Selamat Datang | Selamat datang "Mahasiswa Baru Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 2017" - Selamat Bergabung | Semoga artikel dan isi web HIMAPES Unsri ini dapat memberikan manfaat |17 AGUSTUS 1945-2016 "Perjuangan Bangsa Masih Berlanjut" MERDEKA!!! | Terima kasih sudah mengunjungi web kami | Viva Historia... #noHistory noFuture

Saturday, 9 April 2016

Abdus Shamad Al-Palimbani: Islam dan Intelektual

Ulama Tasawuf Intelektual; Syaikh Abdus Shamad Al-Palimbani


 Oleh: Arafah
Editor: GG


Gambar. Syaikh Abdus Shamad Al-Palimbani 

Palembang sekitar awal abad ke-16 telah berada di bawah pengaruh kekuasaan kerajaan Demak di Jawa, seperti yang ditulis oleh seorang pelancong Portugis bernama Tome Pires dalam catatannya yang terkenal yaitu Suma Oriental. Ini mengidentifikasikan bahwa sudah ada otoritas bernuansa Islam di kota ini. Kota Palembang pada akhir abad ke-16 telah menjadi enclave Islam terpenting atau bahkan pusat Islam di begian selatan Pulau Emas (Sumatera-Pen).

1 Tetapi hubungan dengan dunia Islam telah terjadi sejak era 661-717 M dimana berita-berita Arab menyebutkan bahwa ada dua surat dari Maharaja Sriwijaya kepada dua khalifah di Timur Tengah, yaitu ditujukan kepada Khalifah Muawiyah dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Bani Umayyah. Tetapi Islamisasi baru terjadi setelah Kerajaan Sriwijaya melemah pada sekitar abad ke-11 M dan sama sekali runtuh pada abad ke-14 M. hal yang paling menarik ialah, ketika pada tahun 617 M, I Tsing seorang pelancong asal Tiongkok yang singgah selama beberapa tahun singgah di Ibukota Shih-Li-Fo-Tsih (Sriwijaya) untuk memperdalam ilmu keagamaan Budha dan bahasa Sansekerta, pelancong Tiongkok ini berlayar dengan kapal-kapal orang Tashih (Arab) dan orang Posse (Persia). 2 Dengan disandingkannya nama Tashih dan Posse kemungkinan besar penyebaran suatu bidang keilmuan Islam yang khas Persia, yaitu Sufisme mungkin bukan suatu hal yang asing lagi di masa awal Islam Palembang.

Nampaknya hubungan tersebut membawa pengaruh pada beberapa abad selanjutnya terutama apabila dilihat dari kemajuan Ilmu Tasawuf di Palembang. Pasalnya, sejak awal abad ke-18 telah muncul Pemikir-Ulama Tasawuf yang tenar, bukan hanya lokal, tapi juga internasional. Diantara yang paling besar ialah Syaikh Abdus Shamad Al-Palimbani. Diperkirakan bahwa kelahiran Ulama besar



1 Lih. Abdullah, Taufik, Beberapa Aspek Perkembangan Islam di Sumatera Selatan, Editor K.H.D.,

Gadjahmada,Sri Edi Swasono, Penerbit Universitas Indonesia : UI Press, 1986. Hal. 53-66

2 Notosusanto, Nugroho, Marwati Djoened, Sejarah Nasional Indonesia;Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam, Jakarta : Balai Pustaka, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993. Hal.,45



Arafah Pramasto Sudarsono Sastrosubroto  2

Artikel-Artikel Bebas

ini ialah pada 1704 M. 3 Nama aslinya adalah Syaikh Abdus Shamad bin Abdurrahman Al-Jawi Al-Palimbani. Karena ayahnya adalah menjabat sebagai kepala penjaga Istana Kuto Cerancangan Kesultanan Palembang Darussalam, ia dididik di lingkungan keraton. 4 Semasa hidupnya Syaikh Abdus Shamad tidak hanya aktif dalam berdakwah tapi juga menjadi pemikir dan penulis yang produktif. Kitabnya hingga saat ini masih sering dibaca dan dikaji, seperti

Hidayatus Shalikin, dan Siyar Al-Shalikin.

Abdus Shamad sangat dikenal luas di kalangan intelektual Islam karena keluasan ilmu tasawufnya. Dia seorang ahli, terutama tentang Tasawuf Al-Ghazali, dan ia terkenal di Haramain (Makkah dan Madinah) karena keahliannya yang luar biasa tentang Ihya’ Ulumuddin-nya Imam Al-Ghazali. 5 Sekalipun sebagai seorang ahli Tasawuf ia sangat berpegang teguh pada ortodoksi Islam. Ia memadukan keselarasan antara syariat dan logika, sehingga ia mampu mematahkan doktrin-doktrin Tasawuf Wujudiyah Mulhid (Tasawuf yang berisi gagasan-gagasan mistisisme spekulatif). Dalam pendapat Wujudiyah Mulhid, realitas Allah tidak eksis kecuali dalam wujud dari segala yang diciptakan. Pemahaman Wujudiyah Mulhid adalah bentuk panteisme yang telah ditolak ke-

Mu’tabarah-annya (keabsahan) dalam Islam, dan lebih lumrah dikenal dengan sebutan Manunggal Ing Kawula Gusti (Satu Wujud Allah-Makhluk). Dengan tegas pendapat seperti itu ia sebut sebagai sebuah “kekufuran”.6 Al-Palimbani sangat menentang anggapan kaum Wujudiyah Mulhid yang percaya bahwa Allah menjelma dalam wujud Kharij (eksternal) manusia dan makhluk-makhluk lainnya. 7 Hal itu jelas berbeda dalam pandangan Al-Palimbani dimana ia yakin bahwa para Sufi sejati adalah mereka yang keimanannya dan watak intelektualnya


3 Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama : Timur Tengah dan kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII : melacak akar-akar pembaruan pemikiran Islam di Indonesia, Bandung : Mizan, 1994. Hal. 243-251

4 Lih. Biografi Singkat Syaikh Abdus Shamad Al-Palimbani (Pengantar Penerbit). Al-Palimbani, Syaikh Abdus Shamad, Hidayatus Shalikin : Mengarungi Samudera Makrifat, Surabaya : Pustaka

Hikmah Perdana, 2013.
5Lih. Azyumardi Azra : Kontroversi dan Oposisi Terhadap Wahdah Al-Wujud : Wacana Sufisme di

Daerah Indonesia Melayu pada Abad ke-17 dan 18. Artikel. Awani, Gulam Reza, dkk., Islam, Iran dan Peradaban, Jogjakarta : Rausyan Fikr, 2012. Hal. 539
6 Ibid.

7  Al-Palimbani, Syaikh Abdus Shamad, Hidayatus Shalikin : Mengarungi Samudera Makrifat,

Surabaya : Pustaka Hikmah Perdana, 2013. Hal. 9


Arafah Pramasto Sudarsono Sastrosubroto  3

Artikel-Artikel Bebas


dipusatkan kepada keesaan Allah daripada sekadar memikirkan imanesi-Nya, walaupun disaat bersamaan, pada tingkat tertentu eksistensi Allah adalah Imanent.

Pemikiran Al-Palimbani, sebagaimana disebutkan di atas, banyak dipengaruhi oleh seorang pemikir dan Ulama Tasawuf asal Persia, yaitu Imam Al-Ghazali yang dikenal akan serangannya pada bentuk-bentuk Tasawuf Filosofis yang melanggar ortodoksi. Al-Palimbani dalam Muqaddimah (Pembukaan) Kitab

Hidayatus Shalikin-nya menyatakan bahwa kitabnya itu adalah ikhtisar dari kitab Imam Al-Ghazali Bidayatul Hidayah. Sebagai sebuah kitab yang mengkaji ilmu Tasawuf, Hidayatus Shalikin, yang terdiri atas satu Muqaddimah, tujuh bab, dan satu Khatimah (penutup), dimulai dengan Pasal Ilmu yang Manfaat dan dilanjutkan pada Pasal Kelebihan Ilmu yang Manfaat. Ia mengutip pendapat Al-

Ghazali ; “Ketahui olehmu bahwasannya jika maksudmu dalam menuntut ilmu hanya untuk berdebat, angkuh, lebih baik dari orang lain, mencari muka, dan menumpuk haarta dunia niscaya engkau telah meruntuhkan agamamu dan membinasakan diri sendiri.” 8 Untuk sebuah kitab yang ditujukan untuk mengkaji masalah Tasawuf yang sarat akan makna Bathiniyyah (esoterik), Al-Palimbani memulai kitabnya dengan kajian yang fundamental tentang hakikat ilmu dan tujuan baik dari ilmu.

Apabila sejauh ini Tasawuf selalu diasosiasikan dengan tindakan yang bertentangan dengan ortodoksi Islam, Hidayatus Shalikin sebagai kitab Tasawuf ditulis dengan sistematika yang dimulai dengan hal-hal mendasar. Seperti dalam

Bab I : Aqidah yang membahas hakikat Tauhid, Bab II : Ketaatan yang banyak membahas masalah Thaharah (bersuci) dan Sholat, Bab III : Maksiat Dzahir / Fisik, Bab IV : Maksiat Bathin, dan baru Bab V : Ketaatan Bathin. Berarti sebelum mengkaji Bab V tentang ketaatan Bathin, Al-Palimbani mengajak pembaca untuk melewati empat tahapan perkara fisik (eksoterik) terlebih dahulu. Kitab Al-Palimbani lainnya seperti Siyar Al-Shalikin hampir memiliki sistematika yang sama. Dalam bab pertama Siyar Al-Shalikin ia mendiskusikan mengenai Iman dan Ibadah, bab kedua mengenai akhlak, bagian ketiga mengenai kejahatan, dan bagian terakhir mengenai berapa macam perbuatan baik yang menjauhkan



8 Al-Palimbani, Syaikh Abdus Shamad, Hidayatus Shalikin : Mengarungi Samudera Makrifat,
Surabaya : Pustaka Hikmah Perdana, 2013. Hal. 9




Arafah Pramasto Sudarsono Sastrosubroto  4

Artikel-Artikel Bebas

pelakunya dari tindakan tercela. 9 Sejalan dengan sistematika penulisan kitab-kitabnya yang mengonsentrasikan tahapan-tahapan gradual, Al-Palimbani juga memberikan kontribusi dalam mengklasifikasikan teks-teks utama Tasawuf ke dalam tiga tingkatan pembelajaran, yaitu Mubtadi (dasar), Mutawassit (tengah), dan Muntahi (tingkat lanjut / tinggi). 10 Sekalipun dikenal sebagai seorang yang anti pada paham Wujudiyah Mulhid , Al-Palimbani menerima gagsan-gagasan tasawuf filosofis tertentu sebagaimana dikembangkan oleh Ibn Arabi, Al-Jilli, dan Al-Sumatrani yang karya-karya mereka ini ia rekomendasikan kepada para pengikut Tasawuf Muntahi. Namun ia tidak menganjurkan karya-karya tersebut dibaca oleh dua tingkatan lain (Mubtadi dan Mutawassit), untuk dua level ini ia menganjurkan bacaan-bacaan Fiqh atau karya-karya mistis yang berorientasi Syariat. 11 pada bagian ini terlihat sosok Al-Palimbani sebagi seorang innovator dalam pengajaran Tasawuf yang ia usahakan agar tidak melenceng dari ortodoksi Islam itu sendiri.

Syaikh Abdus Shamad Al-Palimbani banyak menghabiskan sisa waktu hidupnya, bahkan wafat di Tanah Suci. Pada usia belasan tahun, orang tuanya mengirimnya untuk belajar ke tanah suci. Ia berangkat bersama kedua temannya yaitu Kemas Ahmad bin Abdullah dan Muhammad Muhyiddin bin Syihabuddin. Bidang yang paling digemarinya adalah Tauhid dan Tasawuf, dimana untuk yang disebutkan terakhir, ia mengambil ilmu Tarekat Sammaniyah dari Sayikh Muhammad As-Samman Al-Madani (w. 1749). Ia menjadi teman seperguruan ulama-ulama terkenal seperti Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Sayaikh Abdul Wahab Bugis, Sayikh Abdul Rahman Al-Batawi Al-Mishri, dan Syaikh Daud Al-Fathani. Sebelum belajar ke Tanah Suci, Al-Palimbani yang dididik di dalam lingkungan keraton belajar pertama kali kepada Ulama-Ulama Palembang seperti tuan Faqih Jalaluddin, Hasanuddin bin Ja’far dan Sayyid Hasan bin Umar

Idrus.  Pendidikan  di  Palembang  ia  lanjutkan  ke  Keddah  dan  Pattani  (dulu


9 Moris, Megawati, Al-Ghazali Influence on Malay Thinkers of 18th and 19th Cebtury, paper presented to ISTAC as Doctoral Proposal. Hal. 3

10Nurman, Said, Ghazali’s Work and The Influence in Indonesia, Thesis M.A., Institute of Islamic Studies, Mc.Gill University, 1992. Hal. 58

11Lih. Azyumardi Azra : Kontroversi dan Oposisi Terhadap Wahdah Al-Wujud : Wacana Sufisme di Daerah Indonesia Melayu pada Abad ke-17 dan 18. Artikel. Awani, Gulam Reza, dkk., Islam, Iran dan Peradaban, Jogjakarta : Rausyan Fikr, 2012. Hal. 538


Arafah Pramasto Sudarsono Sastrosubroto  5

Artikel-Artikel Bebas

Fathani). Di Pattani ia berteman baik dengan Syaikh Daud Al-Fathani yang kelak menjadi teman seperguruannya di Tanah Suci. Dari latar belakang pendidikannya ini, kiranya dapat dimengerti bagaimana salah satu kitab karangannya, Siyar Al-Shalikin, memainkan peranan penting dalam memperkenalkan pemikiran Al-Ghazali di antara Muslim di Asia Tenggara. 12

Nampaknya stereotip buruk dalam kalangan awam yang sering memunculkan kesan negaatif pada Tasawuf dan pendukung-pendukungnya, atau siapapun yang melakukan generalisasi bahwa Tasawuf adalah sesat, haruslah, minimalnya mengetahui sosok Al-Palimbani. Memang terdapat beberapa pihak, seperti kaum Wujudiyah Mulhid, mempraktikkan Tasawuf yang bertentangan dengan ortodoksi, ataupun mereka yang mengklaim bahwa Tasawuf adalah bentuk asketisme berlebihan sehingga timbul rasa “Cinta Miskin”, Nrimo, dan mengasingkan diri. Al-Palimbani malah mencontohkan bentuk proyeksi positif dari Tasawuf sebagai kehidupan yang penuh optimism dan berkualitas. Ia mencontohkan totalilitas dalam mencurahkan daya dan upaya dalam dunia intelektual yang berguna bagi masyarakat luas. Al-Palimbani memiliki karya-karya lain yang amat penting seperti Kitab Zuhratul Murid (1764) yang mengkaji masalah Manthiq (logika) dan Ushuluddin (teologi). Kitab Thufat Al-Raghibin

(1774) berisi tentang bahaya Tasawuf Wujudiyah Mulhid dan bahaya paganisme seperti menghormati makam secara berlebihan. Dalam Kitab Nashihah Al-Muslimin wa Tadzkirah Al-Mu’minin fii Fadha’il Jihad fii Sabilillah, ia mengungkapkan mengenai pentingnya Jihad melawan kolonialisme. Disamping itu terdapat kitab-kitab lain, seperti :

1.     Urwah Al-Wutsqa, berisi tentang wirid-wirid pada kondisi tertentu

2.     Ratib Abdus Shamad, semacam buku saku yang berisi dzikir, puji-pujian, dan doa yang dilakukannya setelah sholat Isya’.

3.     Zad Al-Muttaqin, berisi ringkasan ajaran tauhid yang disampaikan oleh gurunya yaitu Sayikh Muhammad Al-Samman Al-Madani.
12 Ahmad Kazemi Musawi : Kehadiran Mistisisme Islam-Perso dalam Literatur Indonesia-Melayu.

Artikel. Awani, Gulam Reza, dkk., Islam, Iran dan Peradaban, Jogjakarta : Rausyan Fikr, 2012. Hal. 475


Arafah Pramasto Sudarsono Sastrosubroto  6

Artikel-Artikel Bebas

4.     Risalah Dzikir, tentang Dzikir.

5.     Siwatha Al-Anwar.

6.     Fadhail Al-Ihya Al-Ghazali, mengkaji masalah Tasawuf.

7.     Risyadan Afdhal Jihad, mengenai keutamaan Jihad.

8.     Kitab-kitab lainnya.



Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Recent Posts