Selamat Datang | Selamat datang "Mahasiswa Baru Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 2017" - Selamat Bergabung | Semoga artikel dan isi web HIMAPES Unsri ini dapat memberikan manfaat |17 AGUSTUS 1945-2016 "Perjuangan Bangsa Masih Berlanjut" MERDEKA!!! | Terima kasih sudah mengunjungi web kami | Viva Historia... #noHistory noFuture

Friday, 23 December 2016

Friday, 9 December 2016

Palembang Massacre: Raffles, Sultan Mahmud Badaruddin II, dan Belanda

Palembang Massacre
Penolakan SMB II terhadap Kolonial Belanda


Pada saat Inggris akan menduduki Pulau Jawa pada tahun 1811, Thomas Stanford Raffles mengadakan pendekatan kepada raja-raja di Nusantara yang dianggapnya sangat berpengaruh di wilayah Nusantara. Sultan Mahmud Badaruddin II dianggap Raffles seorang tokoh yang disegani oleh kawan maupun lawan, dan dengan sendirinya dapat diandalkan dalam mempercepat jatuhnya Belanda sebelum serbuan besar Inggris terhadap pemerintahan Belanda-Prancis di Pulau Jawa. Raffles mengadakan upaya pendekatan terhadap Sultan Mahmud Badaruddin II dengan mengirimkan surat menyurat dan utusannya, Raffles juga mengirimkan beberapa peti senjata lengkap dengan amunisinya ke Palembang.[1]

Gambar 1. Ilustrasi Wajah Sultan Mahmud Badaruddin II
(Sumber: www.google.co.id/image)

Sultan Mahmud Badaruddin II merupakan salah seorang Sultan Palembang anti Kolonial terutama Belanda yang oleh sejarawan Inggris menyebutnya dengan “never a tama tiger” (tidak pernah mau menjadi harimau yang jinak) menjadi salah satu target Raffles. Ketika Sultan Mahmud Badaruddin II mendengar kabar Inggris akan kembali berkuasa di Pulau Jawa dan sudah merebut Batavia, dengan sigap SMB II memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengusir Belanda dari Palembang.[2]

Sultan Mahmud Badaruddin II mengirimkan pasukan ke Loji Sungai Aur (daerah pemukiman Belanda di hilir Sungai Musi) untuk menjemput pasukan dan pegawai Belanda dan beberapa pendatang Prancis untuk dipindah lokasikan. Pada mulanya orang-orang Belanda menolak untuk di pindahkan dari Loji Sungai Aur, akan tetapi dengan memberikan alasan bahwa Sultan khawatir akan diserang Inggris karena adanya orang Belanda dan orang asing lainnya di Palembang. Orang-orang Belanda kemudian mau dipindah lokasikan ke daerah lain yang belum tahu dimana lokasinya.[3]

Dibawalah pasukan dan pegawai Belanda menggunakan perahu-perahu rombongan utusan Sultan dari Loji Sungai Aur. Sesampai ditengah perjalanan di hilir Sungai Musi tepat pada tanggal 14 September 1811 rombongan perahu yang membawa sebanyak 87 orang rombongan Belanda dan Prancis berhenti, orang-orang Belanda melakukan perlawanan dan terjadilah peristiwa penyembelihan massal terhadap orang-orang Belanda kemudian perahunya ditenggelamkan di hilir Sungai Musi atau tepatnya di Muara Sungsang yang kemudian dikenal dengan peristiwa Palembang Massacre.[4]

Gambar 2. Ilustrasi Peristiwa Loji Sungai Aur
(Sumber: www.google.co.id/image)

Seminggu setelah peristiwa Palembang Massacre, Loji Sungai Aur di bumihanguskan dan diratakan dengan tanah. Sebuah kisah mengatakan bahwa setelah Loji Sungai Aur diratakan dengan tanah, bagian atas loji tersebut kemudian ditimbun dan ditanami dengan rerumputan dan tumbuhan lainnya agar lokasi dan peristiwa tersebut tidak diketahui oleh Inggris dan Belanda.

Sepenggal kisah sejarah masa Kesultanan Palembang dari sudut pandang seorang Pribumi. Palembang Massacre menunjukan bentuk perlawanan Sultan terhadap Belanda dengan memanfaatkan kesempatannya. Kebencian seorang Sultan terhadap kolonial Belanda yang telah memeras dan memanfaatkan rakyat Pribumi dan kesultanan yang mungkin menjadi salah satu penyebab kebencian mendalam terhadap Belanda.

Beberapa sumber jurnal asing mengatakan bahwa awal dari peristiwa ini merupakan provokasi Raffles, akan tetapi Raffles sendiri tidak mengakui dan sangat tidak menginginkan peristiwa Palembang Massacre 14 September 1811 tersebut terjadi.[5]

Peristiwa Palembang Massacre berbuntut panjang dalam persoalan dikalangan politikus Belanda dan Inggris sampai dengan abad ke-20. kemudian menyulut beberapa peristiwa besar lainnya termasuk didalamnya serangan Inggris dan Belanda ke Palembang dalam Perang Palembang I (1811), Perang Palembang II (1811), dan Perang Palembang III (1821).






[1] Ki Agus Imran Mahmud. 2008. Sejarah Palembang. Palembang: Penerbit Anggrek. Hlm. 56
[2] Ibid. Hlm. 55
[3] Ibid. Hlm. 56
[4] Djohan Hanafiah. 1988. Palembang. Jakarta: PT Karya Unipres. Hlm. 13
[5] J. Bastian. 1953. Palembang in 1811-1812. KITLV.

Saturday, 9 April 2016

Abdus Shamad Al-Palimbani: Islam dan Intelektual

Ulama Tasawuf Intelektual; Syaikh Abdus Shamad Al-Palimbani


 Oleh: Arafah
Editor: GG


Gambar. Syaikh Abdus Shamad Al-Palimbani 

Palembang sekitar awal abad ke-16 telah berada di bawah pengaruh kekuasaan kerajaan Demak di Jawa, seperti yang ditulis oleh seorang pelancong Portugis bernama Tome Pires dalam catatannya yang terkenal yaitu Suma Oriental. Ini mengidentifikasikan bahwa sudah ada otoritas bernuansa Islam di kota ini. Kota Palembang pada akhir abad ke-16 telah menjadi enclave Islam terpenting atau bahkan pusat Islam di begian selatan Pulau Emas (Sumatera-Pen).

1 Tetapi hubungan dengan dunia Islam telah terjadi sejak era 661-717 M dimana berita-berita Arab menyebutkan bahwa ada dua surat dari Maharaja Sriwijaya kepada dua khalifah di Timur Tengah, yaitu ditujukan kepada Khalifah Muawiyah dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Bani Umayyah. Tetapi Islamisasi baru terjadi setelah Kerajaan Sriwijaya melemah pada sekitar abad ke-11 M dan sama sekali runtuh pada abad ke-14 M. hal yang paling menarik ialah, ketika pada tahun 617 M, I Tsing seorang pelancong asal Tiongkok yang singgah selama beberapa tahun singgah di Ibukota Shih-Li-Fo-Tsih (Sriwijaya) untuk memperdalam ilmu keagamaan Budha dan bahasa Sansekerta, pelancong Tiongkok ini berlayar dengan kapal-kapal orang Tashih (Arab) dan orang Posse (Persia). 2 Dengan disandingkannya nama Tashih dan Posse kemungkinan besar penyebaran suatu bidang keilmuan Islam yang khas Persia, yaitu Sufisme mungkin bukan suatu hal yang asing lagi di masa awal Islam Palembang.

Nampaknya hubungan tersebut membawa pengaruh pada beberapa abad selanjutnya terutama apabila dilihat dari kemajuan Ilmu Tasawuf di Palembang. Pasalnya, sejak awal abad ke-18 telah muncul Pemikir-Ulama Tasawuf yang tenar, bukan hanya lokal, tapi juga internasional. Diantara yang paling besar ialah Syaikh Abdus Shamad Al-Palimbani. Diperkirakan bahwa kelahiran Ulama besar



1 Lih. Abdullah, Taufik, Beberapa Aspek Perkembangan Islam di Sumatera Selatan, Editor K.H.D.,

Gadjahmada,Sri Edi Swasono, Penerbit Universitas Indonesia : UI Press, 1986. Hal. 53-66

2 Notosusanto, Nugroho, Marwati Djoened, Sejarah Nasional Indonesia;Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam, Jakarta : Balai Pustaka, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993. Hal.,45



Arafah Pramasto Sudarsono Sastrosubroto  2

Artikel-Artikel Bebas

ini ialah pada 1704 M. 3 Nama aslinya adalah Syaikh Abdus Shamad bin Abdurrahman Al-Jawi Al-Palimbani. Karena ayahnya adalah menjabat sebagai kepala penjaga Istana Kuto Cerancangan Kesultanan Palembang Darussalam, ia dididik di lingkungan keraton. 4 Semasa hidupnya Syaikh Abdus Shamad tidak hanya aktif dalam berdakwah tapi juga menjadi pemikir dan penulis yang produktif. Kitabnya hingga saat ini masih sering dibaca dan dikaji, seperti

Hidayatus Shalikin, dan Siyar Al-Shalikin.

Abdus Shamad sangat dikenal luas di kalangan intelektual Islam karena keluasan ilmu tasawufnya. Dia seorang ahli, terutama tentang Tasawuf Al-Ghazali, dan ia terkenal di Haramain (Makkah dan Madinah) karena keahliannya yang luar biasa tentang Ihya’ Ulumuddin-nya Imam Al-Ghazali. 5 Sekalipun sebagai seorang ahli Tasawuf ia sangat berpegang teguh pada ortodoksi Islam. Ia memadukan keselarasan antara syariat dan logika, sehingga ia mampu mematahkan doktrin-doktrin Tasawuf Wujudiyah Mulhid (Tasawuf yang berisi gagasan-gagasan mistisisme spekulatif). Dalam pendapat Wujudiyah Mulhid, realitas Allah tidak eksis kecuali dalam wujud dari segala yang diciptakan. Pemahaman Wujudiyah Mulhid adalah bentuk panteisme yang telah ditolak ke-

Mu’tabarah-annya (keabsahan) dalam Islam, dan lebih lumrah dikenal dengan sebutan Manunggal Ing Kawula Gusti (Satu Wujud Allah-Makhluk). Dengan tegas pendapat seperti itu ia sebut sebagai sebuah “kekufuran”.6 Al-Palimbani sangat menentang anggapan kaum Wujudiyah Mulhid yang percaya bahwa Allah menjelma dalam wujud Kharij (eksternal) manusia dan makhluk-makhluk lainnya. 7 Hal itu jelas berbeda dalam pandangan Al-Palimbani dimana ia yakin bahwa para Sufi sejati adalah mereka yang keimanannya dan watak intelektualnya


3 Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama : Timur Tengah dan kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII : melacak akar-akar pembaruan pemikiran Islam di Indonesia, Bandung : Mizan, 1994. Hal. 243-251

4 Lih. Biografi Singkat Syaikh Abdus Shamad Al-Palimbani (Pengantar Penerbit). Al-Palimbani, Syaikh Abdus Shamad, Hidayatus Shalikin : Mengarungi Samudera Makrifat, Surabaya : Pustaka

Hikmah Perdana, 2013.
5Lih. Azyumardi Azra : Kontroversi dan Oposisi Terhadap Wahdah Al-Wujud : Wacana Sufisme di

Daerah Indonesia Melayu pada Abad ke-17 dan 18. Artikel. Awani, Gulam Reza, dkk., Islam, Iran dan Peradaban, Jogjakarta : Rausyan Fikr, 2012. Hal. 539
6 Ibid.

7  Al-Palimbani, Syaikh Abdus Shamad, Hidayatus Shalikin : Mengarungi Samudera Makrifat,

Surabaya : Pustaka Hikmah Perdana, 2013. Hal. 9


Arafah Pramasto Sudarsono Sastrosubroto  3

Artikel-Artikel Bebas


dipusatkan kepada keesaan Allah daripada sekadar memikirkan imanesi-Nya, walaupun disaat bersamaan, pada tingkat tertentu eksistensi Allah adalah Imanent.

Pemikiran Al-Palimbani, sebagaimana disebutkan di atas, banyak dipengaruhi oleh seorang pemikir dan Ulama Tasawuf asal Persia, yaitu Imam Al-Ghazali yang dikenal akan serangannya pada bentuk-bentuk Tasawuf Filosofis yang melanggar ortodoksi. Al-Palimbani dalam Muqaddimah (Pembukaan) Kitab

Hidayatus Shalikin-nya menyatakan bahwa kitabnya itu adalah ikhtisar dari kitab Imam Al-Ghazali Bidayatul Hidayah. Sebagai sebuah kitab yang mengkaji ilmu Tasawuf, Hidayatus Shalikin, yang terdiri atas satu Muqaddimah, tujuh bab, dan satu Khatimah (penutup), dimulai dengan Pasal Ilmu yang Manfaat dan dilanjutkan pada Pasal Kelebihan Ilmu yang Manfaat. Ia mengutip pendapat Al-

Ghazali ; “Ketahui olehmu bahwasannya jika maksudmu dalam menuntut ilmu hanya untuk berdebat, angkuh, lebih baik dari orang lain, mencari muka, dan menumpuk haarta dunia niscaya engkau telah meruntuhkan agamamu dan membinasakan diri sendiri.” 8 Untuk sebuah kitab yang ditujukan untuk mengkaji masalah Tasawuf yang sarat akan makna Bathiniyyah (esoterik), Al-Palimbani memulai kitabnya dengan kajian yang fundamental tentang hakikat ilmu dan tujuan baik dari ilmu.

Apabila sejauh ini Tasawuf selalu diasosiasikan dengan tindakan yang bertentangan dengan ortodoksi Islam, Hidayatus Shalikin sebagai kitab Tasawuf ditulis dengan sistematika yang dimulai dengan hal-hal mendasar. Seperti dalam

Bab I : Aqidah yang membahas hakikat Tauhid, Bab II : Ketaatan yang banyak membahas masalah Thaharah (bersuci) dan Sholat, Bab III : Maksiat Dzahir / Fisik, Bab IV : Maksiat Bathin, dan baru Bab V : Ketaatan Bathin. Berarti sebelum mengkaji Bab V tentang ketaatan Bathin, Al-Palimbani mengajak pembaca untuk melewati empat tahapan perkara fisik (eksoterik) terlebih dahulu. Kitab Al-Palimbani lainnya seperti Siyar Al-Shalikin hampir memiliki sistematika yang sama. Dalam bab pertama Siyar Al-Shalikin ia mendiskusikan mengenai Iman dan Ibadah, bab kedua mengenai akhlak, bagian ketiga mengenai kejahatan, dan bagian terakhir mengenai berapa macam perbuatan baik yang menjauhkan



8 Al-Palimbani, Syaikh Abdus Shamad, Hidayatus Shalikin : Mengarungi Samudera Makrifat,
Surabaya : Pustaka Hikmah Perdana, 2013. Hal. 9




Arafah Pramasto Sudarsono Sastrosubroto  4

Artikel-Artikel Bebas

pelakunya dari tindakan tercela. 9 Sejalan dengan sistematika penulisan kitab-kitabnya yang mengonsentrasikan tahapan-tahapan gradual, Al-Palimbani juga memberikan kontribusi dalam mengklasifikasikan teks-teks utama Tasawuf ke dalam tiga tingkatan pembelajaran, yaitu Mubtadi (dasar), Mutawassit (tengah), dan Muntahi (tingkat lanjut / tinggi). 10 Sekalipun dikenal sebagai seorang yang anti pada paham Wujudiyah Mulhid , Al-Palimbani menerima gagsan-gagasan tasawuf filosofis tertentu sebagaimana dikembangkan oleh Ibn Arabi, Al-Jilli, dan Al-Sumatrani yang karya-karya mereka ini ia rekomendasikan kepada para pengikut Tasawuf Muntahi. Namun ia tidak menganjurkan karya-karya tersebut dibaca oleh dua tingkatan lain (Mubtadi dan Mutawassit), untuk dua level ini ia menganjurkan bacaan-bacaan Fiqh atau karya-karya mistis yang berorientasi Syariat. 11 pada bagian ini terlihat sosok Al-Palimbani sebagi seorang innovator dalam pengajaran Tasawuf yang ia usahakan agar tidak melenceng dari ortodoksi Islam itu sendiri.

Syaikh Abdus Shamad Al-Palimbani banyak menghabiskan sisa waktu hidupnya, bahkan wafat di Tanah Suci. Pada usia belasan tahun, orang tuanya mengirimnya untuk belajar ke tanah suci. Ia berangkat bersama kedua temannya yaitu Kemas Ahmad bin Abdullah dan Muhammad Muhyiddin bin Syihabuddin. Bidang yang paling digemarinya adalah Tauhid dan Tasawuf, dimana untuk yang disebutkan terakhir, ia mengambil ilmu Tarekat Sammaniyah dari Sayikh Muhammad As-Samman Al-Madani (w. 1749). Ia menjadi teman seperguruan ulama-ulama terkenal seperti Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Sayaikh Abdul Wahab Bugis, Sayikh Abdul Rahman Al-Batawi Al-Mishri, dan Syaikh Daud Al-Fathani. Sebelum belajar ke Tanah Suci, Al-Palimbani yang dididik di dalam lingkungan keraton belajar pertama kali kepada Ulama-Ulama Palembang seperti tuan Faqih Jalaluddin, Hasanuddin bin Ja’far dan Sayyid Hasan bin Umar

Idrus.  Pendidikan  di  Palembang  ia  lanjutkan  ke  Keddah  dan  Pattani  (dulu


9 Moris, Megawati, Al-Ghazali Influence on Malay Thinkers of 18th and 19th Cebtury, paper presented to ISTAC as Doctoral Proposal. Hal. 3

10Nurman, Said, Ghazali’s Work and The Influence in Indonesia, Thesis M.A., Institute of Islamic Studies, Mc.Gill University, 1992. Hal. 58

11Lih. Azyumardi Azra : Kontroversi dan Oposisi Terhadap Wahdah Al-Wujud : Wacana Sufisme di Daerah Indonesia Melayu pada Abad ke-17 dan 18. Artikel. Awani, Gulam Reza, dkk., Islam, Iran dan Peradaban, Jogjakarta : Rausyan Fikr, 2012. Hal. 538


Arafah Pramasto Sudarsono Sastrosubroto  5

Artikel-Artikel Bebas

Fathani). Di Pattani ia berteman baik dengan Syaikh Daud Al-Fathani yang kelak menjadi teman seperguruannya di Tanah Suci. Dari latar belakang pendidikannya ini, kiranya dapat dimengerti bagaimana salah satu kitab karangannya, Siyar Al-Shalikin, memainkan peranan penting dalam memperkenalkan pemikiran Al-Ghazali di antara Muslim di Asia Tenggara. 12

Nampaknya stereotip buruk dalam kalangan awam yang sering memunculkan kesan negaatif pada Tasawuf dan pendukung-pendukungnya, atau siapapun yang melakukan generalisasi bahwa Tasawuf adalah sesat, haruslah, minimalnya mengetahui sosok Al-Palimbani. Memang terdapat beberapa pihak, seperti kaum Wujudiyah Mulhid, mempraktikkan Tasawuf yang bertentangan dengan ortodoksi, ataupun mereka yang mengklaim bahwa Tasawuf adalah bentuk asketisme berlebihan sehingga timbul rasa “Cinta Miskin”, Nrimo, dan mengasingkan diri. Al-Palimbani malah mencontohkan bentuk proyeksi positif dari Tasawuf sebagai kehidupan yang penuh optimism dan berkualitas. Ia mencontohkan totalilitas dalam mencurahkan daya dan upaya dalam dunia intelektual yang berguna bagi masyarakat luas. Al-Palimbani memiliki karya-karya lain yang amat penting seperti Kitab Zuhratul Murid (1764) yang mengkaji masalah Manthiq (logika) dan Ushuluddin (teologi). Kitab Thufat Al-Raghibin

(1774) berisi tentang bahaya Tasawuf Wujudiyah Mulhid dan bahaya paganisme seperti menghormati makam secara berlebihan. Dalam Kitab Nashihah Al-Muslimin wa Tadzkirah Al-Mu’minin fii Fadha’il Jihad fii Sabilillah, ia mengungkapkan mengenai pentingnya Jihad melawan kolonialisme. Disamping itu terdapat kitab-kitab lain, seperti :

1.     Urwah Al-Wutsqa, berisi tentang wirid-wirid pada kondisi tertentu

2.     Ratib Abdus Shamad, semacam buku saku yang berisi dzikir, puji-pujian, dan doa yang dilakukannya setelah sholat Isya’.

3.     Zad Al-Muttaqin, berisi ringkasan ajaran tauhid yang disampaikan oleh gurunya yaitu Sayikh Muhammad Al-Samman Al-Madani.
12 Ahmad Kazemi Musawi : Kehadiran Mistisisme Islam-Perso dalam Literatur Indonesia-Melayu.

Artikel. Awani, Gulam Reza, dkk., Islam, Iran dan Peradaban, Jogjakarta : Rausyan Fikr, 2012. Hal. 475


Arafah Pramasto Sudarsono Sastrosubroto  6

Artikel-Artikel Bebas

4.     Risalah Dzikir, tentang Dzikir.

5.     Siwatha Al-Anwar.

6.     Fadhail Al-Ihya Al-Ghazali, mengkaji masalah Tasawuf.

7.     Risyadan Afdhal Jihad, mengenai keutamaan Jihad.

8.     Kitab-kitab lainnya.



Palembang dan Ibukota Sriwijaya

Palembang dan Aspek Internasionalnya
"Menilik Otentisitas Keberadaan Pusat Sriwijaya"
Oleh : Arafah Pramasto
Editor: Kms. Gerby Novario

 Gambar. Peta Sebaran Tinggalan Sriwijaya di Kota Palembang

      Sebagai ibukota provinsi Sumatera Selatan, Palembang apabila ditinjau dari segi historisnya dapat dikatakan sebagai “Kota yang Beruntung.” Sejarah yang panjang membuatnya memiliki peninggalan-peninggalan sejarah, situs-situs bersejarah, ataupun tempat rekreasi bersejarah. Beberapa prasasti seperti Kedukan Bukit, Talang Tuo, Telaga Batu dan Boom Baru ditemukan di kota ini. Beberapa situs penting seperti situs Karanganyar yang mengindikasikan kemajuan irigasi di zaman Sriwijaya, situs Candi Gede Ing Suro dengan aspek peninggalan lintas zaman sejak zaman Budha hingga datangnya Bangsawan Demak yaitu Ki Gede Ing Suro yang menyebarkan Islam, situs Bukit Seguntang dengan nuansa historic nya, Beringin Jungut, dan Candi Angsoko dengan kemisteriusannya; semuanya melambangkan kemapanan peradaban dari masa ke masa di kota ini. Bahkan museum-museum seperti museum Sriwijaya yang berdiri di atas situs Karanganyar, Museum Balaputeradewa di KM. 5 yang juga memamerkan tinggalan lampai dan peninggalan modern seperti tekstil Palembang disamping memiliki Corner khusus yang dibuat dengan kerjasama antara pemerintah Palembang dan Kerajaan Malaka-Malaysia- mengingat sosok Prameswara (pendiri Malaka) sangat erat hubungannya dengan Palembang, ditambah lagi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II yang di belakangnya terdapat Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) guna mengabadikan kejadian Pertempuran Lima Hari Lima Malam di masa Revolusi Fisik. Dalam sejarahnya yang gemilang ini, apabila beberapa tahun lalu diadakan perhelatan sekelas SEA Games dan ISoG (Islamic Solidarity Games) yang bertaraf internasional, sebenarnya bukanlah hal baru. Palembang di masa lalu telah menjadi kota yang tenar untuk mancanegara, inilah yang dapat menjawab polemik popular tentang lokasi pusat Sriwijaya yang selalu dipertanyakan.
     Aspek internasional kota Pelambang dapat dirujuk kepada berita Tiongkok. Pada tahun 671 M I-Tsing mendarat di daerah ibukota kerajaan Shih-Li-Fo-Tshih (Sriwijaya) dan menetap selama beberapa tahun untuk mempelajari kitab suci agama Budha dan bahasa Sansekerta. Ia berangkat dengan kapal orang Ta-Shih (Arab) dan Posse (Persia). [1] Sumber Tiongkok lainnya menyebutkan bahwa pada 717 M sebanyak 35 kapal Posse juga dating ke kerajaan Shih-Li-Fo-Tshih. [2] Jelaslah telah ada hubungan diplomatik antara kerajaan Sriwijaya dengan Tiongkok dan Timur Tengah. Sebagaimana dalam sumber Arab abad ke-8 M, ditemukan surat-surat dari Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah Muawiyah (661 M) dan kepada Kalifah Umar Bin Abdul Aziz (m. 717-720 M), dalam sebuah kitab yang ditulis oleh AL-Jahizh (783-869 M).[3] Penguasa Sriwijaya dalam tulisan Arab disebut sebagai “Maharaja (dari) Pulau-Pulau.”[4] Sriwijaya disebut dalam sumber Arab sebagai Sribuza.[5]
Gambar. Prasasti Kedukan Bukit berisikan mengenai pembangunan wanua atau perkampungan oleh Dapunta Hyang dan pengikutnya.
     Dengan mengambil tinjauan dari pihak asing didapatlah fakta tentang aspek internasional Palembang. Ada keunikan dalam masalah ini, yaitu usia berita I-Tsing lebih awal dibandingkan dengan tahun prasasti Kedukan Bukit (682/683 M). Sekalipun demikian ini bukanlah hal kontradiktif. Bambang Budi Utomo meyakini prasasti ini adalah yang tertua dalam sejarah kerajaan Sriwijaya.[6] Dengan berita I-Tsing yang lebih awal itu, prasasti Kedukan Bukit menjadi penguat informasi I-Tsing. Berarti berdirinya Kedukan Bukit menandakan keberadaan Sriwijaya yang telah mapan lebih awal. Ini juga tercermin dalam prasasti Talang Tuo yang datang selanjutnya. Prasasti Talang Tuo menceritakan tentang pendirian taman Sriksetra. Taman ini berisi tanaman-tanaman yang berguna untuk umum. Nampaknya prasasti ini dibuat untuk memperingati pembuatan sebuah bangunan penanda. Sebagaimana kita ketahui bahwa sebuah peradaban akan menandai puncak kejayaannya dengan membuat bangunan-bangunan monumental.
Gambar. Prasasti Talang Tuo berisikan mengenai pembangunan Taman Srikestra oleh Dapunta Hyang Srijayanasa
     Peraturan tentang loyalitas dan birokrai bisa didapatan dari prasasti Telaga Batu, tanpa angka tahun, namun kebanyakan diyakini sezaman dengan prasasti Kedukan Bukit. Tidak adanya angka tahun dalam Telaga Batu mengindikasikan, berdasarkan perkiraan kesamaan waktu dengan prasasti Kedukan Bukit, karena sebenarnya bentuk birokrasi dan kesetiaan serta loyalitas dalam pemerintahan-seperti yang tercantum dalam Telaga Batu- telah ada dianut sejak lama oleh rakyatnya. Sekali lagi telah terlihat bagaimana kerajaan ini telah begitu mapan di masa itu. Ditinjau dari lokasi penemuan tiga prasasti ini (Kedukan Bukit, Talang Tuo, dan Telaga Batu), dimana ketiganya dianggap sebagai prasasti “kunci” peradaban Sriwijaya, didapatkan juga gambaran tentang luas daerah pusat kerajaan Sriwijaya. Prasasti Kedukan Buki ditemukan di kaki Bukit Seguntang, di bagian timurnya adalah tempat ditemukannya prasasti Telaga Batu ; Daerah Kampung 2 Ilir belakang kompleks PT. Pusri. Pada bagian barat lautnya ditemukan prasasti Talang Tuo ; di daerah Kecamatan Talang Kelapa. Kawasan-kawasan itu menggabarkan lingkaran kota Palembang kala itu-sebagai puat Sriwijaya-meliputi 400.61 km2.[7]
     Melihat prospek kerajaan Sriwijaya yang mampu membangun hubungan diplomtik dengan Tiongkok dan Timur Tengah maka kita juga harus melihat bagaimana eksistensi Sriwijaya dalam kancah regional yang lebih kecil, contohnya di kawaan Asia Tenggara. Salah satu prasasti Sriwijaya, Prasasti Ligor (775 M), ditemukan di kawasan Semenanjung Melayu, didalamnya disebutkan sebuah Jabatan yaitu Bhupati, yang juga ditemukan dalam prasasti Telaga Batu. Kemungkinan kuat ialah kawasan ini berada dibawah protektorat Sriwijaya. Apabila dilihat dari segi bahasa yang dipakai, yaitu bahasa Sansekerta,[8] dimana kebanyakan untuk prasasti Sriwijaya yang ditemukan di daerah Sumatera Selatan berbahasa Melayu Kuno menjadi bukti bahwa Kerajaan Sriwijaya menghormati independensi wilayah protektoratnya. Demikian juga telah diketahui berita I-Tsing yang pernah belajar bahasa Sansekerta di Sriwijaya. Perlu dimengerti kiranya bahwa bahasa Sansekerta adalah bahasa yang banyak dituturkan oleh Kasta tertinggi Kaum Brahmana Hindu (sesuai dengan kepercayaan bahwa bahasa ini adalah bahasa para Dewa[9]). Bahasa ini lumrah ditemukan dalam prasasti-prasasti di Jawa. Di luar Asia Tenggara, Sriwijaya memiliki sumber asing seperti Prasasti Nalanda (860 M) yang berada di Bihar, India. Dalam Prasasti berbahasa Sansekerta tersebut menyebutkan bahwa Raja Dewapaladewa dari kerajaan Colamandala (Coromandel) memenuhi permintaan Raja Balaputradewa “Sri Maharaj Svarnadvipa” untuk dibuatkan sebuah asrama bagi para Bhiksu. Sriwijaya menunjukkan sebuah model negara adidaya, memiliki bahasa resmi, dan memiliki hubungan international yang kuat.
Gambar. Prasasti Telaga Batu berisikan mengenai sistem pemerintahan dan kutukan masa Kedatuan Sriwijaya.
     Hubungan antara kerajaan Sriwijaya dan Cola kemudian memburuk. Berdasarkan informasi dari  Museum Sriwijaya, memburuknya hubungan ini disebabkan oleh peraturan pajak yang tinggi yang diterapkan oleh kerajaan Sriwijaya kepada para pedagang Tamil. Raja Cola saat itu, Rajendra Coladewa yang merasa sebagai pelindung para pedagang Tamil merespon Sriwijaya dengan serangan militer pada 1025 M. Alterntif lain dari alasan penyerangan ini adalah misi ekspansi ke wilayah-wilayah Asia Tenggara yang memang direncanakan oleh raja Cola itu. Berdasarkan prasasti Tanjore di daerah Tamil Nadu, berangka tahun 1030 M yang memuat catatan tentang wilayah-wilayah yang diserang oleh Rajendra coladewa seperti : Sriwijaya, Malaiyur (Jambi), Ilangosagam (Langkasuka), Ilamuridesam (Lamuri), dan lainnya. Penyerangan ini dipercaya sebagai penyebab melemahnya kerajaan Sriwijaya.
     Lemahnya kerajaan Sriwijaya itu ternyata belum menyebabkan kerajaan Sriwijaya hancur sama sekali. Eksistensi kerajaan ini masih juga disebutkan dalam berita Tiongkok dalam Buku Sejarah Dinasti Song disebutkanlah negeri San-Fo-Tsi / San-Bo-Tsai atau Sriwijaya yang beribukota di Chan-Pi  (diperkirakan “Jambi”), dimana dalam negeri itu terdapat banyak tempat yang berawalan Pu- atau Po- .[10] Tetapi kemudian disebutkan lagi bahwa pada tahun 1079 M Sriwijaya dan Jambi mengirim utusan ke Tiongkok, kemudian pada 1082 M hanya Jambi yang memiliki hubungan resmi dengan Tiongkok.[11] Informasi ini dapat digarisbawahi bahwa pasca penyerbuan Cola, Jambi menjadi ibukota Sriwijaya. Pengiriman utusan pada 1079 M ke Tiongkok lebih menunjukkan bentuk protektorat Sriwijaya yang masih hidup, karena Jambi yang menjadi Ibukota Sriwijaya disebutkan setelah nama Sriwijaya itupun dapat dilihat dari Prasasti Tanjore yang menyebut nama Jambi sebagai Malaiyur setelah Sriwijaya. Ini semua dapat diartikan Sriwijaya yang melemah berpindah ke Jambi yang dulu sudah menjadi daerah protektorat bawahannya lalu Jambi melepaskan diri dari kerajaan Sriwijaya kira-kira setelah 1079 M. karena pada 1082 M hanya Jambi yang memiliki hubungan resmi dengan Tiongkok.
     Apabila kita memperhatikan rentetan kejadian dai kerajaan Sriwijaya kita akan menemukan fakta bahwa memang Palembang yang menjadi pusat bagi kerajaan Sriwijaya. Apabila dihitung dari usia prasasti-prasasti yang diemukan di Palembang, kita ambil dari prasasti Kedukan Bukit yang berangka tahun 683 M hingga 1025 M disaat penyerbuan kerajaan Cola ke Sriwijaya, berarti Palembang sebagai pusat Sriwijaya bertahan selama 342 tahun. Itupun apabila benar Sriwijaya memulai Marwuat Vanua atau mendirikan fundamen kekuasaan pada 683 M, sedangkan berita I-Tsing jauh lebih tua tentang Shih-Li-Fo-Tshih. Disisi lain ialah jika benar Sriwijaya langsung memindahkan pusat kekuasaannya ke Jambi pada 1025 M. Sedangkan Jambi sebagai ibukota Sriwijaya dihitung sejak 1025 M hingga 1079 M ialah 54 tahun, apabila lepasnya Jambi pada 1082 M ialah 57 tahun Jambi menjadi ibukota Sriwijaya.
       Berita Tiongkok dari Chou-Kou-Fei dalam kitab Ling-Wai-Tai-Ta apada 1178 M, disebukan lagi nama San-Fo-Tsi yang sudah tidak sekaya dahulu karena kekurangan hasil alam, barang-barang dagangannya yang mahal, tidak sekaya Tashih (Arab) dan Cho-Po (Jawa).[12] Memungkinkan sekali apa yang terdapat dalam berita ini dikarenakan daerah bawahan Sriwijaya, sama seperti Jambi, banyak melepaskan diri. Perbandingan Sriwijaya dengan Tashih (Arab) dan Cho-Po (Jawa) masih menunjukkan bahwa dalam Ling-Wai-Tai-Ta , Sriwijaya masih diingat sebagai wilayah yang dahulunya besar. Nampaknya penyebutan Tashih (Arab) sebagai pembanding adalah merujuk pada Sriwijaya yang belum melemah yang sebelumnya sangat dekat dengan orang Timur Tengah, sebagaimana I-Tsing menyaksikan hubungan antara keduanya. Tidaklah mungkin perbandingan ini merujuk kepada Sriwijaya yang melemah dan pindah ke Jambi.
Gambar. Prasasti Siddhayatra berisikan mengenai kalimat pendek banyak ditemukan di Kota Palembang

     Bukti lain yang menunjukan bahwa Palembang merupakan pusat Sriwijaya ialah informasi dari Ma Huan yang berasal dari Dinasti Ming abad ke-15 M yang menyertai ekspedisi Cheng Ho ke Palembang. Dalam buku catatannya yang terkenal, Ying Yai Sheng Lan ia menyebut wilayah Palembang sebagai San-Fo- Ji, perubahan dari nama San-Bo-Tsai atau San-Fo-Tsi kemudian lebih spesifik lagi ia menyebut tempat yang bernama Po-Lin-Fong, sesuai dengan berita dimasa Dinasti Song ; dimana dalam negeri itu terdapat banyak tempat yang berawalan Pu-  atau Po-. Po-Lin-Fong adalah perubahan dari Palembang ; nama ini merujuk pada bahasa Melayu yaitu tempat dimana air sungai sering merembes ke daratan (Lembang), dan kondisi ini masih terjadi pada era 1990-an saat 52,24 % wilayah kota Palembang masih sering kebanjiran.[13] Dalam Mao Kun (peta pelayaran) Ma Huan dan Cheng Ho  ditemuan sebuah tempat yang disebut sebagai Jiu-Jiang atau “Pelabuhan Tua” di kawasan Palembang. Penyebutan Jiu-Jiang atau “Pelabuhan Tua”  ini menunjukkan pengetahuan yang amat familiar bagi orang Tiongkok tentang wilayah Palembang sejak dahulu kala yang merujuk pada hubungan yang telah terbina dengan kerajaan Sriwijaya sejak zaman I-Tsing. Ma Huan menjelaskan untuk masuk ke kota melalui Jiu-Jiang untuk menuju ibukota, para pedagang harus merapatkan kapalnya di tepi laut, (lalu) memakai kapal kecil, dengan itu mereka akan mencapai ibukota.[14] Apa yang dijelaskan oleh Ma Huan sama seperti rute masuk Sungai Musi melalui Muara Sungsang.
     Sumber-sumber asing ini kita dapat memastikan bahwa penggugatan Palembang sebagai pusat Sriwijaya haruslah ditinjau lagi. Tidaklah mungkin apabila sudah didasarkan pada informasi asing yang memperkuat keberadaan pusat Sriwijaya di Palembang masih dikritisi demi kepentingan politik semata. Palembang dan aspek intenasionalnya adalah bukti pengakuan atas eksistensi Sriwijaya di dalamnya.
           
           




[1] Notosusanto, Nugroho, Marwati Djoened Poesponegoro, Sejarah Nasional Indonesia III : Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam, Jakarta :Balai Pustaka, 1993. Hal. 45
[2] Utomo, Bambang Budi, Cheng Ho : His Cultural Diplomacy in Palembang,Palembang : Departemen Pendidikan Nasional, 2008. Hlm. 57.
[3] Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Bandung ; Mizan, 1994. Hlm. 36-44
[4] Hall, Kenneth R., “Economic History of Early Southeast Asia.” Dalam The Cambridge History of Southeas Asia Vol.I From Early Times to c. 1500, Cambridge : Cambridge University Press, 1999. Hlm. 85
[5] Tibett, G.R., Early Moslem Traders in Souteast Asia, dalam JMBRAS 30 (1), 1957. Hlm. 1
[6] Utomo, Bambang Budi, Cheng Ho : His Cultural Diplomacy in Palembang,Palembang : Departemen Pendidikan Nasional, 2008. Hlm. 56
[7] Ibid. Hlm. 23
[8] De Casparis, J.C., Prasasti Indonesia : Selected Inscriptions from the 7th to the 9th Century A.D., Bandung : Masa Baru, 1956. Hlm. 1-15
[9] www.bhakti-yoga-meditation.com diakses 13-Juni-2014/15:24
[10] Soan Nio, Oei, Beberapa Catatan Tentang W.P. Groeneveldt : Historical Notes in Indonesia and Malay Compiled from Chinese Sources, Jakarta : Panitia Penyusunan Buku Standard Sejarah Nasional Indonesia, t.t. . Hlm. 14
[11] Utomo, Bambang Budi, Cheng Ho : His Cultural Diplomacy in Palembang,Palembang : Departemen Pendidikan Nasional, 2008. Hlm. 19
[12] Meglio, Rita R., “Arab Trade with Indonesia and Malaya Peninsula.” Dalam Richard D.S. (Ed.),Papers on Islamic History II , Islamic and Trade of Asia : A Calloqium , Bruno Cassier, Oxford : University of Pennsylvania Press, 1970. Hlm. 115
[13] Statistik Pemerintah Kotamadya Palembang, 1990.
[14] Mills, J.V.G.,Ma Huan : Ying Yai Sheng Lan. The Overall Survei of the Ocean’s Shore, Cambridge : Cambridge University Press, 1970. Hlm. 98-99

Recent Posts