitu Pulau Nangka dan Pulau Cempaka. Pulau Nangka berukuran 462x325 meter, sedangkan Pulau Cempaka berukuran 40x40 meter. Pulau Nangka dikelilingi parit-parit berukuran 15x1190 meter. Subsitus Karanganyar 2 terletak di sebelah barat daya kolam 1 dan merupakan kolam kecil, ditengahnya terdapat pulau kecil berdenah bujur sangkar dengan ukuran 40x40 meter. Subsitus Karanganyar 3 berada di sebelah timur subsitus Karanganyar 1 dengan denah bujur sangakar berukuran 60x60 meter.

Ketiga subsitus tersebut digubungkan oleh parit yang berjumlah tujuh buah. Parit 1 merupakan parit terpanjang, yaitu 3 kilometer dengan lebar 25 sampai 30 meter. Parit ini oleh penduduk setempat dinamai parit Suak Bujang. Sejajar dengan parit 1 terdapat parit 2 dengan panjang 1,6 kilometer. Parit ini terletak di sebelah selatan situs Karanganyar 1 dan 3. Ujung parit ini berasal dari subsitus Karanganyar 2 sedangkan ujung timurnya bermuara di Sungai Musi. Parit 1 dan 2 dihubungkan dengan parit 3, yaitu parit 4 dan 5 yang terletak di sebalah barat subsitus 1. Ujung selatan parit 4 dan 5 berakhir di parit 2. Dari parit 2 terdapat dua buah parit yang ujung selatannya bermuara di Sungai Musi, yaitu parit 6 dan 7.

Temuan Purbakala
Di lokasi yang dipercaya sebagai sisa Taman Kerajaan Sriwijaya ini dijumpai artefak yang menampakkan aktifitas keseharian masyarakatnya, seperti manik-manik, struktur batu bata, dammar, tali ijuk, keramik, dan sisa perahu. Temuan-temuan tersebut diperoleh saat pembangunan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya maupun melalui kegiatan penyelamatan temuan di sekitar kawasan ini. Rekonstruksi atas fragmen keramik yang banyak ditemukan memperlihatkan adanya penggunaan tempayan, guci, buli-buli, mangkuk, dan piring. Sedangkan berdasarkan rekonstruksi dari sisa gerabah menunjukkan pemanfaatanberbagai bentuk tungku atau anglo, kendi, periuk, tempayan, pasu, dan bahkan genteng. Kumpulan temuan-temuan ini menunjukkan betapa padatnya aktifitas keseharian masyarakat yang hidup di kawasan ini pada masa lalu.
Situs ini utamanya menampilkan struktur bangunan air berupa kolam, pulau buatan, dan parit yang keberadaannya menjadi bukti kehadiran manusia yang menetap dalam jangka waktu yang cukup lama. Diperkirakan penduduk yang dulu menghuni kawasan Karanganyar menggali kanal atau parit seperti parit Suak Bujang, baik untuk saluran drainase tata air penangkal banjir maupun sebagai sarana transportasi untuk menghubungkan daerah-daerah pedalaman di sekitar situs Sungai Musi.

Pada tahun 1985 dilakukan penggalian arkeologi dan berlanjut pada tahun 1989. Dari penggalian ini ditemukan banyak pecahan tembikar, keramik, manic-manik, dan struktur bata. Berdasarkan hasil analisis keramik-keramik Cina yang ditemukan di kawasan ini berasal dari Dinasti Tang (abad VII-X M), Sung (abad X-XII M), Yuan (XIII-XIV M), dan Dinasti Qing (abad XVII-XIX M) yang umumnya terdiri dari tempayan, buli-buli, pasu, mangkuk,dan piring. Sedangkan penggalian yang dilakukan di pulau Cempaka berhasil menampakkan kembali sisa bangunan berupa struktur bata pad kedalaman 30 cm dengan orientasi timur-barat.

Selain jejaring kanal, kolam, dan struktur bata, di situs ini tidak ditemukan bekas peninggalan candi atau bekas istana yang signifikan. Hal ini berbeda dengan status Muaro Jambi yang memiliki peninggalan berupa bangunan candi berbahan batu bata merah. Para ahli arkeologi berpendapat bahwa sedikitnya temuan bangunan banyak ditemukan di lokasi ini. Sriwijaya merupakan kerajaan Maritim yang berada di tepian sungai dan hutan lebat di Sumatra. Karena tidak terdapat gunung berapi yang menyimpan batu, bangunan peribadatan, istana, dan rumah-rumah penduduk dibuat dari kayu atau batu bata, akibatnya bangunan cepat rusak hanya dalam hitungan paling lama 200 tahun. Ditambah lagi dengan tingginya tingkat kelembaban serta kemungkinan banjir rutin dari luapan Sungai Musi di dekatnya dengan mudah dapat merusak bangunan kayu dan bata.

Pembangunan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya
Berdasarkan interpretasi dan temuan dari foto udara tahun 1984 menunjukkan bahwa situs Karanganyar menampilkan bentuk bangunan air, yaitu jaringan kanal, parit, kolam, serta pulau buatan yang disusun rapi. Dapat dipastikan bahwa situs ini adalah buatan manusia. Bangunan air terdiri atas kolam dan dua pulau berbentuk bujur sangkar dan empat persegi panjang, serta parit dengan luas areal meliputi 20 hektar. Serangkaian kanal, pulau buatan, dan bagian-bagian lainnya menampilkan situs Karanganyar sebagai karya arsitektur lanskap yang berkaitan dengan bangunan air.
Oleh pemerintah Sumatera Selatan kawasan ini dipugar, kanal-kanalnya dirapikan untuk dijadikan Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya yang diresmikan presiden Soeharto pada tanggal 22 Desember 1994. Di dalam taman purbakala ini terdapat Museum Sriwijaya, yaitu pusat informasi mengenai situs dan temuan Sriwijaya di Palembang. Pada bagian tengah situs ini terdapat pendopo berarsitektur rumah limas khas Palembang yang ditengahnya disimpan replika Prasasti Kedukan Bukit dalam kotak kaca. Prasasti ini menceritakan tentang perjalanan Siddhayatra Dapunta Hyang yang dianggap sebagai tonggak sejarah berdirinya Kerajaan Sriwijaya.

Museum Sriwijaya
Museum Sriwijaya merupakan museum khusus dengan tema Sriwijaya. Museum Sriwijaya pada mulanya bernama Museum Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya sesuai dengan nama situs dimana museum ini didirikan. Pada tahun 2008 museum direnovasi total lengkap dengan perkantorannya dan diresmikan lagi pada tanggal 5 November 2008 dengan nama Museum Sriwijaya.

Tema besar dalam penataan Museum Sriwijaya adalah kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Dari tema tersebut maka disusunlah storyline yang menceritakan tentang kebesaran Kerajaan Sriwijaya mulai dari masa pra Sriwijaya, masa Sriwijaya, dan masa Pasca Sriwijaya di Sumatera Selatan.

Sebagai salah satu sumber bahan pembelajaran, museum dapat kita jadikan tempat yang mengasikan buat belajar sejarah. Semua umur dan setiap orang dapat belajar memahami pola hidup manusia di masa lampau, karena kehidupan kita masa sekarang tak lepas dari perkembangan hidup masa lampau.

 Tonton Video Berikut:








Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Recent Posts