Selamat Datang | Selamat datang "Mahasiswa Baru Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 2017" - Selamat Bergabung | Semoga artikel dan isi web HIMAPES Unsri ini dapat memberikan manfaat |17 AGUSTUS 1945-2016 "Perjuangan Bangsa Masih Berlanjut" MERDEKA!!! | Terima kasih sudah mengunjungi web kami | Viva Historia... #noHistory noFuture

Thursday, 8 January 2015

Sejarah Ilmu Pengetahuan: Einsten dan Teorinya

Hidup Dan Karya Einsten

Albert Einsten adalah seorang keturunan Yahudi kelahiran Ulm, sebuah kota kecil di Jerman Selatan, pada 14 Maret 1879. Ibunya adalah seorang terpelajar dari keluarga pedagang jagung dari Stuttgart dan suka bermain biola. Umur ibunya baru 21 tahun ketika Albert lahir. Ayahnya bernama Hermann Einsten, seorang pria ramah suka bergaul, berkumis tebal, suka minum bir dan membaca puisi.
Pada saat Albert lahir, Jerman diperintah oleh seorang tiran, yaitu kanselir Bismarck. Pemerintahnya sangat menekankan keseragaman, sampai-sampai pengemudi taksi pun harus mengenakan seragam. Orang Yahudi merasakan kebebasan hanya pada tahun 1867, dan pada tahun kelahiran Albert, kata "Antisemitisme" pertama kali dalam sebuah artikel majalah jerman
Setahun setelah kelahiran Albert, usaha barang-barang listrik milik ayahnya bangkrut, keluarganya pindah ke daerah pinggiran kota Munich dan tinggal di rumah saudara ayahnya yang bernama Jakob. Di sini Hermann dan Jakob mendirikan sebuah usaha kecil di bidang elektrokimia.
Albert kecil terkenal lamban dan suka berkhayal. Ia menderita karena keadaan keluarganya yang kacau (Para psikolog menyebutnya "a fall from grace", suatu perubahan keadaan yang sebelumnya penuh kejayaan menjadi melarat) dan mempunyai seorang ayah yang gagal. Latar belakang keluarga seperti itu sering mewarnai kehidupan masa kecil para jenius (seperti Beethoven, Shakespeare, dan sebagainya) tak terkecuali si kecil Albert.
Ayah Albert bukanlah seorang yang religius tetapi menganggap dirinya seorang moderat. Itulah sebabnya ia mengirim Albert ke sebuah sekolah katolik, dimana Albert menjadi satu-satunya orang yahudi dalam kelas.

Bersambung...
Disadur dari buku Paul Strathern

Recent Posts