Selamat Datang | Selamat datang "Mahasiswa Baru Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 2017" - Selamat Bergabung | Semoga artikel dan isi web HIMAPES Unsri ini dapat memberikan manfaat |17 AGUSTUS 1945-2016 "Perjuangan Bangsa Masih Berlanjut" MERDEKA!!! | Terima kasih sudah mengunjungi web kami | Viva Historia... #noHistory noFuture

Friday, 1 April 2016

Peninggalan Masa Hindu Budha di Kota Palembang: Situs Geding Suro

Situs Gedingsuro: Sisa Candi Yang Bertahan
Situs Gedingsuro terletak di Kampung 1 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, sebelah Timur Kota Palembang tepatnya di Jalan Ratu Sinuhun, Lorong H. Umar (Tepat di ujung lorong). Wilayah ini dikenal dengan Palembang Lamo (Kuta Gawang) karena wilayah merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Palembang sebelum pindah ke Beringin Janggut.
Situs Gedingsuro merupakan tanah darat dengan ketinggian rata-rata sekitar 4 meter di atas permukaan laut. Dibagian utara sedikit meninggi. Lokasi situs di bagian sebelah timur berbatasan dengan tembok pagar PT Pupuk Sriwijaya, dan sebelah selatan berbatasan dengan pemukiman penduduk dan sungai Musi.
       
Gambar. Lokasi Situs Gedingsuro Dari Foto Satelit

Gambar. Lokasi Situs Gedingsuro

Situs Gedingsuro untuk pertama kalinya diteliti pada tahun 1930 oleh Luning dan Westenenk. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Luning dan Westenenk, pada tahun 1935 Schnitger mengadakan penelitian di situs Gedingsuro. Schnitger melakukan eskavasi pada diantara Candi II dan Candi IV di Kompleks Candi. Menurut Schnitger, bangunan yang ada di kompleks tersebut telah hancur. Bagian yang masih tampak adalah pondasinya, ia juga berpendapat makam ini merupakan kumpulan candi yang hanya tinggal pondasi dan di atasnya terdapat makam Islam abad ke-16 Masehi.
Gambar. Kompleks Situs dan Makam Gedingsuro yang dikatakan bagian Candi oleh Schnitger.
Pada saat Schnitger melakukan penggalian antara Candi II dan Candi IV ia menemukan sebuah Arca Batu dengan ukuran tinggi 1,18 meter. Arca yang diduga berasal dari sekitar abad ke 8-10 Masehi yang mewujudkan dewa dengan pakaian kebesarannya.Schnitger juga menemukan bantaral Arca berbentuk teratai, Fragmen Kepala Kala, dan hiasan bangunan.
Situs Gedingsuro terdapat 7 buah bangunan yang terbuat dari batu dan bata putih. Berdasarkan gaya seninya bangunan-bangunan tersebut berasal diduga dari sekitar abad ke 15-16 Masehi yaitu masa dimana pengaruh Majapahit berkembang di Palembang.
Selain pada bangunan, pengaruh Majapahit tampak pada arca perunggu yang ditemukan di runtuhan bangunan yang menggambarkan Siwa Mahadewa, Wisnu, dan Brahma (Trimurti).
Tinggalan budaya bersifat Budhis juga ditemukan di sebuah dataran tinggi sebelah utara Situs Gedingsuro, yaitu berupa arca Budha dan Bodhisattwa yang terbuat dari perunggu berlapis emas, sisa bangunan bata (mungkin kompleks Wihara) dan beberapa Stupika yang didalamnya berisikan tablet tanah liat bertuliskan mantra Budha.

a. Arca Perunggu Trimurti (Brahma, Wisnu, dan Siwa)
Gambar. Arca Trimurti
Arca Brahma
Brahma merupakan salah satu dewa penting dalam agama Hindu karena dianggap sebagai dewa pencipta. Arca Brahma ini digambarkan dalam posisi berdiri di atas kendaraan seekor Angsa dan juga digambarkan bermuka empat sebagai simbol keempat Weda. Muka menghadap timur Reg Wea bertangan empat yang melukiskan keempat arah mata angin. Tangan kiri belakang membawa kendi dan tangan kanan belakang membawa tombak sakti. Menggunakan pakaian kebesaran dengan pehiasan lengkap. Memakai mahkota berbentuk jamakuta dan memakai prabha atau sandaran.
Arca Wisnu
Wisnu merupakan salah satu dewa penting dalam agama Hindu karena dianggap sebagai dewa pemelihara. Dalam usahanya untuk menolong manusia dalam kesulitan, Wisnu sering menjelma turun ke dunia manusia, antara lain sebagai Kresna dan Rama. Wisnu berkendara Burung Garuda. Penganut agama Hindu yang memuja Wisnu disebut aliran Waishawa. Wisnu digambarkan berdiri di atas pundak Garuda, bertangan empat, tangan kiri depan memegang sesuatu yang tidak jelas, tangan kanan depan memegang wajra, tangan kiri belakang memegang sangkha bersayap, tangan kanan belakang memegang cakra.
Arca Siwa
Siwa adalah salah satu dari tiga dewa utama (Trimurti) dalam agama Hindu yang paling tinggi kedudukannya. Siwa berperan sebagai dewa perusak. Aliran yang secara khusus memuja Siwa disebut Saiwa. Arca Siwa ini berdiri diatas kendaraan berupa Nandi. Wajah Nandi sangat menyeramkan, bertaring, melotot dengan lidah menjulur keluar. Siwa digambarkan memiliki empat tangan, kedua tangan depan diletakan di depan dada. Tangan kiri belakang memegang busur yang telah patah, tangan kanan belakang memegang anak panah. Mengenakan jawakuta (hiasan rambut), kalung, gelang tangan, gelang kaki dan selendang yang diselempangkan di bahu kiri. Arca ini disimpan di Museum Balaputeradewa Palembang.

b.   Fragmen Arca Awalokiteswara
Fragmen Arca Awalokiteswara yang ditemukan baik di lingkungan situs Gedingsuro maupun sekitarnya ini ada tiga, semuanya dalam keadaan tidak utuh, hilang bagian kepala, tangan dan kaki. Ciri-ciri yang menandakan bahwa pecahan arca tersebut Awalokiteswara adalah jubah yang dikenakan, merupakan ciri-ciri arca langgam Syailendra yang digunakan pada masa Sriwijaya di Palembang pada abad ke-9 Masehi. Tinggalan ini disimpan di Museum Sriwijaya TWBKS.


Gambar. Fragmen Arca Awalokiteswara (Dok. Pribadi)

\

c.   Arca Budha Bodhisattwa
Arca ini ditemukan di Situs Gedingsuro dari hasil penggalian liar pada tahun 1990an. Arca Budha Boddhisattwa merupakan penjelmaan Dhyani Budda di dunia untuk mengajarkan dharma. Dilihat dari gaya seninya kedua arca ini berasal dari abad ke-9 Masehi.





Gambar. Arca Budha Bodhisattwa (Dok. Pribadi) 









Sumber:
1. _____.1994. Situs-situs Masa Klasik di Kota Palembang. Palembang: Pemda Tingkat I Prov. Sumatera Selatan.
2. Utomo, Bambang Budi, dkk. 2012. Kota Palembang: Dari Wanua Sriwijaya Menuju Palembang Modern. Palembang: Pemerintah Kota Palembang.\
3 ._____. 2007. Menelusuri Jejak-Jejak Peradaban Di Sumatera Selatan. Palembang: Balai Arkeologi Palembang.
4. Poesponegoro. M.D. dan Nugroho Notosusanto. 2010. Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno. Jakarta: Balai Pustaka.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Recent Posts