Selamat Datang | Selamat datang "Mahasiswa Baru Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 2017" - Selamat Bergabung | Semoga artikel dan isi web HIMAPES Unsri ini dapat memberikan manfaat |17 AGUSTUS 1945-2016 "Perjuangan Bangsa Masih Berlanjut" MERDEKA!!! | Terima kasih sudah mengunjungi web kami | Viva Historia... #noHistory noFuture

Friday, 9 December 2016

Palembang Massacre: Raffles, Sultan Mahmud Badaruddin II, dan Belanda

Palembang Massacre
Penolakan SMB II terhadap Kolonial Belanda


Pada saat Inggris akan menduduki Pulau Jawa pada tahun 1811, Thomas Stanford Raffles mengadakan pendekatan kepada raja-raja di Nusantara yang dianggapnya sangat berpengaruh di wilayah Nusantara. Sultan Mahmud Badaruddin II dianggap Raffles seorang tokoh yang disegani oleh kawan maupun lawan, dan dengan sendirinya dapat diandalkan dalam mempercepat jatuhnya Belanda sebelum serbuan besar Inggris terhadap pemerintahan Belanda-Prancis di Pulau Jawa. Raffles mengadakan upaya pendekatan terhadap Sultan Mahmud Badaruddin II dengan mengirimkan surat menyurat dan utusannya, Raffles juga mengirimkan beberapa peti senjata lengkap dengan amunisinya ke Palembang.[1]

Gambar 1. Ilustrasi Wajah Sultan Mahmud Badaruddin II
(Sumber: www.google.co.id/image)

Sultan Mahmud Badaruddin II merupakan salah seorang Sultan Palembang anti Kolonial terutama Belanda yang oleh sejarawan Inggris menyebutnya dengan “never a tama tiger” (tidak pernah mau menjadi harimau yang jinak) menjadi salah satu target Raffles. Ketika Sultan Mahmud Badaruddin II mendengar kabar Inggris akan kembali berkuasa di Pulau Jawa dan sudah merebut Batavia, dengan sigap SMB II memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengusir Belanda dari Palembang.[2]

Sultan Mahmud Badaruddin II mengirimkan pasukan ke Loji Sungai Aur (daerah pemukiman Belanda di hilir Sungai Musi) untuk menjemput pasukan dan pegawai Belanda dan beberapa pendatang Prancis untuk dipindah lokasikan. Pada mulanya orang-orang Belanda menolak untuk di pindahkan dari Loji Sungai Aur, akan tetapi dengan memberikan alasan bahwa Sultan khawatir akan diserang Inggris karena adanya orang Belanda dan orang asing lainnya di Palembang. Orang-orang Belanda kemudian mau dipindah lokasikan ke daerah lain yang belum tahu dimana lokasinya.[3]

Dibawalah pasukan dan pegawai Belanda menggunakan perahu-perahu rombongan utusan Sultan dari Loji Sungai Aur. Sesampai ditengah perjalanan di hilir Sungai Musi tepat pada tanggal 14 September 1811 rombongan perahu yang membawa sebanyak 87 orang rombongan Belanda dan Prancis berhenti, orang-orang Belanda melakukan perlawanan dan terjadilah peristiwa penyembelihan massal terhadap orang-orang Belanda kemudian perahunya ditenggelamkan di hilir Sungai Musi atau tepatnya di Muara Sungsang yang kemudian dikenal dengan peristiwa Palembang Massacre.[4]

Gambar 2. Ilustrasi Peristiwa Loji Sungai Aur
(Sumber: www.google.co.id/image)

Seminggu setelah peristiwa Palembang Massacre, Loji Sungai Aur di bumihanguskan dan diratakan dengan tanah. Sebuah kisah mengatakan bahwa setelah Loji Sungai Aur diratakan dengan tanah, bagian atas loji tersebut kemudian ditimbun dan ditanami dengan rerumputan dan tumbuhan lainnya agar lokasi dan peristiwa tersebut tidak diketahui oleh Inggris dan Belanda.

Sepenggal kisah sejarah masa Kesultanan Palembang dari sudut pandang seorang Pribumi. Palembang Massacre menunjukan bentuk perlawanan Sultan terhadap Belanda dengan memanfaatkan kesempatannya. Kebencian seorang Sultan terhadap kolonial Belanda yang telah memeras dan memanfaatkan rakyat Pribumi dan kesultanan yang mungkin menjadi salah satu penyebab kebencian mendalam terhadap Belanda.

Beberapa sumber jurnal asing mengatakan bahwa awal dari peristiwa ini merupakan provokasi Raffles, akan tetapi Raffles sendiri tidak mengakui dan sangat tidak menginginkan peristiwa Palembang Massacre 14 September 1811 tersebut terjadi.[5]

Peristiwa Palembang Massacre berbuntut panjang dalam persoalan dikalangan politikus Belanda dan Inggris sampai dengan abad ke-20. kemudian menyulut beberapa peristiwa besar lainnya termasuk didalamnya serangan Inggris dan Belanda ke Palembang dalam Perang Palembang I (1811), Perang Palembang II (1811), dan Perang Palembang III (1821).






[1] Ki Agus Imran Mahmud. 2008. Sejarah Palembang. Palembang: Penerbit Anggrek. Hlm. 56
[2] Ibid. Hlm. 55
[3] Ibid. Hlm. 56
[4] Djohan Hanafiah. 1988. Palembang. Jakarta: PT Karya Unipres. Hlm. 13
[5] J. Bastian. 1953. Palembang in 1811-1812. KITLV.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Recent Posts