Selamat Datang | Selamat datang "Mahasiswa Baru Pendidikan Sejarah Universitas Sriwijaya 2017" - Selamat Bergabung | Semoga artikel dan isi web HIMAPES Unsri ini dapat memberikan manfaat |17 AGUSTUS 1945-2016 "Perjuangan Bangsa Masih Berlanjut" MERDEKA!!! | Terima kasih sudah mengunjungi web kami | Viva Historia... #noHistory noFuture

Wednesday, 18 March 2020

Kelas Online Mansapa


Kamis, 19 Maret 2020


Mansatu Palembang memperkenalkan kelas online untuk mengatasi proses pembelajaran jarak jauh. Kondisi darurat Pendemi COVID-19 mengharuskan kegiatan KBM di sekolah dipindahkan sementara ke kelas online sebagai langkah preventif pencegahan penyebaran virus corona di tempat umum.

Guru silahkan menggunakan kelas online terbaik yang dapat digunakan untuk mendukung proses KBM. Aplikasi Hi TEach MANSAPA memberikan kesempatan kepada guru untuk menggunakan beberapa jejaring Elearning  untuk mendukung proses KBM.

Update tentang pembelajaran online akan terus di update pada halaman ini, selamat belajar ;)





Ttd Pengembang
gerby novario

Thursday, 5 March 2020

JAINISME: SEJARAH, KONSEP, DAN NILAI-NILAI


JAINISME: SEJARAH, KONSEP, DAN NILAI-NILAI
Oleh: M. Yoga Pratama; Siti Rofiah; Zaza Yulianti Amelia

Sejarah Agama Jain

           
Jain sendiri berarti penaklukan. Yang dimaksutkan penaklukan disini ialah penaklukan kodrat-kodrat syahwati didalam tata hidup manusia. Jain merupakan gerakan revolisioner yang bebas dari kekuatan weda yang merupakan kitab suci umat Hindu dan terbentuk dari karakter umum masyarakat Hindu. Paham jain ini muncul akibat ketakutan umat akan hal reinkarnasi dan menjadikan ajaran sebagai pelarian dari kesialan hidup. Yang berawal dari asketisme dalam hidup karena mereka khawatir akan ada bahaya yang mengancam. Jainisme ini berpegang pada latihan roahani dalam diri yang begitu melelahkan dan control yang sulit. Yang mana poinnya adalah para penganut jainisme ini akan tidak peduli dengan kenikmatan dan penderitaan dunia. Dengan cara menjalankan hidup sebagai biarwan (pendeta) namun bukan Brahma
            Jain muncul sebagai reaksi akibat sikap eksrem Hindu dalam hal pelapisan sosial yang mendeskriminasi atau yang disebut juga sistem kasta. Akibanya, sebagian masyarakatnya digiring dalam konflik antar kasta yang mana mereka akan merasakan kebencian dan kedengkian antara masing-masing kasta mereka. Disini ajaran jainisme akan menyakngkal atau menolak sebagian ajaran Hindu terutama dalam sistem kasta yang dinilai akan mebahayakan kelangsungan kehidupan masyarakat. Seruan untuk membetuk suatu ajaran baru ini mendapatkan respond dan dukungan dari banyak pihak. Namun, pengaruh jainisme ini tidak menyentuh kepada banyak masyarakat dan mereka masih banyak yang menganut ajaran Hindu itu sendiri. Dan jumlah pemeluk jain di India ini hanya berkisaran kurang lebih empat juta jiwa dari seluruh jumlah jiwa yang ada di India.
            Dialah Vadharmana yang menjadi pelopor beridirinya ajaran jaiinisme ini diIindia. Dirinya sering disapa oleh umat Jain dengan sebutan mahavira. Ia lahir dari golongan kesatria yang memegang kekuasaan dan ketentaraan. Mahavira dibesarkan dirumahnya yang penuh dengan dengan kebesaran artinya enuh dengan kemewahan dan kesenangan. Ayahnya adalah seorang anggota tentara. Ayahnya menikah dengan anak ketua majelis Tris Sala sehingga ayahnya memiliki kedudukan yang lebih tinggi dan Mahavira sendiri merupakan anak kedua. Rumah mereka dijadikan sebagai tempat ibadah para pemuka agama karena disana banyak ditemukan hidangan dan mendapatkan sambutan yang hangat. Mahavira mulai senang mendengarkan percakapan antara pemuka agama tersebut dan berharap bisa bergabung dalam percakapan tersebut, namun sayangnya orangtuanya melarang akan hal itu. kamudian ia menguburkan harapan tersebut, namun setelah ayahnya wafat ia kembali ingn mewujudkan harapanyaitu dengan meminta zin kepada kakaknya dan ternyata kakaknya menyetuju akan hal itu.
            Setelah Mahavira mendpatkan izin, kemudian ia mengubah gaya berpakaiannya yang semula berpakaian penuh dengan kemewahan kini berubah menjadi kebh sederhana menyesuaikan dengan para pemuka agama tersebut. Mahavra terus menjalani pelatihan nafsu dan rohani selama 12 tahun bersama para pemuka agama tersebut, hingga menjadi sebgaimana yang diucapkan para pengikutnya bahwa ia tidak peduli dengan rintangan yang dihadapinya walaupun sebarat apapun. Setelah pada sampai tingkat yang diinginkan, mahavira pun beranjak ketingkat yang selanjutnya yaitu mengajak para masyarakat untuk mengikuti ajaranya. Dan akhirnya mendapatkan smabutan dari para penganutnya. Pentingnya ajaran Jainisme ini sebagai gambaran pembelaan kesengsaran dalan kehidupan penganut agama Hindu yang mana adanya sistem kasta membuat ajaran Jainisme penting unutuk menghilangkan sistem kasta tersebut demi terciptanya kebahagiaan dan perdamaian bagi masing-masing jiwa manusia.
Jainisme, merupakan salah satu tradisi keagamaan tertua di dunia yang masih bertahan hingga sekarang ini. Asketisme dan keselamatan bagi segelintir orang merupakan fokus dari agama Jainisme, yang hanya terbatas pada India saja hingga abad ke-19. Etika keagaamaan jainisme menjadi solusi akan masyarakat modern global sekarang ini, yaitu anti kekerasan (ahimsa) dan anti-kepemilikan (Aparigraha) didukung oleh filosofi anti-keberpihakan (anekantavada).
Kitab suci di dalam agama Jain (Siddhanta) itu bermakna: pembahasan. Dan juga bisa disebut dengan nama Agamas yang bermakna: perintah, ajaran, dan bimbingan. Kitab suci Jain berisi sekumpulan 55 khotbah mahavra, beberapa pidato dan wasiat yang berhubungan dengan para murid, pendeta, dan ahli ibadah aliran tersebut. Warisan ini turun-temurun berpindah secara lisan yang baru terkumpul pada abad ke-4.
Secara tradisional Jaina tidaklah vegan, meskipun dalam beberapa tahun ke belakang terdapat peningkatan jumlah Jaina yang vegetarian. Jaina di india tetap meminum susu dan menggunakan produk-produk susu, sebab sapi tidaklah terluka dalam proses pengolahan susu tersebut. Namun, Jaina tidak mengkonsumsi telur.
Terdapat kesamaan antara Jainisme dengan Hindu dan Budha, yaitu prinsip karma sebagai gagasan akan kelahiran kembali atau reinkarnasi. Setiap agama membahas fenomena sebab akibat dari permasalahan hal yang tidak baik menimpa orang yang tidak baik dan hal baik menimpa orang baik. Agama-agama India menjelaskan fenomena ini dalam kajian masa lampau dan masa depan. Kenikmatan dan penderitaan hari ini merupakan hasil dari apa yang kita lakukan di kehidupan sebelumnya. Setiap tindakan menghasilkan konsekuensi, jika tidak di kehidupan sekarang, maka di kehidupan selanjutnya.
Persamaan lainnya terdapat dalam pandangan akan moksa sebagai jalan terbaik dalam terbebas dari siklus kelahiran kembali. Dalam artian lain ialah kebebasan dari ikatan karma, atau nirwana sebagai kondisi dalam keberkatan tanpa akhir. Selain itu seperti Budha namun tidak dengan Hindu, Jainisme menentang gagasan akan Tuhan sebagai pencipta dan juri moral alam semesta. Prinsip karma ‘Hadiah dan Hukuman’ adalah proses yang sepenuhnya impersonal, dan manusia bertanggung jawab akan kenikmatan dan penderitaan nya sendiri. Tidak ada hukum ilahi. Hal ini tergantung pada manusia untuk mengikuti jalan kebebasan sepenuhnya, atau tidak.


KONSEP JIWA dan KARMA


Dalam ajaran Jainisme tidak mengenal dewa-dewa, tetapi sel kehidupan yang bertopeng baik dan bersifat sementara, sedangkan alam semesta yang bersifat material tidak diciptakan dan bersifat abadi. Ada enam unsur pokok yang menyusun alam semesta, yaitu:
1. jiva: Sekumpulan sel kehidupan yang jumlahnya tak terkira. Setiap sel kehidupan tidak diciptakan dan bersifat kekal, oleh pengetahuan alam dikaruniai energi tak terbatas, serta diliputi kebahagiaan penuh. Pada hakikatnya, semua sel kehidupan itu mirip, tetapi melalui aliran unsur penyusun alam semesta yang kedua dan berlawanan (ajiva) memodifikasi, mengurangi, dan menodai kesempurnaan jiva.
2. Ajiva: semua yang bukan sel kehidupan. Ajiva semula merupakan ruang atau wadah yang meliputi semuanya termasuk non-alam semesta, yang terdiri dari unit ruang (pradesa) yang tak terhitung jumlahnya, dan kekal. Disamping ruang, ajiva juga merupakan wujud dari empat unsur pokok penyusun alam semesta.
3. Dharma: media yang melaluinya dimungkinkan adanya gerakan. Dharma sebanding dengan air.
4. Adharma: media yang menyebabkan diam dan imobilitas. Sebanding dengan bumi, dimana makhluk-makhluk berbaring dan berdiri.
5. Kala: media yang memungkinkan perubahan
6. Pudgala: materi yang tersusun dari atom-atom kecil, dilengkapi dengan bau, warna, rasa dan wujud.

Dalam ajaran jainisme terdapat keterkaitan antara jiva dan ajiva, perbudakan merupakan gabungan dari jiva dan ajiva sedangkan keselamatan terjadi karena terpisahnya jiva dan ajiva. Masalah keterkaitan dan terputusnya jiva dan ajiva ini dituangkan dalam konsep tujuh tattva atau prinsip, yaitu:
1. jiva
2. Ajiva
3. Asrava: aliran, dituangkannya materi karma ke dalam sel kehidupan. Hal ini terjadi melalui 42 saluran, diantaranya 5 indera reseptif; 4 nafsu: amarah, sombong, menipu dan rakus; 6 non-nafsu: kegembiraan, kesenangan, kesukaran, kesedihan, ketakutan dan muak.
4. Bandha: perbudakan, belenggu dan mencekik jiva dengan materi karma
5. Samvara: penghentian, menahan aliran materi karma
6. Nirjara: penggantian, eliminasi materi karma dengan cara membersihkan ketegangan, membakarnya dengan panas abadi praktek asketis (tapa)
7. Moksa: pelepasan diri.

Jiva dan ajiva menyusun alam semesta, hal ini dapat dipahami dalam sebuah teks jaina, “Jika keduanya (jiva dan ajiva) berpisah, tidak ada lagi yang diperlukan. Jika keduanya bersatu, seperti yang kita temukan di dunia ini, penghentian dan penghancuran kesatuan keduanya secara bertahap dan kemudian sampai tuntas adalah satu-satunya cara untuk melihat keduanya”.

Menurut ajaran Jainisme, materi karma melekat pada jiva, sebagaiman debu pada tubuh yang diolesi dengan minyak. Atau meliputi dan mewarnai jiwa, seperti panasnya bola besi yang merah membara. Materi karma terdiri dari delapan jenis menurut dampak-dampaknya, yaitu:
1. Karma yang menyelubungi atau menutupi pengetahuan yang benar (jnana-avara-karma).
2. Karma yang menutupi persepsi yang benar (darsana-avarana-karma).
3. Karma yang menciptakan perasaan senang dan tidak senang (vedaniya-karma).
4. Karma yang menyebabkan khayalan dan kebingungan (mohaniya-karma).
5. Karma yang menentukan umur manusia (ayus-karma)
6. Karma yang menentukan individualitas (nama-karma)
7. Karma yang menentukan anak-cucu yang dilahirkan seseorang (gotra-karma)
8. Karma yang menciptakan rintangan dan halangan (antaraya-karma)

FILOSOFI DAN AJARAN

Pokok ajaran agama jainisme Mahavira mengajarkan bahwa kebebasan itu terpendam di dalam diri manusia sendiri. Yaitu: 
1. Kebebasan dari Karma maksudnya adalah yakni sebab-akibat dari tindak laku manusiawi. Dan kaum jain menganggap bahwa setiap orang terikat dengan karma, atas perbuatan jahat yang dilakukan setiap manusia, berbeda dengan agama hindi dan budha yang menganggap bahwa karma itu ada karma baik dan karma buruk, yaitu apabial seseorang meloki perbuatan baik maka ia akan mendapatkan karma yang baik dan sebaliknya. Sedangkan kaum jain, kaum jain hanya memiliki satu karma saja yitu hanya karma buruk saja.
2. Kebebasan dari samsara maksudnya adalah hidup berulang kali kedunia yang semua itu merupakan denta. Kebebasan itu bukan dengan mempersembahkan korban sesewaktu, dan bukan pula dengan mempersembahkan sesajen didepan berhala.

Mahavira menyimpulkan seluruh pokok ajarannya pada Tiga Ratna Jiwa (The Three Jewels of Soul), yaitu:
1.      Pengetahuan yang benar
2.      Kepercayaan yang benar
3.      Tindakan yang benar.
Dalam Jaina sekarang, Mahawira dianggap sebagai pendiri 4 tirtha: rahib Jaina pria, rahib Jaina wanita, penganut bias pria, dan penganut biasa wanita. Dengan demikian membentuk empat rangkap komunitas, yang sering disimbolkan sebagai empat kaki dalam Swastika.



Prinsip moral dasar dari Jainisme terdiri dari lima sumpah. Penganut Jainisme biasa atau dalam artian orang biasa tidaklah diharapkan untuk mengikuti aturan ketat layaknya para rahib atau biksu Jaina, namun mereka tetaplah menggambarkan prinsip moral ideal dalam hidup sesuai dengan apa yang diharuskan secara umum dalam Jainisme. Anuvratas atau sumpah kecil ini ialah sebagai berikut:
1. ahimsa (Non-kekerasan): Menahan diri dari secara langsung dan sengaja mengambil nyawa makhluk hidup
2. Satya (Kejujuran): Mengucapkan kebenaran dan terlibat dalam praktik bisnis jujur
3. Asteya (Tidak Mencuri)
4. Brahmacarya (kemurnian seksual): menahan diri dari melakukan ketidaksetiaan dalam pernikahan dan menghindari hubungan suami istri pra-nikah
5. Aparigraha (Tidak Terikat): Menahan diri dari sikap memiliki dan materialistis.
Rahib atau biksu, baik pria maupun wanita, mengambil versi yang lebih ketat dari lima sumpah tersebut, yang dikenal dengan lima mahabrata atau sumpah agung, yaitu:
1. Prinsip non-kekerasan secara ketat baik dalam pikiran, perbuatan, dan kata-kata, serta menghindar dari mencelakai makhluk hidup secara tidak sengaja
2. Kejujuran absolut
3. Tidak mencuri (secara harafiah tidak mengambil apa yang tidak diberi)
4. Selibat Absolut
5. Non-kepemilikan: Tidak memiliki apapun itu
Dalam Jainvratas hal yang paling penting ialah ahimsa. Hal ini sangat berkaitan dengan karma, baik pikiran, tingkah laku, dan kata-kata yang disengaja untuk melukai makhluk lain pada akhirnya akan kembali pada diri sendiri.
Menurut ilmu pengetahuan kuno, seluruh kosmos itu hidup, dan hukum dasar kehidupannya senantiasa tetap. Oleh karna itu harus mempraktekkan nirkekerasan (ahimsa) sekalipun terhadap makhluk terkecil, bisu, dan tidak memiliki kesadaran. Rahib jaina, misalnya, sebisa mungkin menghindari meremas atau menyentuh atom. Mereka tak bisa berhenti bernafas, tetapi utnuk menghindari perusakan dan meminimalisir dampak udara yang masuk ke kerongkongan, maka harus mengenakan penutup mulut. Jika ada seorang rahib Jaina yang jatuh ke laut, mereka tidak boleh berenang dengan keras dan menghentak ke pantai, tapi harus mengikuti gelombang secara hati-hati dan membiarkan gelombang membawanya perlahan-lahan ke pantai, dalam hal ini agar tidak melukai atau merusak atom air. Dan harus membiarkan air dan embun yang menetes ditubuhnya menguap, tidak boleh menyekat atau mengusapnya dengan kasar.
Kejujuran (Satya) adalah suatu esensi kebajikan Jaina. Keseluruhan dorongan dalam jalan Jaina ialah menuju kesadaran akan sifat sesungguhya dari suatu eksistensi, menyadari sifat sesungguhnya dari jiwa dan mengalami kemurnian ilmu sebagai hasilnya. Ucapan atau tindakan yang dimaksudkan untuk membelokkan kebenaran merupakan suatu keganjilan dengan tujuan fundamental Jainisme. Pun hal ini juga berkaitan dengan sifat buruk lainnya, sebab kebohongan ditujuan untuk akhir yang keji, baik demi keserakahan ataupun suatu hasrat melukai.

Sumpah ketiga, seorang penganut biasa disebabkan karena kewajibannya terkadang diposisikan pada tempat dimana mencuri merupakan jalan alternatif, seperti untuk memberi makan anak mereka yang kelaparan. Berkebalikan dengan para rahib, mereka hanya bertanggung jawab pada diri mereka sendiri, mereka harus menahan lapar daripada mengambil makanan yang tidak diberikan secara cuma-cuma. Menurut perintah dari kitab suci Jaina, mengambil makanan tanpa permisi akan menjadi petunjuk akan suatu ikatan terhadap tubuh fisik.
Sumpah keempat, bagi penganut biasa ialah kesetiaan dalam pernikahan dan sikap selibasi sebelum menikah. Untuk para rahib, ialah selibasi absolut. Peraturan ini bahkan mencakup hubungan kontak fisik yang sangat ketat, bahkan mereka tidak bisa menyentuh buku yang sama yang telah disentuh oleh lawan jenisnya.
Sumpah kelima, bagi penganut biasa menahan diri untuk tidak terlalu terikat dengan kepemilikan duniawi. Mereka biasanya membatasi diri mereka atas seberapa banyak kepemilikan material, seperti rumah, lahan, uang, pakaian, perabotan, dan sebagainya. Aturan pembatasan ini merupakan salah satu dari banyaknya area dimana para penganut biasa mendatangi rahib untuk saran dan masukan. Bagi rahib, isu utama dalam sumpah inilah yang membedakan para rahib dalam aliran Svetembara dan Digambara.
Jaina tidak menganggap bahwa kekuasaan atau penguasaan merupakan hal yang dipaksakan dari atas, melainkan memandangnya sebagai suatu supremasi kepemimpinan yang berdasarkan kearifan. Dalam suatu masyarakat terorganisir dari kepemimpinan berlapis-lapis dimana orang-orang terasosiasi pada setiap lapisan, sehingga bukanlah hanya suatu subjek.
Dalam kalender keagamaan Jain terdapat dua festival, yaitu Diwali dan Paryushan. Diwali ialah festival cahaya, menandai pelepasan (moksha) Mahawira dari siklus kelahiran. Cahaya lampu dimaksudkan untuk menghalau kegelapan setelah kepergian beliau. Paryushan ialah festival ampunan, dimana Jaina berhenti akan penyesalan, puasa dan meditasi.

Ahimsa, Sallekhanā, dan Moksha


Jaina percaya bahwa hanya suatu pengetahuan yang dibersihkan dari amarah, rasa benci, dan hasrat lainnya lah yang dimaksud sebagai pengetahuan sesungguhnya. Amarah mengantarkan pada tindakan gegabah dan cedera, serta hal ini merupakan salah satu dari enam hasrat yang seorang Jaina harus mengontrolnya, termaksud kesombongan, nafsu birahi, ketamakan, tidur, dan perbincangan yang tidak diinginkan. Jainisme menganggap ahimsa sebagai sifat alami psikis manusia, sedangkan himsa tidaklah alamiah.
            Ahimsa dianggap sebagai faktor utama untuk mencapai nirwana. Beberapa bahkan melangkah lebih jauh dengan menganggap ahimsa sebagai diri dalam bentuk murni (jiva), esensi manusia. ahimsa, secara linguisyik terkesan negatif, namun bukan konsep negatif dalam Jainisme. Namun merupakan sikap positif yang ditimbulkan oleh kebajikan positif seperti askarunya (belas kasih), daya (kebaikan), dan kshanti (untuk izin). ahimsa positif disebut abhaya dana (memberikan perlindungan atau perlindungan). ahimsa lebih merupakan keadaan pikiran daripada menghindari tindakan fisik kekerasan. Niatnya lebih penting daripada tindakan aktual itu sendiri. Amritachandra, filsuf Jain menyatakan bahwa bahkan tanpa himsa yang jelas seseorang dapat melakukan himsa secara mental. Keadaan pikiran internal adalah faktor signifikan dalam menentukan himsa dan ahimsa daripada tindakan eksternal.
            Ahimsa yang tidak disengaja tidak bisa mengikat. Kaundakunda, seorang filsuf Jain pada zaman purba, telah menyatakan bahwa bahkan membunuh makhluk hidup pun tidak berdosa jika pelakunya berhati-hati dan pembunuhan itu tidak disengaja. Perhatian penuh adalah sikap kunci untuk menghindari kekerasan karena banyak kekerasan muncul sebagai akibat dari kecerobohan dan kelalaian, dan kelalaian semacam itu patut dicela. Dengan demikian seorang Jain selalu waspada dan berhati-hati untuk tidak melukai makhluk hidup, betapapun kecilnya mereka. Jainisme menetapkan standar yang berbeda untuk orang awam dan pertapa sehubungan dengan kepatuhan terhadap ahimsa. Tidak dapat dihindari bahwa bagi orang awam dalam kehidupan sehari-hari sejumlah kekerasan tidak bisa dihindari; Jainisme mengklasifikasikan kekerasan semacam itu ke dalam berbagai jenis. Udyami adalah kekerasan yang terlibat dalam tugas profesional seseorang. Arambhi adalah kekerasan yang terjadi dalam kegiatan rumah tangga. Dan Virodhi adalah tindakan membela diri, tetangga, atau negara. Jainisme telah membagi makhluk hidup menjadi lima jenis yaitu indera satu (misalnya, sayuran dan tanaman), indera dua (cacing tanah, kerang, dan sejenisnya), indera tiga (seperti kutu, serangga, dan semut), indera empat (nyamuk, lalat, lebah, dll.), dan panca indera (hewan yang lebih besar dan manusia).
            Seorang Jaina juga harus menerapkan ahimsa terhadap semua makhluk. Mereka harus menghindari anggur, daging, madu, dan buah-buahan, yang merupakan tempat berkembang biaknya organisme hidup. Bahkan daging hewan yang telah mati karena sebab alami tidak boleh dimakan, karena tubuh mereka (hewan) dapat menjadi wadah atau repositori bagi berbagai organisme hidup, seperti lalat dan belatung. Berburu, memancing, pembedahan, penggunaan kulit dan bulu binatang dan burung sebagai perhiasan busana, pengorbanan, dan ritual keagamaan lainnya yang melibatkan pembunuhan hewan, bahkan membunuh serangga yang menggangu, hukuman mati - semua ini tidak diperbolehkan. Eutanasia tidak diizinkan. Mengikat hewan dengan sembrono dan rasa marah, memukul, mencambuk, membebani, dan menahan makanan atau minuman binatang pun juga harus dihindari. Secara tradisional di India, seorang Jaina menahan diri dari kegiatan pertanian, karena dalam hal tersebut terdapat tindakan-tindakan yang akan membunuh organisme kecil, seperti membajak. Oleh karena itu seorang Jaina biasanya merupakan industrialis atau penerbit.

            Rahib atau Biksu Jaina, harus mematuhi aturan yang lebih ketat mengenai ahimsa. Mereka diperintahkan mengamati ahimsa bahkan dalam mimpi, serta memperluas tali persahabatan dengan berbagai makhluk hidup dan meninggalkan himsa dalam pikiran, tubuh, ucapan, dan tindakan. Rahib harus mempraktikkan ahimsa kepada semua makhluk hidup, baik yang bergerak, tidak bergerak, kasar maupun halus. Tulisan suci Jaina, Darsha Vaikalika menyatakan ‘‘Seorang biksu (rahib) harus berjalan dengan penuh kesadaran, berdiri dengan penuh perhatian, duduk dan tidur dengan penuh kesadaran. Dengan makan dengan penuh perhatian dan berbicara dengan penuh kesadaran dia tidak terpengaruh oleh perbuatan jahat. ''Biksu itu harus mengambil sumpah, ‘‘Saya melepaskan semua pembunuhan makhluk hidup, baik yang halus atau kasar, bergerak atau diam. Saya juga tidak akan membunuh makhluk hidup, atau menyebabkan orang lain melakukannya, atau memberikan persetujuan saya untuk melakukan tindakan seperti itu”.
            Secara umum, penganut Jaina biasa tidaklah seperti seorang rahib atau biksu yang menghindari penghancuran atau pembunuhan terhadap mikroba atau makhluk hidup sekecil apapun itu, namun yang jadi batasan dalam Jainisme bagi penganut biasa adalah maksud atau tujuan. Setiap orang mengetahui bahwa dalam kehidupan sehari-hari terdapat penghancuran kehidupan makhluk hidup skala kecil, namun tidaklah dengan sengaja atu berkeinginan untuk melakukannya. Hal ini bukanlah hanya sekedar mengenai tingkah laku saja, namun merupakan penanaman suatu sikap untuk tidak melukai terhadap semua makhluk hidup.
Sallekhana biasanya dilakukan oleh rahib, baik perempuan dan laki-laki, dan beberapa penganut biasa, sebagai bentuk puncak dari ahimsa dan aparigraha.
Bagi Jaina, praktisi ini bukanlah suatu bentuk bunuh diri. Hal ini tidaklah dilakukan karena hasrat atau kesedihan atau amarah, namun hanya bisa dilakukan dengan izin dari pengarah spiritual, guru. Tugas guru adalah memastikan bahwa motivasi seseorang yang menjalani puasa ini ialah murni, melakukannya dengan perasaan terlepas dari tubuh dan karena belas kasihan kepada semua makhluk hidup, seseorang akan selamat dengan tidak terus makan, bernapas, dan mengonsumsi sumber daya.Suatu kematian suci dianggap memiliki kapasitas luar biasa untuk mendorong jiwa menuju jalan pembebasan, dan hanya mungkin bagi individu yang menyempurnakan belas kasih dan kearifannya pada taraf dimana mereka lebih memilih mati dibanding menyebabkan penderitaan bagi makhluk hidup sekecil apapun itu.
JAINISME DAN DUNIA
            Modernisme jain membangun dirinya sebagai suatu bentuk alternatif dari modernitas. Jainisme menawarkan bentuk akan gaya hidup yang lebih baik, menggabungkan dengan sains dan etika dibawah nilai-nilai universal yang dapat diterima yaitu Non-kekerasan dan Non-keberpihakan.
Penekanan dalam ahimsa dan penghargaan terhadap setiap makhluk bahkan mikroorganisme memiliki relevansi yang sangat luar biasa terhadap isu-isu kontemporer seperti perang dan degradasi lingkungan.
Penganut Jainisme dan dunia berbagi akan suatu perhatian yang sama dalam permasalahan global dan memiliki kesamaan dalam visi dalam mengatasnya, yaitu: a. Pembangunan diri dengan mengubah gaya hidup, seperti vegetarianisme untuk kesehatan dan nutrisi, berpuasa, meditasi, dan sebagainya. B. Pembangunan berkelanjutan berdasarkan ketahanan diri. C. Etika Non-kekerasan dan inisiatif perdamaian dunia. Dan d. Hak Hewan dan Ekologi.



REFERENSI

Buku
Flügel, Peter. 2012. 'Jainism.' dalam: Anheier,          Helmut K and Juergensmeyer,           Mark. Encyclopedia of Global Studies.       Vol. 3. Thousand Oakes: Sage, hal. 975-979.
Long, Jeffery D. 2009. Jainism: An    Introduction. New York: I.B. Tauris &             Co Ltd.
Zimmer, Heinrich dan Cambel, Joseph. 2003.          Sejarah Filsafat India. Yogyakarta:    Pustaka Belajar.
Gabriel, Theodore dan Kurtz, Lester R. 2008.           Ethical and Religious Traditions,             Eastern. Encyclopedia of Violence,    Peace, & Conflict second edition.      Academic Press, pp.696-707.
Roziqin, Ahmad Khoirul dan Nugraha,           Kurniawan. 2013. Agama Jain. Jakarta:        UIN Syarif Hidayatullah.

Artikel jurnal
Roziqun, Ahmad Khoirun dan Nugraha,        kurniawan.      2013.Agama   Jain.Universitas Islam Negeri             Syarif               Hidayatullah

Rosyada, Dede. 2017. Pengertian Agama. UIN        Syarif Hidayatullah Jakarta.                Tangerang Selatan.
Jainism.United Kingdom: Victoria and Albert      Museum http://www.vam.ac.uk/content/articles/j/jainism/ diakses pada 22 November 2019
World Civilization: Ch. 6 Early Civilizations in the Indian Subcontinent: Jainism. Open Education Resources Lumen Learning. New York: The State University of New York

Recent Posts